‘Cou Si Nami Ake’, Satire Perlawanan Kaum Pinggir

‘Cou Si Nami Ake’, Satire Perlawanan Kaum PinggirReviewed by adminon.This Is Article About‘Cou Si Nami Ake’, Satire Perlawanan Kaum PinggirOleh: Muhammad Isnaini* Banyak cara yang dilakukan oleh seseorang maupun rakyat dalam melakukan perlawanan, termasuk dengan kata. Kata bahkan menjadi lebih dahsyat dari tindakan jika tepat digunakan. Tidak jarang, karena kata perubahan besar dan atau kekuasaan zalim, tamak, serakah, mementingkan diri sendiri, tanpa mempedulikan rakyat tumbang begitu saja. Indonesia itu merdeka karena kata dan kata […]
Muhammad Isnaini AR, Direktur Eksekutif INDeP (Independent Democracy Policy)

Oleh: Muhammad Isnaini*

Banyak cara yang dilakukan oleh seseorang maupun rakyat dalam melakukan perlawanan, termasuk dengan kata. Kata bahkan menjadi lebih dahsyat dari tindakan jika tepat digunakan. Tidak jarang, karena kata perubahan besar dan atau kekuasaan zalim, tamak, serakah, mementingkan diri sendiri, tanpa mempedulikan rakyat tumbang begitu saja. Indonesia itu merdeka karena kata dan kata membangkitkan aksi. Tak heran sang Founding Father Bangsa dikatakan sebagai seorang singa podium. Melawan dengan kata.

Dalam Islam, sifat rendah hati sangat dianjurkan sebagai wujud dari tidak menyombongkan diri sendiri dan selalu menganggap orang lain hebat dan terhormat dari dirinya. Rendah hati juga dikenal sebagai kata lain dari tawadhu. Dan umat islam harus memiliki sifat demikian.

‘Cou Si Nami Ake’ merupakan bahasa Bima yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia memiliki makna kurang lebih ‘siapa sih kami ini’. Ini diucapkan sebagai bentuk rendah hati bahwa dia bukan siapa-siapa dihadapan orang lain. Kata ini berbeda dengan rendah diri atau minder yang malah dilarang dalam Islam.

Belakangan, kata cou sih nami ake menjadi kata yang memehuni beranda media sosial bahkan merambah ke dunia nyata. Kata yang awalnya lelucon menjadi kata dengan makna filosofis tinggi.

Cou sih nami ake, yang awalnya hanya sebuah lelucon terpilih menjadi narasi untuk mewakili kosa kata sindiran terhadap penguasa. Dia merambah menjadi kosa kata perlawanan. Dia diucapkan ketika seolah penguasa tidak hadir memenuhi hajat hidup rakyat.

Kesenjangan pola prilaku dan kehidupan penguasa dengan rakyat diucapkan melalui kata sederhana cou sih nami ake. Tuli dan butanya penguasa atas teriakan tuntutan kesejahteraan dan keadilan dari rakyat hanya cukup dengan kata cou sih nami ake, terpenuhi.

Ada aura mistik, cou sih nami ake bisa menghadirkan dirinya sebagai lelucon dan juga menjadikan dirinya sebagai tamparan keras untuk penguasa.

Cou sih nami ake, rakyat jelata pa wau ondo ku bune ngomi doho ra biayain mu APBD dan CSR (Siapa sih kami ini, hanya rakyat jelata bukan seperti kalian yang ditanggung oleh APBD dan CSR) salah satu contoh penggunaan kata sebagai bentuk protes terhadap APBD yang tidak pro rakyat dan ketidakterbukaan penggunaan dana CSR sehingga rakyat beranggapan bahwa CSR hanya dinikmati oleh segelintir penguasa.

Lalu contoh lain misalnya, cou sih nami ake mai sa ura de ede para doho mu ka tere toko (siapa sih kami ini, kalau datang hujan pasti akan berteduh dikolong atap toko orang) merupakan sindiran terhadap para penguasa yang begitu nyaman menggunakan fasilitas negara tanpa peduli bagaimana kesejahteraan rakyat. Kata ini juga bisa mewakili sebuah protes atas pembelian kendaraan dinas para penguasa dengan harga fantastik padahal di desa-desa begitu banyak rakyat yang hanya untuk memenuhi makan sekali sehari saja sangat sulit.

Kata cou sih nami ake memang diucapkan dengan guyonan tapi mampu mewakili narasi perlawanan para kaum pinggir. Merangkum seluruh narasi perlawanan yang cukup kompleks menjadi sangat sederhana dan padat ‘cou sih nami ake’.

Para oposisi tidak lagi perlu lelah menyusun kosa kata panjang, cukup mengucapkan cou si nami ake maka bisa terwakil perlawanannya terhadap penguasa.

Lalu jika cou sih nami ake adalah bentuk rendah hati lalu apa kaitannya dengan kata perlawanan? Inilah menariknya, sisi mistik yang saya katakan tadi. Sesuatu yang mistik tidak perlu dijelaskan secara gamblang, cukup kita serius menyelami maka kita akan menemukan jawabannya dan jawaban hubungan kata tersebut secara mistik udah tergambar dalam beberapa paragraf diatas.

Itulah seyogyanya satire, diucapkan dengan humor serta sangat ringan, untuk memahaminya membutuhkan kecerdasan tersendiri terlebih dalam konteks politik kontomporer atau isu-isu aktual.

Dan kini, perlawanan itu telah diucapkan dengan satire “cou sih nami ake”.

*Penulis adalah  Direktur Eksekutif INDeP (Independent Democracy Policy)