Akhir Drama Strategi Pemenangan Pilkada Bima 2020

Akhir Drama Strategi Pemenangan Pilkada Bima 2020Reviewed by adminon.This Is Article AboutAkhir Drama Strategi Pemenangan Pilkada Bima 2020Laporan Investigasi oleh: Gatot Kaca* Tahun 2020 ini kembali akan dihelat Pilkada (pemilihan kepala daerah) secara serentak di seluruh Indonesia, sebanyak 270 daerah setidaknya akan menggelar Pilkada. Berdasarkan informasi dan data yang dihimpun dari situs Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri) dan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) pelaksanaan Pilkada kini persiapannya sudah memasuki […]
Tangan seorang pemain catur tengah memainkan mamainkan peran menghabisi lawannya (istimewa)

Laporan Investigasi oleh: Gatot Kaca*

Tahun 2020 ini kembali akan dihelat Pilkada (pemilihan kepala daerah) secara serentak di seluruh Indonesia, sebanyak 270 daerah setidaknya akan menggelar Pilkada. Berdasarkan informasi dan data yang dihimpun dari situs Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri) dan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) pelaksanaan Pilkada kini persiapannya sudah memasuki tahapan akhir seleksi perekrutan tenaga penyelenggara di tingkatan desa dan kelurahan sebagai bagian dari seluruh rangkaian tahapan yang telah disusun.

Kabupaten Bima NTB adalah salah satu di antara daerah yang akan menyelenggarakan pesta demokrasi 5 tahunan tersebut dalam beberapa waktu terakhir ini dipantau melalui ruang-ruang publik baik disudut-sudut kota hingga ketingkat desa maupun melalui pemberitaan media online dan media sosial lainnya telah dihiasi oleh beragam foto baliho serta berita-berita seputaran diskusi mengenai peluang dan tantangan figur-figur bakal calon bupati dan bakal calon wakil bupati Bima tahun 2020-2025 yang akan datang yang diprediksi bakal berlaga dalam kontestasi Pilkada.

Suhu dan dinamika politik Pilkada tahun 2020 ini terasa sekali hawanya sangat tinggi dan berbeda dengan perhelatan masa Pilkada 5 tahun atau 2015 yang silam. Hal ini setidaknya tidak terlepas dari beberapa variabel, antara lain, Pertama: perubahan paradigma ditengah masyarakat Bima dalam artian besarnya kehendak dan harapan Pilkada mampu melahirkan pemerintahan yang memberikan jawaban atau solusi dalam hal kesejahteraan.

Kedua, kemunculan figur dan nama-nama baru dalam panggung politik Pilkada Bima dan Ketiga, Posisi petahana dan desain dinasty politik klan keluarga bekas keturunan kesultanan Bima.

Selain ketiga variabel di atas, dipengaruhi pula oleh geo politik regional NTB dimana posisi Gubernur NTB, Dr. Zulkifliemansyah yang berasal dari Kabupaten Sumbawa bagaimanapun merasa berkepentingan untuk menjaga basis dukungan masyarakat dari daerah atau Pulau Sumbawa dengan turut menyiapkan diri untuk hajat melanjutkan masa kepemimpinan periode kedua pada Pilgub NTB tahun 2023 juga terkait agenda nasional pemilu serentak tahun 2024 yang akan datang tidaklah terlepas dan bahkan terhubung satu sama lainnya.

Mengamati dinamika yang berkembang jelang Pilkada Bima setidaknya terdapat beberapa analisis peta politik berdasarkan kekuatan politik yang telah disinggung dari variabel-variabel diatas.

Secara umum, gambaran atau peta politik Pilkada Bima sesungguhnya telah tersaji akan tetapi membacanya memerlukan serangkaian kerja intelejen atau kegiatan investigasi dengan menghimpun data dan informasi serta pengamatan dan juga ketelatenan mengikuti potongan-potongan peristiwa yang mengelilingi proses Pilkada.

Oleh karenanya, dapatlah disimpulkan hanyalah pihak-pihak yang berkepentingan atau bersinggungan secara langsung dan atau bahkan menjadi pelaku didalam seluruh rangkaian kegiatan Pilkada yang lebih mendekati ketepatan dari sebuah kesimpulan sementara mengenai apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Dalam bahasa sederhananya adalah sebuah skenario politik. Skenario politik apakah itu?

Mari kita pertajam nalar dan mereview potongan-potongan peristiwanya hingga membentuk puzle agar dapat membaca dengan gamblang skenario apa yang sedang dipergunakan sekarang ini.

