Pakaro, Cara Rakyat Mengkomunikasikan Kemarahan Terhadap Kekuasaan

Pakaro, Cara Rakyat Mengkomunikasikan Kemarahan Terhadap KekuasaanReviewed by adminon.This Is Article AboutPakaro, Cara Rakyat Mengkomunikasikan Kemarahan Terhadap KekuasaanNelson Mandela, jika tidak Pakaro maka politik apartheid dan rasial di Afrika tidak akan pernah usai. Revolusi Iran pun lahir karena Pakaronya Imam Besar “Imam Khoemaini” dan “Ali Syariati” atas kemarahannya terhadap syah pahlevi. Begitupun terhapusnya diskriminasi rasial di fasilitas publik yang diperjuangkan oleh Martin Luther King Jr. sang pemimpin gerakan perjuangan hak-hak sipil di […]
Muhammad Isnaini Anak Petani yang sedang juga sedang menjadi petani

Nelson Mandela, jika tidak Pakaro maka politik apartheid dan rasial di Afrika tidak akan pernah usai. Revolusi Iran pun lahir karena Pakaronya Imam Besar “Imam Khoemaini” dan “Ali Syariati” atas kemarahannya terhadap syah pahlevi. Begitupun terhapusnya diskriminasi rasial di fasilitas publik yang diperjuangkan oleh
Martin Luther King Jr. sang pemimpin gerakan perjuangan hak-hak sipil di Amerika. Kuba jika Che Guevara dan Fadel Castro tidak Pakaro maka kekuasaan otoriter Fulgencio Batista tidak akan pernah berakhir. Pun demikian, Indonesia tidak akan pernah menjadi sebuah Negara Merdeka seandainya saja Soekarno dan para pejuang lainnya tidak Pakaro. Atau setidak-tidaknya Reformasi tidak akan pernah terwujud sebagai tanda berakhirnya kekuasaan otoriter Soeharto tanpa para mahasiwa tidak Pakaro.

Dalam dunia pergerakan, elemen yang terlibat didalamnya selalu dituntut untuk berpikir dan bertindak progresif, revolusioner serta radikal. Tanya saja mereka semua yang pernah terlibat dalam dunia pergerakan, tiga kata tersebut diatas telah menjadi materi dasar sebelum mereka terjun kelapangan.

Menjadi aneh, ketika mereka yang dulu adalah para mantan demonstran, alumni pergerakan yang sudah terbiasa berjibaku melawan kekuasaan Negara dengan segala macam cara termasuk memboikot jalan, tiba-tiba penuh semangat luar biasa membenarkan ucapan (aina pakaro) kekuasaan terhadap demonstran. Apa mereka semua telah amnesia (hilang ingatan) atas apa yang pernah mereka lakukan dulu, bahkan jika jawaban penguasa tidak sesuai keinginan, mereka ingin saja merobohkan gedung atau apapun sebagai ekspresi kekecawaan. Apalagi hanya sekedar boikot jalan.

Kita hanya butuh sedikit tarik nafas lalu secara jernih berpikir terhadap kondisi yang terjadi. Berapa besar sih kerugiaan publik atas pemboikot jalan dengan derita yang harus ditanggung oleh petani atas kelangkaan pupuk. Bagi petani, pupuk adalah lebih berharga dari emas. Sebab ada harapan kehidupan untuk mereka.

Mereka telah menanam, ada ancaman kegagalan panen serta lilitan rentenir yang menanti jika tanaman tidak segera diberi pupuk. Ini soalnya. Soal ini seharusnya kalian para mantan aktivis progresif yang paling merasa benar ketika jadi demonstran, kalian yang dilahirkan oleh rahim petani harus pahami dan rasakan.

