Pengembangan Komoditi Kopi, Pemda Lobar Garap 350 Ha Lahan

Pengembangan Komoditi Kopi, Pemda Lobar Garap 350 Ha Lahan
Foto: Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Lombok Barat Damayanti

Lombok Barat,- Dinas Pertanian Lombok Barat (Lobar) bangun prospek program penguatan kapasitas masyarakat melalui peningkatan komoditi kopi Lombok. Kegiatan Pengembangan Kopi Lombok tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi yang berimbas pada peningkatan ekonomi petani kopi, untuk itu Pemerintah Daerah Lombok Barat (Lobar) melalui Dinas Pertanian garap 350 lebih hektare lahan dengan menggunakan bibit unggul.

Demikian pernyataan ini disampaikan Kepala Bidang perkebunan Damayanti saat ditemui diruang kerjanya.

Untuk sekarang lanjut Damayanti, pihaknya menggarap lahan Kopi berbasis organic di Kecamatan Lingsar. Kopi dengan dua jenis yakni jenis Robusta dan Rabika, ditahun ini rencananya bersertifikat organik. Ini menjadi peluang terbaik dalam menggarap komoditi ini dengan potensinya.

Pihaknya akan bekerjasama pendampingan penelitian selama lima tahun dengan provinsi untuk bagaimana caranya supaya kopi kita jadi organic.

“Syarat sekarang untuk diekspor itu harus di organic. Insya Allah tahun ini, sertifikat akan keluar,” ujarnya.

Jenis kopi ini tergolong unik dengan ukuran kecil kecil dan memiliki rasa yang enak. Sehingga baru baru ini, BPTP ingin supaya di I chiken dengan melepas saritasnya untuk dibuatkan unggul local agar dipatenkan.

“Kopi Lombok kita di Lobar akan dipatenkan sama kaya kopi kopi lain, seperti kopi tembok, kopi sampilink yang sudah dipatenkan,” terangnya.

Dijelaskan, sebanyak kelompok petani yang bergerak di bidang komoditi kopi katanya mencapai 1436 dengan jumlah lahan garapan sekitar 350 lebih hektare. Petani petani ini akan dijamin SDMnya dengan memberikan pelatihan oleh Provinsi.

Sementara untuk penyediaan bibit sebutnya akan difasilitasi oleh pertanian dengan melibatkan produsen benih dibidang perkebunan memalui pengadaan Puslik Coca di Jember. Namun untuk pruducen benihnya sudah ditunjuk khusus oleh provinsi yang sudah ada sertifikatnya.

“Enam produsen ini sudah ditunjuk oleh Provinsi. Kami tidak bisa memakai bendera produsen lain yang tidak bersertifikat,” ungkapnya.

Menurutnya, kopi ini memiliki potensi besar yang bisa mengangkat ekonomi masyarakat terutama petani. Mulai dari masa tanam bibit hingga memasuki masa panen akan memakan waktu hingga lima tahun kedepan.

“Tapi kopi Lombok kita ini, bisa dipercepat dengan melakukan sambung pucuk, sehingga dalam jangka 3 sampai 4 tahun sudah bisa dipanen,” akunya.

Produksi kopi meningkat dari 359, 07 menjadi 361,71 ton, pungkasnya. (W@N)