Peta politik Pilkada Bima tahun 2020 ini selain menampilkan kembali figur-figur lama yang berdomisili di wilayah Kota dan Kabupaten Bima seperti Indah Damayanti Putri (IDP), H. Syafrudin HM. Nur (H. Syafru), Ady Mahyudi (Aba Ady), Dahlan M. Nur (Baba Leo), Dokter Irfan juga kemunculan nama-nama baru yang berdomisili diluar Bima atau di Jabodetabek seperti Nimran Abdurahman (Dou Ndai) dan Herman Alfa Edison Missa (HAEM) yang turut membuat riuh dan membawa angin perubahan dalam dinamika Pilkada menjadi lebih hidup dan dinamis bila dibandingkan dengan Pilkada 5 tahun yang lalu.

Dalam Pilkada 5 tahun yang lalu, proses pembentukan skema koalisi parpol pengusung dan pasangan bakal calon relatif lebih mudah dalam artian secara waktu maupun rancang bangun serta simulasi pasangan bakal calon terasa lebih cepat mengkristal. Namun dalam Pilkada tahun 2020 ini justru berliku dan dirancang benar-benar dengan penuh perhitungan atau kalkulasi yang matang untuk tidak mau menyebut sempurna. Kenapa? Jawabnya ada pada variabel-variabel yg dikemukakanan diatas.

Kini mari kita membuat peta yang sesungguhnya dari apa yang telah disajikan diruang publik dalam beberapa waktu terakhir ini.

Skenario IDP 2 Periode

Pertama-tama, adalah sebuah kelaziman pada setiap kontestasi Pilkada, Pilgub maupun Pilpres setiap incumbent atau petahana menyiapkan strategi pemenangan terbaik guna menjamin keterpilihannya kembali untuk periode kedua.

Strategi Tarik Ulur Pasangan Calon Pendamping IDP

Semenjak proses pendaftaran bakal calon bupati dan bakal calon wakil bupati dibuka dimasing-masing partai politik yang memiliki kursi di DPRD Kabupaten Bima hingga batas akhir masa pendaftaran dari nama-nama figur bakal calon hanyalah IDP yang hingga kini belum menfinalkan akan berpasangan dengan siapa. Tentu saja yang lain pun sama dengan juga kan? Itu bagian pelengkap skenario saja.

Menggantung Dahlan dan Strategi PHP

Langkah ini dimulainya dari pembukaan masa pendaftaran bakal calon wakil IDP di Partai Golkar pada sekitar pertengahan November 2019 dan berakhir ketika terjaringnya sejumlah nama-nama kurang lebih berjumlah 6 orang. Namun tadinya 8 orang akan tetapi dalam bulan Desember 2 nama yaitu H. Syafru dan Ady Mahyudin mencabut berkas pendaftaran di Partai Golkar.

Yang menarik dicermati disini adalah strategi menggantung Baba Leo dan nama-nama lainnya. Sekalipun baliho atau alat peraga kampanye IDP berjibun dan menghiasi sudut-sudut dusun tapi tidak ada satupun perpampang wajah IDP bersama dengan calon pasangan wakilnya. Malah yang marak adalah baliho wajah IDP bagaikan seorang ratu yang angkuh lalu di bawahnya berderet 6 orang laki-laki sebagai bakal calon pasangan wakilnya.

Pertanda apakah itu?, adakah sinyal tertentu yang hendak disampaikan sekaligus kesan yang mesti disembunyikan dari kejadian tersebut? Masyarakat luas tentu bisa menilai dan membuat spekulasi yang beragam. Dan disitulah tujuannya, mengaburkan skenario besar yang sedang dijalankan. Keren kan?

Strategi Mencari Figur Penantang Terlemah

Ini adalah grand skenario yang dilakukan dengan penuh perhitungan yang sempurna. Sebagai incumbent, maka IDP memerlukan opsi dan memilih sebuah opsi yang dianggap paling tepat yaitu mencari penantang terlemah yang paling mudah dikalahkan tidak soal bila IPD berpasangan dengan ‘Sandal Jepit’ sekalipun seperti sesumbar para pendukungnya yang ramai dimedia sosial.

Siapakah “pengantin” alias figur yang dimaksud? Dan pilihannya adalah figur yang pernah dia kalahkan dalam musim Pilkada tahun 2015, sang petahana pada waktu itu adalah bernama H. Syafru. Lho kok H. Syafru? H. Syafru dipandang sebagai ‘tokoh politik’ lokal yang tidak beruntung dalam konteks kontestasi politik setidaknya karena mengalami beberapa kali kegagalan, pertama saat sebagai petahana dengan mudah dikalahkan oleh figur perempuan yang hanya (maaf seorang janda dan berijazah paket C dengan skor yang telak).

