30 Menit Bersama Suhaili (Bag: 2)

30 Menit Bersama Suhaili (Bag: 2)Reviewed by adminon.This Is Article About30 Menit Bersama Suhaili (Bag: 2)Oleh : Muhammad Isnaini AR* “Komitmen Kantor Perwakilan Bukan Sekedar Ide Utopis yang Meninabobokan Masyarakat Pulau Sumbawa”.  =H. Moh. Suhaili FT= Tentu kita tidak menginginkan tokoh pemimpin NTB nantinya adalah tokoh yang membawa perpecahan, tokoh yang merusak spirit persatuan di NTB. Masyarakat NTB adalah masyarakat yang lahir dari tiga (3) suku besar yaitu Sasak, Samawa […]

Oleh : Muhammad Isnaini AR*

“Komitmen Kantor Perwakilan Bukan Sekedar Ide Utopis yang Meninabobokan Masyarakat Pulau Sumbawa”. 

=H. Moh. Suhaili FT=

Tentu kita tidak menginginkan tokoh pemimpin NTB nantinya adalah tokoh yang membawa perpecahan, tokoh yang merusak spirit persatuan di NTB. Masyarakat NTB adalah masyarakat yang lahir dari tiga (3) suku besar yaitu Sasak, Samawa dan Mbojo serta pula dari berbagai suku pendatang lainnya yang sudah hidup rukun damai sejak lama.

Kita tidak dalam rangka menghakimi atau menyalahkan para elit yang bermain pada tataran isu tersebut. Penulis sadar, sisi lain dari negatifnya otonomi daerah adalah ketika masyarakat menilai ada ketidakmerataan pembangunan (walau masih debatibel) maka solusi tercepat dan terbaik (menurut mereka) yang mereka tawarkan adalah pemekaran wilayah.

Otonomi daerah memberi ruang yang sangat besar atas terjadinya pemekaran wilayah, walau ruang tersebut dapat dipersempit oleh proses politik. Tapi otonomi daerah yang bernilai positif untuk dapat dikelola dengan baik sebagaimana semangat filosofis dan sosiologis yang terkandung dalam asas otonomi daerah begitu besar. Sisi positif inilah yang kita harapkan pada elit-elit politik yang memiliki keinginan untuk menjadi pemimpin di NTB pada suksesi pergantian kepemimpinan nanti.

Harapan penulis tentang pembangunan dua pulau tersebut ternyata juga tertuang dalam Visi Misi Suhaili-Amin. Dalam kesempatan tatap muka, penulis mendengarkan paparan Suhaili secara lugas dan logis bagaimana mengatasi persoalan pembangunan dua pulau yang dimaksud. Tawaran Suhaili cukup rasional ketimbang mengambil jalan pemekaran (dapat memecah belah hubungan historis yang terbangun dengan baik selama ini) dengan solusi pembentukan kantor perwakilan di pulau sumbawa.

Deteksi akademis penulis, komitmen kantor perwakilan bukan sekedar ide utopis yang meninabobokan masyarakat pulau sumbawa, sebab nyatanya sudah kurang lebih 15 tahun rencana pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa menemukan kebuntuan. Pertanyaan kritisnya, kenapa bisa terjadi?, melainkan ide paling logis sebagai jalan tengah memecahkan kemelut kegelisahan masyarakat sumbawa dalam cengkraman isu ketimpangan pembangunan antara lombok dengan sumbawa.

Selain itu, bagi penulis, pemimpin NTB pasca TGB harus memiliki kualitas individual terhadap pemahaman ke-NTB-an. Kualitas individual tersebut dapat diukur dari komitmen yang bersangkutan dalam membangun daerah dan men-SEJAHTERA-kan kehidupan masyarakat.

Bicara ke-NTB-an maka kita akan bicara tentang kondisi sosial, ekonomi dan geografis yang nantinya akan bermuara pada Lima persoalan utama yaitu keamanan, pariwisata, pertanian, peternakan dan pertambangan. Sebab lima (5) dimensi tersebut merupakan urat nadi kehidupan masyarakat NTB, tentu tanpa mengesampingkan dimensi lainnya.

Soal keamanan misalnya, ini menjadi hal prinsipil bagi masyarakat NTB jika kita tarik NTB sebagai daerah tujuan pariwisata khususnya pulau Lombok yang telah mendunia. Jika jaminan keamanan tidak mampu digransi oleh pemerintah dengan keterlibatan masyarakat maka NTB sebagai daerah pariwisata akan hancur dan rahmat Tuhan atas keindahan alam NTB akan menjadi sangat sia-sia.

Dalam menjamin keamanan tersebut, tentu tidak saja dengan memberikan kesadaran pada masyarakat tanpa disediakan solusi apa yang mesti dilakukan di tengah kondisi masyarakat NTB yang katakanlah tingkat kemiskinannya masih sangat tinggi.

Dalam urusan keamanan di NTB, tidak harus dengan cara mengerahkan seluruh aparat penegak hukum di setiap sudut NTB. Tapi harus dengan cara bagaimana kita sebagai pemegang mandat dan amanat dari masyarakat harus hadir berbicara langsung dengan masyarakat untuk memahami keluh kesah mereka.

Sesungguhnya suatu daerah menjadi tidak aman atau terjadinya konflik dan tindak kriminalitas, tidak lain disebabkan oleh kondisi ekonomi akibat tidak adanya lapangan pekerjaan sehingga tidak ada cara lain untuk mengisi hari-hari mereka. Ketika lapangan pekerjaan tersedia maka demi perut orang tidak lagi menjadi maling mencuri merampok bahkan membunuh.

Sementara dalam konteks pariwisata, pertanian dan peternakan pemimpin harus mampu memetakan sebaran wilayah. Pariwisata yang selama ini terfokus di Lombok sudah saatnya dilebarkan ke pulau Sumbawa dengan menarik investor untuk berinvestasi membangun apa yang menjadi penunjang pariwisata, sebab potensi pariwisata di pulau Sumbawa pun sangat besar. Ini dapat dijadikan jawaban bagi mereka penggiat pemekaran wilayah dimana pemerataan pembangunan dijadikan basis alasan. … (Sambung Bagian 3)

*Muhammad Isnaini Adalah Koordinator Relawan #RumahKeRumah untuk Pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Nomor 1 Suhaili-Amin.

Editor : Ibrahim Bram Abdollah