30 Menit Bersama Suhaili (Bag: 1)

30 Menit Bersama Suhaili (Bag: 1)

Oleh : Muhammad Isnaini*

“Perbedaan Tidak Harus Membuat Kita Bermusuhan”.

=H. Moh. Suhaili FT=

Kemesraan dan romantisme kita masyarakat NTB dengan Gubernur TGB akan segera berakhir dalam hitungan beberapa bulan lagi. Sederetan prestasi yang telah diraih NTB selama kepemimpinan TGB dapatkah dipertahankan atau akan semakin bertambah atau bahkan akan menurun? Ini tentu menjadi pekerjaan rumah baik bagi para elit politik, elit masyarakat maupun masyarakat itu sendiri untuk berpikir, menimbang tentang ketepatan akan sosok pengganti yang akan memimpin NTB.

Sebagai generasi muda, sudah menjadi kewajiban untuk melibatkan diri dalam menentukan arah masa depan NTB. Memikirkan dan turut aktif ambil peran dalam menjamin bahwa estafet tongkat kepemimpinan politik akan beralih ketangan pemimpin yang mampu menjawab ekspektasi masyarakat NTB.

Masyarakat tentu tidak ingin salah langkah, salah memilih yang dapat mengakibatkan merosotnya kualitas kepemimpinan, kualitas prestasi maupun kualitas kehidupan masyarakat. Pergantian kepemimpinan tentu membawa harapan besar tentang pergantian dan perbaikan taraf hidup masyarakat.

Wajarlah setiap momentum ini hadir akan selalu bersamaan dengan lahirnya euforia masyarakat dalam menyambutnya. Euforia tersebut diekspresikan dengan cara gegap gembita ingin melibatkan diri sesuai kapasitas masing-masing begitupun penulis dalam mengekspresikan hak politiknya.

Suatu waktu, penulis mendapat kesempatan berbincang ringan dengan Suhaili. Ngobrol santai namun berisi. Ada yang menarik dalam obrolan tersebut, walaupun singkat namun cukup menjadi hal yang sangat bermanfaat bagi penulis sebagai anak muda yang punya ketertarikan dalam dunia politik, tentunya masih butuh bimbingan dan pembelajaran dari para senior.

Dikesempatan tersebut “Suhaili” berbicara tentang banyak hal. Kata-kata “Suhaili” membuat penulis semakin mantap atas pilihan politik dalam Pilgub NTB 2018 pasca mendengar secara langsung paparan Visi Misi beliau saat pencalonan dulu di hadapan seluruh pengurus salah satu parpol.

Penulis berkeyakinan, setiap orang yang berhadapan dengan “Suhaili” secara langsung akan memantapkan penilaiannya bahwa iya “Suhaili” merupakan tokoh santun penuh kharismatik. Isyarat itu juga menandakan kualitas diri “Suhaili” yang selama ini dianggap Individu sabar dan sederhana bukan sekedar hanya cerita belaka.

Di sela obrolan, “Suhaili” juga menyelipkan guyonan untuk memecah kebuntuan dan kekakuan, selain bagian isyarat bahwa jangan terlalu serius. Ini juga membuat orang yang berbicara dengannya merasa sedang berbicara dengan teman, tanpa pembeda atau batasan. Mengalir bagai air, menjadi pendengar sekaligus pembicara yang baik itulah “Suhaili”. Contoh kecil saja, penulis yang masih belia dipanggil “Abang”.

“Bang, kami punya tagline ‘bersatu dan Ikhtiar’. Bersatu dalam arti bahwa kita masyarakat NTB yang plural ini, masyarakat yang terdiri dari beberapa suku. Ikhtiar, tentu kita semua harus terus untuk mewujudkan cita-cita masyarakat dalam kemajuan daerah.” kira-kira demikian bahasa yang dapat saya ingat yang diucapkan Suhaili.

Di NTB sendiri, sudah menjadi hal yang biasa ketika mendekati prosesi pergantian kepemimpinan (Pemilihan Gubernur) para figur atau elit-elit politik. Baik elit politik lokal di NTB maupun elit politik NTB yang berada di luar NTB akan ramai melempar dan memainkan isu untuk di konsumsi masyarakat sebagai bentuk mencari simpati pemilih.

Dan isu yang paling sering atau dengan kata lain paling laku untuk dijual adalah isu pemerataan pembangunan yang berujung pada permintaan pemekaran wilayah dan ini sangat klasik, melelahkan dan membosankan. Biasanya isu tersebut lahir dan paling genjar dihembuskan oleh tokoh-tokoh yang berasal dari pulau Sumbawa dan bahkan tokoh dari pulau Lombok pun tertarik untuk merebut simpati masyarakat pulau Sumbawa dengan isu demikian.

Hal ini bukan menjadi isapan jempol belaka, soal dikotomi pulau Lombok dan pulau Sumbawa. Ini nyata adanya, sebab NTB terdiri dari dua pulau besar. Jika ini terus menerus dilakukan, maka tidak menutup kemungkinan prestasi NTB sebagai daerah dengan tingkat toleransi, pluralis dan majemuk dapat tercoreng dan rusak. (Sambung Bagian 2)…

*Muhammad Isnaini Adalah Koordinator Relawan #RumahKeRumah untuk Pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Nomor 1 Suhaili-Amin.

Editor : Ibrahim Bram Abdollah