Kedua, H. Syafru gagal meraup simpati rakyat untuk meloloskan dirinya sebagai anggota DPR RI saat maju sebagai Caleg dari Partai Nasdem dapil NTB 1 atau Pulau Sumbawa, ketiga H. Syafru dianggap telah selesai karier politiknya karena issu miring dan dikenal luas sebagai figur tokoh yang pelit alias bakhil bin medit sejagat Bima Raya. Demikianlah alasan pemilihan nama figur penantang dari sosok ini, menurut ahli pikir dikubu IDP.

Strategi Buih Ombak

Setelah terpilih figur penantang terlemah maka strategi berikutnya adalah cipta kondisi dan pembuatan opini publik pun dilakukan. Melalui apa, nah ini kerjaan para ahli riset dan juru survei. Pertama-tama yang dilakukan adalah membuat H. Syafru dan sisa-sisa pendukung fanatiknya seolah-olah super hero dan figur yang dibutuhkan untuk kembali turun gunung mengurus nasib rakyat yang dalam 5 tahun kepemimpinan IDP dinilai gagal mensejahterakan rakyat dengan berbagai indikator bla bla bla.

Guna memuluskan rencana ini maka digunakanlah periset atau lembaga survei yang akan membentuk anggapan masyarakat sebanyak-banyaknya agar percaya bahwa mengenai figur tersebut memiliki tingkat popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas tertinggi dari sekian figur atau nama-nama lainnya.

Mau bukti? Berikut adalah hasil survei pesanan untuk memuluskan skenario utama tersebut, yaitu pertama survei lembaga poltracking periode Desember 2019 sd Januari 2020 dengan elektabilitas H. Syafru 23%, kedua survei Sinergi Data Indonesia periode Januari sd Februari 2020 sebesar 15%. Disamping itu, dipasanglah beberapa orang kedalam tim H. Syafru yang tugasnya bersorak yel yel H. Syafru. Seolah penyemangat atau cheerleader seperti yang lazim dalam perlombaan atau sebuah turnamen olah raga.

Mereka-mereka diberi peran yang berbeda-beda, ada yang sebagai penyerang dan pembisik dan ada juga yang berperan sebagai penyedia alat peraga kampanye dan seterusnya. Namun lebih banyaknya asal dukung kerena euforia seolah-seolah kemenangan sudah didepan mata padahal jadwal masuk gelanggang masih entah dimana jauhnya seperti halnya ungkapan Belanda masih jauh bung. Strategi yang apik dan sempurna. Luar biasa, sementara nampak berhasil.

Strategi Jebakan Batman untuk Ady Mahyudi

Seiring dengan perjalanan waktu dan kebutuhan pemenangan, tim ahli dari IDP juga mulai mencarikan calon pasangan wakil bagi H. Syafru. Tim ini paham betul bahwa pendukung H. Syafru dan Ady Mahyudi punya kemampuan menghitung yang bagus dalam hal hitungan-hitungan politik.

Mereka yakin sekali bahwa pemilih H. Syafru dan Ady Mahyudi pada Pilkada 2015 yang lalu apabila dijumlahkan maka hasilnya lebih dari 50% dukungan sudah pasti dikantongi oleh kedua figur ini apabila keduanya dipasangkan dalam satu paket Syafru Ady yang belakangan beken dengan sebutan SYAFAAD. Hm hmm. Memang dahsyat dah alat hitung yang dipergunakan pendukung H. Syafru Ady Mahyudi gumam tim ahli IDP berdecak kagum.

Harus diakui bahwa sosok Ady Mahyudi memiliki daya tarik sekuat magnet berskala besar dalam pandangan masyarakat Bima. Dia adalah figur yang berpengalaman dan memiliki jejak rekam panjang sebagai politisi. Dan tentu saja menjadi ancaman besar bagi petahana dengan mimpi atau cita-cita politiknya yang hendak membangun dinasti politik khususnya bagi anak semata wayangnya buah dari pernikahan dengan alm. Fery Zulkarnain yang bertrahkan bekas klan istana alias kesultanan Bima yang kini sedang dipersiapkan sebagai penerus dan menduduki kursi Ketua DPRD Kabupaten Bima. Maka apapun caranya ancaman besar tersebut haruslah “dihabisi” bila perlu sampai keakar-akarnya.