Dalam teori perang, membunuh sejuta rakyat demi menyelamatkan dua ratus juta lainnya adalah sah. Memboikot jalan yang hanya tidak sampai sehari demi memberikan kehidupan terhadap manusia lain untuk tiga, enam atau bahkan setahun kedepan juga wajib dilakukan. Hal itu bisa tidak terjadi, jika tidak ada kebuntuan komunikasi. Jika diplomasi bisa menyelesaikan masalah natuna maka prabowo tidak harus memilih perang. Tapi masalahnya adalah jika tidak boikot jalan, hati kekuasaan tidak akan pernah serius mau urus rakyat.

Tidak mungkin terjadi sebab jika tidak ada akibat. Tidak mungkin jalan diboikot jika pupuk tidak langka. Hal ini selalu terjadi disetiap musim tanam. Marahkah rakyat? Jelas sangat marah! Kemarahan mereka tumpahkan segalanya dalam bentuk memboikot jalan.

Boikot jalan, dalam rumus pergerakan terjadi jika ada kebuntuan komunikasi. Kebuntuan komunikasi terjadi antara keinginan rakyat dengan yang dilakukan penguasa tidak sejalan atau apa yang diucapkan, diharapkan, diinginkan, dibutuhkan rakyat tidak didengar, tidak diindahkan, tidak dilihat, tidak dirasakan, tidak dipedulikan oleh penguasa. Penguasa tidak boleh tuli, tidak boleh buta atas derita rakyat. Penguasa harus hadir sebelum rakyat menghadirkan dirinya dalam bentuk Pakaro.

Kembali ke soal pergerakan yang dituntut harus progresif, revolusioner dan radikal. Tiga hal itu adalah kata lain dari Pakaro. Dan begitulah cara rakyat harus marah, harus memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Harus Pakaro.

Pakaronya orang yang sedang memperjuangkan haknya terhadap kekuasaan tidak boleh dianggap buruk. Itu pikiran irlanden, pikiran penjajah. Pakaro harus dimaknai sebagai cara rakyat mengkomunikasikan kemarahannya oleh karena disebabkan komunikasi tersumbat.

Sudahlah, tidak usah muncul ke publik lalu menjelaskan secara normatif. Rdkk-lah, sawah barulah, inilah, itulah. Semakin kalian bicara seperti itu semakin kalian mempertontonkan diri kalian buruk dalam melayani masyarakat. Pupuk subsidi tidak pernah kurang diproduksi bahkan dilebihkan 20% dari kebutuhan nasional. Lalu kenapa langka? Apa benar karena rdkk? apa benar karena lahan sawah baru? Atau karena semua ini ada unsur kesengajaan pengajuan yang dikurangi kuotanya sehingga ada peluang menjual yang non subsidi, dari keuntungan non subsidi tersebut ada upeti untuk kekuasaan dari distributor?

Kelangkaan-kelangkaan ini jika tidak segera diatasi maka akan terjadi Pakaro-Pakaro lainnya di wilayah lain. Jangan kalian mencari kambing hitam untuk difitnah, bahwa ada yang sengaja mempolitisir. Ada yang mengkapitalisasi isu Pakaro demi meraup keuntungan politik. Berhenti jadi pendosa dengan berlindung dibalik kata kebenaran akan menemukan jalannya. Kalian mikir kalian paling benar? Dan yang tidak sejalan dengan kalian sumber kesalahan? Saya tidak pinjam istilah “tufe dan cike” untuk kalian. Itu Pakaro yang tidak baik, kata itu tidak baik buat saya ucapkan. hehee.

Jika ingin rakyat tidak Pakaro dalam menuntut haknya yang menjadi kewajiban Negara untuk memenuhi maka bekerjalah untuk dan demi dou labo dana.

Berhenti beralibi yang tidak masuk diakal. Atau karena memang kalian sengaja ingin membohongi rakyat, mengganggap rakyat bodoh disebabkan kami Rakyat sering mengucap kata “Cou si nami ake” (siapa sih kami ini. Bahasa merendah atau merendahkan diri sendiri dalam bahasa bima)