Tersangka OTT Kakanim Mataram Terima Suap dari PT WB Rp 1,2 M, Modusnya Unik

Tersangka OTT Kakanim Mataram Terima Suap dari PT WB Rp 1,2 M, Modusnya Unik
Foto: Pimpinan bersama Juru Bicara KPK melakukan Konferensi Pers kasus OTT Imigrasi Mataram

Jakarta (DetikNTB.com),- Tersangka penerima suap dari PT Direktur PT Wisata Bahagia (WB) Liliana Hidayat (LIL) yakni Kepala Kantor Imigrasi Kelas 1A TPI Mataram sebanyak Rp 1,2 miliyar rupiah.

Duit haram tersebut kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata, untuk menghentikan kasus penyalahgunaan izin tinggal dua WNA yang bekerja di Wyndham Sundancer Lombok.

Terkait nilai nominal suap, Liliana berkomunikasi dengan Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas I Mataram Yusriansyah Fazrin (YRI).

BERITA TERKAIT:

“LIL kemudian menawarkan uang Rp 300 juta untuk menghentikan kasus tersebut, namun YRI menolak karena jumlahnya sedikit. Dalam proses komunikasi terkait biaya mengurus perkara tersebut YIR berkoordinasi dengan atasannya, KUR,” terang Wakil Ketua KPK Alexander Marwata saat jumpa pers di gedung KPK, Jl Kuningan Persada, Jakarta, Selasa (28/05).

Setelah dilakukan komunikasi, kedua belah pihak sepakat dengan angka Rp 1,2 miliar. Setelah itu dilakukan penyerahan uang di Kanim Kelas I Mataram.

“LIL memasukkan uang Rp 1,2 miliar ke dalam kresek hitam dan memasukkan kresek hitam pada sebuah tas. Sesampai di depan ruangan YRI, tas kresek hitam berisi uang Rp 1,2 miliar tersebut dibuang ke dalam tong sampah di depan ruangan YRI,” tambahnya

Yusriansyah lalu memerintahkan salah satu penyidik PNS Kanim Mataram, Bagus Wicaksono (BWI), mengambil tas berisi uang tersebut. Dia kemudian memerintahkan Bagus untuk menyerahkan sebagian uang tersebut ke Kurniadie.

BACA JUGA:

“YRI kemudian memerintahkan BWI mengambil uang tersebut dan membagi Rp 800 juta untuk KUR,” ujar Alexander.

Kurniadie dan Yusriansyah langsung ditetapkan sebagai tersangka diduga sebagai penerima suap, keduanya melanggar 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan Liliana disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sehingga jumlah yang ditangkap tangan oleh KPK sebanyak tujuh orang yang yakni Direktur PT Wisata Bahagia (WB) Liliana Hidayat (LIL), General Manager Wyndham Sundancer Lombok Joko Haryono (JHA), Kakanim Klas I Mataram Kurniadie (KN), dan staf Liliana bernama Wahyu (WYU).

Tiga orang lainnya yakni Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Kantor Imigrasi Klas I Mataram Yusriansyah Fazrin (YRI) dan dua penyidik PNS, Bagus Wicaksono (BWI) serta Ayub Abdul Muqsith. (01)