Sah dan halal langkah antisipasi tersebut dalam rumus politik yang tidak mengenal belas kasihan. Itung-itung satu kali tembakan dua musuh tumbang sekaligus.
Lho kok bisa?. Bukankah secara kalkulasi berdasarkan data di atas kertas sesuai survei kedua figur tersebut berpeluang menang? Inilah anggapan umum orang-orang yang tidak mampu membaca peta dari sebuah skenario besar yang telah dijalankan untuk IDP melenggang dengan mulus memenangi Pilkada menuju 2 periode.

Skema Pasangan Sebenarnya

Mari kita bongkar bersama skenario besar mereka. Berhubung karena Pilkada telah jauh melibatkan para ahli yang mengatur irama dari jauh maka tentu saja pihak-pihak lain yang tentu saja juga memiliki kepentingan dengan sumringah ikut tertantang dan masuk pada hajatan dan perhelatan Pilkada Bima dengan ikut mengamati secara serius skenario politik yang dijalankan. Dan pada bagian inilah hendak membuka mata publik atau masyarakat Bima mengenai apa dan bagaimana dinamika yang kini sedang berkembang di Bima.

Figur H. Syafruddin

Sekuat itukah sosok H. Syafru yang sesungguh? Nanti dulu, jangan langsung termakan opini yang sudah direkayasa sedemikian hingga sebelum kita buka dan ungkapkan data pembandingnya berdasarkan informasi dan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara metodelogi keilmuan.

Hasil beberapa lembaga survei independen,
Pertama adalah survei internal Partai Nasdem hanya menempatkan elektabilitas H. Syafruddin sebesar 1,3 % dan konon inilah dan penyebab partai asal H. Syafru sendiri bahkan dia pernah menjadi Ketuanya tersebut enggan memberikan dukungan dan bahkan sebaliknya menunjukan gejala mengarahkan dukungan politik pada IPD. Kedua hasil survei terbaru yang direlease secara luas oleh lembaga survei Indo Data lagi-lagi menempatkan elektabilitas H. Syafruddin yang amat rendah yaitu diangka 1,25%.

Kedua lembaga independen tersebut seolah hendak mengonfirmasi fakta yang sesungguhnya pada pelaksanaan Pileg 2019 yang lalu yang menempatkan raihan suara H. Syafruddin tidak lebih dari 7000 suara dari total perolehan suara yang meliputi seluruh atau 5 kabupaten/kota pada dapil NTB 1 yaitu Pulau Sumbawa. Dan berdasarkan data perolehan suara atau rekapitulasi pada Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Bima, H. Syafruddin hanya meraih kurang dari 5000 suara. Ini hasil uji lapangan terbaru yaitu Pileg 2019 yang belum genap satu tahun berlalu.

Maka sangatlah keliru bila berpikir pemilih H. Syafru dalam Pilkada 5 tahun yang lalu sebesar 28% masih tetap setia dan loyal dan lebih-lebih adalah kesesatan yang nyata berpikir menggabungkan dua figur tersebut kedalam SYAFAAD otomatis bila ditambah raihan suara Ady Mahyudi dalam Pilkada 2015 sebesar 22% mutlak berjumlah 50%. Emangnya Pilkada itu soal penjumlahan semata apa?.

Skenario Memunculkan Pasangan IMAN

Setelah upaya mendapatkan penantang terlemah lengkap dengan pasangannya dirasa telah dicapai maka upaya berikutnya adalah membuat pengalihan opini. Dan cara ampuhnya adalah dengan memunculkan nama baru untuk dipasangkan agar masyarakat luas percaya bahwa Pilkada Bima tahun 2020 akan diikuti oleh 3 pasangan calon bupati dan calon wakil bupati.

Hitung-hitungan ini tentu akan dipercaya luas oleh masyarakat bahwa sesuai analisis dan kalkulasi IDP 2 Periode akan lebih muda dicapai apabila diikuti oleh 3 pasangan calon. Akan tetapi sesungguhnya, operasi melalui sosialisasi pasangan IMAN ke masyarakat di berbagai desa seantero Kabupaten Bima tidak lain dari suatu langkah yang tujuannya semata untuk mengenalkan Herman Alfa Edison Missa (HAEM) sehingga kelak dapat membantu usaha menaikan elektabilitas atau keterpilihan kembali IDP yang menurut riset beberapa lembaga survei elektabilitasnya anjlok dan terancam tidak terpilih kembali.

