Zul Rohmi : Pertaruhan Prestise dan Truff Politik TGB (Bagian 2)

Zul Rohmi : Pertaruhan Prestise dan Truff Politik TGB (Bagian 2)
Foto : Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto

*Mesin Partai dan Relawan*

Selanjutnya Direktur Mi6 minta agar paket Zul Rohmi sebagai anti tesa politik perlu menyakinkan ke publik yang masih meragukan ikhtiar dan kapasitasnya bisa menandingi kekuatan tiga jawara politik tersebut. “Di kalangan kelas menengah lebih mudah diyakinkan persepsinya, tapi untuk masyarakat jelata perlu dibangun solidaritas dan empati sosial. Dan ini perlu pendekatan ekstra ordinary,” tandas Didu

Dalam pandangan Mi6, Belajar dari kemenangan TGB dalam pilkada 2008 silam yang menjadi paslon tak diunggulkan dibanding incumbent saat itu. Diprediksi Zul Rohmi diarahkan seperti nostalgia politik TGB tahun 2008 yang berakhir dengan Happy ending tersebut. “Saat itu di PilGub NTB tahun 2008, publik cenderung tidak mengunggulkan pasangan TGB Badrun Munir melawan incumbent paslon Serinata Husni Jibril yang berakhir dengan kemenangan telak TGB BAM itu ,” ungkap didu .

Sebagai sutradara politik , lanjut Didu , Gerakan dan manuver Zul Rohmi mirip dengan apa yg dilakukan TGB dulu yaitu mengandalkan kecepatan gerak dalam melakukan penetrasi step by step pada semua lini dan titik konsentrasi pemilih . Ciri lainnya adalah Zul Rohmi cenderung menguasai kantong kantong pemilih dipinggiran atau akar rumput.” Ini kemudian yang membentuk jaring jaring pemilih yg terintegrasi satu sama lain pada setiap kontak person diwilayah yang membentang dari Mataram s.d bima ,” Lanjutnya.

Lebih jauh Didu mengulas peran partai dan Relawan Zul Rohmi perlu di atensi dan di apresiasi dalam mendongkrak elektabilitas Zul Rohmi.” Mereka adalah garda terdepan Zul Rohmi yang membukakan semua akses masuk Zul Rohmi ke kantong pemilih yang strategis”, kata Didu.

Didu memprediksi paska penetapan Paslon oleh KPU NTB tanggal 12 Februari 2018 mendatang bisa jadi konstelasi PilGub NTB lebih dinamis. Hal ini terkait Paslon PilGub NTB akan melepaskan semua atribut yang melekat pada dirinya, baik sebagai bupati, walikota dan anggota parlemen. ” justru disini menariknya konstestasi PilGub NTB, ketika semua Paslon tersebut bertarung apa adanya,” lanjutnya.

Terakhir lanjut Didu, peta politik pilkada serentak di NTB juga menyulitkan Paslon dan parpol untuk melakukan sinergitas kerja tim dibasis pemilih terkait tidak liniernya koalisi Paslon di propinsi dan kabupaten/kota.” Ini tentunya secara psikologis politik akan berdampak pada kekompakan kerja teamwork jika tidak saling menjaga kepercayaan”, pungkasnya. (IBA)

*Bambang Mei Finarwanto Direktur Mi6