Budaya Kareku Kandei dan Boe Katongga Dilestarikan

Budaya Kareku Kandei dan Boe Katongga DilestarikanReviewed by adminon.This Is Article AboutBudaya Kareku Kandei dan Boe Katongga DilestarikanDOMPU—Kareku Kandei dan Boe Katongga merupakan budaya masyarakat Dompu – Bima (Suku Mbojo). Budaya ini akan terus diletarikan. ‘’Budaya ini tidak hanya akan ditampilkan pada acara resmi. Namun saat acara lainnya juga akan ditampilkan,” ungkap Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu, Syamsul Huriah, S.Sos. Dijelaskan, kereku kandai dimainkan beberapa orang perempuan. Mereka memukul lesung […]
Budaya Kareku Kandei milik masyarakat Dompu. (foto: youtube)

DOMPU—Kareku Kandei dan Boe Katongga merupakan budaya masyarakat Dompu – Bima (Suku Mbojo). Budaya ini akan terus diletarikan.

‘’Budaya ini tidak hanya akan ditampilkan pada acara resmi. Namun saat acara lainnya juga akan ditampilkan,” ungkap Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu, Syamsul Huriah, S.Sos.

Dijelaskan, kereku kandai dimainkan beberapa orang perempuan. Mereka memukul lesung (wadah padi) kosong yang terbuat dari batang pohon dengan alat pukul sebilan bambu atau dalam masyarakat Bima-Dompu disebut alu.

‘’Keunikan dari tradisi kareku kandei, terletak pada bunyi pukulan yang keluar dari lesung. Kostum yang di gunakan para pemukul yaitu Tembe Ngoli,” tuturnya,

Kata dia, bagi masyarakat dua kabupaten, Tembe Nggoli memiliki serat makna. Karena nilai budaya yang sangat tinggi. Kini terus mengakar dari generasi ke generasi lainya. ‘’Kain tenun Tembe Nggoli ini juga memiliki ciri khas tersendiri ,mulai dari cara pembuatannya hingga cara pemakainnya,” ungkapnya.

Hingga saat ini lanjutnya, tradisi Kareku Kandei masih di pertahankan sebagian masyarakat Dompu. ‘’Selain sebagian tugas khusus bagi wanita, Kareku Kandei sebagai bukti kebersamaan perempuan tetap terjaga,” katanya.

Sementara itu, Katongga merupakan alat yang di pukul untuk mempertandakan tentang kejadian-kejadian tertentu baik Sosial ataupun Pemerintah.

Katongga terbuat dari bahan kayu atau bambu dengan membuat celah ditengah dengan kedalaman tertentu. Sehingga menghasilkan suara. ‘’Katongga dipukul dengan kayu kecil seukuran jari telunjuk,” jelasnya.

Dikisahkan, pada zaman dulu Katongga dijadikan sarana informasi untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada masyarakat. Acara pernikahan, kematian, himbauan. hal-hal lain yang ingin disampaikan swapraja dapat di lakukan dengan katongga dengan nada-nada tertentu.

‘’Nada-nada Katongga telah disepakati dan diketahui secara luas. Sehingga ketika masyarakat mendengar bunyi katongga maka masyarakat akan merespon dengan cepat,” ujarnya.

Dalam perkembangan Katongga juga dijadikan sebagai Alat Musik tradisional yang di pandukan dengan Genda, Gong, Gambo dan Sarune. Sehingga menghasilkan Variasi music yang menarik. (di)