Lalu Bagaimana Keberadaan Dokter Irfan?

Dia tidak lebih dari sekedar alat pelengkap memudahkan jalannya operasi saja. Alasannya? Pertama, HAEM adalah figur baru dalam kancah politik Pilkada Bima tentu saja butuh guiden alias pemandu jalan. Nah keberadaan dokter Irfan semata sebagai guiden tentu saja akan memudahkan menggerakkan organ atau struktur partai mengingat beliau adalah dedengkot alias terbilang tokoh PKS meski yang bersangkutan domisilinya di Kota Bima.

HAEM sebagai orang baru harus diakui namanya tidak pernah muncul sebelumnya dalam kontestasi politik apapun. Jangankan masyarakat Bima yang berada di daerah Bima, warga masyarakat Jabodetabek pun belum pernah mendengar dan mengenal nama HAEM padahal yang bersangkutan berdomisili di Kota Tangerang atau di Jabodetabek kecuali oleh kalangan terbatas saja.

Tapi kenapa Dia dipilih sebagai calon pendamping?

Nah, ini alasan yang kedua, pertimbangannya akses pada pendanaan Pilkada. Konon kabarnya HAEM memiliki akses dana ke bos-bos besar yang ada di Jabodetabek, mengingat latar belakangnya seorang pengusaha. Maka tentu saja memiliki rekan bisnis atau jaringan bisnis yang luas.

Dan yang ketiga, ini variabel yang terpentingnya bahwa di balik rencana ini ada nama besar seorang penguasa daerah setingkat provinsi alias Doktor Zul selaku Gubernur NTB. Nama besar inilah menurut informasi paling berkepentingan memaketkan IDP – HAEM guna mengamankan agenda politiknya seperti variabel yang dikemukakan di awal tulisan ini.

Skenario head to head Pilkada Bima dan endingnya alias akhir dari strategi ini adalah terwujudnya skenario head to head antara IDP – HAEM dengan H. Syafru – Ady Mahyudi atau SYAAFAD.

Skema Pasangan SYAFA’AD

Bagaimana dengan kelanjutan pasangan ini? Skema ini sudah bisa dikatakan final. Nyaris tidak mungkin lagi melepaskan atau memisahkan kedua figur dalam pasangan ini. Nempelnya sudah seperti perangko dan kwitansi. Kemungkinan pisahnya sangatlah kecil kecuali ada faktor atau peristiwa besar atau skenario tandingan yang memaksa keduanya untuk berpisah jalan dari pihak-pihak lain yang juga memiliki kepentingan berbeda.

Skema Pasangan IDP – HAEM

Seperti yang sudah disinggung dimuka bahwa pasangan IDP telah dipersiapkan dengan skenario yang sempurna.
Untuk diketahui, HAEM memulai skenario berpasangan dengan IDP dengan melakukan pendekatan atau loby elite Golkar yang ada di Dewan Pimpinan Pusat dan telah memperoleh restu Jakarta. Lalu berikutnya melakukan serangkaian pendekatan pada fungsionaris atau struktur Partai Golkar hingga ketingkatan terbawah yaitu PK atau Pengurus Kecamatan.

Konon kabarnya dari sumber yang terpercaya menyebutkan bahwa dari total 18 PK Golkar 14 PK di antaranya telah “diselesaikan” oleh HAEM. Sehingga tidak mengherankan apabila dalam proses penjaringan internal Golkar nama HAEM muncul dan menempati posisi kedua setelah Dahlan M. Noer alias Baba Leo dari 4 nama yang diusulkan oleh DPD II Golkar Kabupaten Bima pada DPD I Golkar Provinsi NTB.

Dan selanjutnya berdasarkan informasi nama HAEM adalah berada pada posisi teratas dari 2 nama yang diusulkan oleh DPD Golkar Provinsi NTB kepada DPP Partai Golkar di Jakarta. Sedangkan sebaliknya Baba Leo berada diurutan kedua.

Dumm. Selamat bagi IDP selamat juga untuk HAEM. Tokoh hebat dengan strategi pemenangan yang hebat.
Wallahu a’lam bishawab

Demikianlah. Ayo, pada kembali ke laptop semua dengan menjalankan rencana yang sudah dipersiapkan oleh masing-masing tim pemenangan. Dan jangan lupa tetap waspada sebab wabah Covid 19 kabarnya sudah menjebol masuk gawang Provinsi NTB yang konon kemarin viral di medsos bahwa NTB aman dari penularan sang virus.

*Penulis adalah pengamat sosial dan politik

Editor: IBA