Lisensi Politik TGB

Lisensi Politik TGB
Foto : Anggota Dewan Pembina Lembaga Riset Sosial, Politik, dan Agama (Larispa Nusantara) M Zakiy Mubarok

Oleh : M. Zakiy Mubarok*

Dakwah keliling nusantara Gubernur NTB, HM Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) makin menarik perhatian publik. Nyaris setiap pekan TGB hadir memenuhi undangan masyarakat yang antusias ingin mendengarkan tausiyahnya. Undangan itu, datang dari seluruh Indonesia.

“Apa yang saya lakukan ini, murni untuk dakwah,” kata TGB kepada sebuah media belum lama ini. TGB sangat menyadari, peran kesejarahan yang harus dilakukannya sebagai Tuan Guru adalah berdakwah mengajak bersama-sama menjaga kesalehan pribadi sekaligus merawat kesalehan sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Belakangan, masyarakat atau jamaah yang pernah mengundangnya, menaruh harapan lain pada TGB selain berdakwah. Harapan agar TGB bersedia mengisi ruang alternatif kepemimpinan bangsa. Awalnya harapan itu hanya sebatas wacana. Tapi akhir-akhir ini wacana itu bertransformasi menjadi sebuah gerakan. Itulah yang terjadi baru-baru ini ketika masyarakat mendeklarasikan TGB untuk memimpin Indonesia. Gerakan ini bak bola salju menggelinding tidak terbendung.

Hadirnya TGB dalam lanskap dinamika kepemimpinan bangsa hari-hari ini, secara tidak langsung telah membuka dan menambah ruang partisipasi politik warga untuk bicara, bersuara, dan bersikap. Bisa jadi, karena melihat TGB sebagai sosok alternatif dan dianggap mampu mewakili aspirasi, kepentingan, keinginan dan harapan, mereka yang selama ini -mungkin- belum terwakili oleh nama-nama lainnya.

Harus diakui, saat ini TGB sudah memegang “lisensi” sebagai sosok ‘ulama yang umara’ atau ‘umara yang ulama’. Sebab itu, tak perlu heran jika TGB kemudian dilihat mampu merepresentasikan suara kaum santri dan ummat Islam pada umumnya. Gagasan politik identitas ini pun pada akhirnya agak berhasil memecah gelombang politik identitas yang berdasarkan kedaerahan yang berkembang selama ini.

Di saat yang bersamaan, TGB juga kerap menawarkan gagasan tentang keindonesiaan dan kebangsaan. Dalam pandangannya, kemajemukan adalah modal sosial untuk kemajuan bangsa Indonesia. Sama halnya ketika TGB memberikan pandangan tentang kaum muda. TGB optimis, kaum muda bukanlah sumber masalah, tapi sumber potensi kemajuan bangsa.

Apapun itu, yang pasti kehadiran TGB telah menambah referensi politik dan diskusi tentang kepemimpinan nasional. Pengamat dan praktisi politik menjadi lebih kaya variabel dan luas spektrum analisisnya. Di titik ini, TGB adalah inspirasi tidak hanya di aras praktik, tapi juga di ruang wacana politik.

*M. Zakiy Mubarok Anggota Dewan Pembina Lembaga Riset Sosial, Politik, dan Agama (LARISPA NUSANTARA)

Editor : Ibrahim Bram Abdollah