Pengamat Hukum Nilai AMNT Bisa Dipidana Terkait Kasus Scrap

Pengamat Hukum Nilai AMNT Bisa Dipidana Terkait Kasus Scrap
Foto: Barang-barang bekas tambang PT NNT (Sekarang PT AMNT) milik Budi Haryanto diduga ditahan pihak perusahaan

Mataram, – Kasus jual beli scrap (bahan bekas tambang) PT AMNT yang diduga merugikan pengusaha asal Surabaya, Budi Haryanto terus berlanjut. Terlebih setelah sejumlah media mengangkat kasus ini ke publik, namun pihak PT AMNT justru terkesan acuh dan tak memberikan respons.

Pakar Hukum Universitas Mataram (Unram), Dr Lalu Wira Pria Suhartana menegaskan, kasus ini bisa menjadi peluang pengusaha untuk melakukan upaya hukum terhadap AMNT, termasuk melalui laporan pidana.

“Perjanjian itu kan sudah lama terjadi dan itu scrap sudah dibayar seluruhnya. Artinya tidak berpengaruh pada pergantian perusahaan, karena barang itu sudah jadi hak pembeli. Dalam hukum tinggal serah terimanya saja,” kata Dr Wira.

Ia mengatakan, jika ada upaya menghalangi dari AMNT maka pengusaha bisa melakukan upaya hukum. AMNT bisa dipidanakan jika memenuhi unsur bahwa barang yang dibeli pengusaha ternyata menyusut volume dan nilainya sehingga menimbulkan kerugian bagi pengusaha.

Baca juga :

PT AMNT Diduga Sabotase Duit Milyaran Rupiah Milik Budi Haryanto

PT AMNT Diduga Setop Beasiswa Untuk Mahasiwa KSB, Pemuda KSB Geram

Pengusaha Surabaya Siap Beli PT AMNT Jika Tak Mampu Bayar Ganti Rugi 50 M

Wira mengatakan, dalam kasus ini pembelian barang sudah bisa dianggap selesai, karena sudah dibayar seluruhnya sesuai kontrak. “Secara hukum sudah selesai, sudah ada jual beli, dan tinggal serah terimanya saja. Kalau tidak ada itikad baik dan ada upaya dihalangi ya bisa dilaporkan pidana, sebagai menguasai barang yang menjadi hak orang lain,” kata Wira.

Sementara itu, dihubungi terpisah, Budi Haryanto menegaskan, pihaknya tidak akan mempidanakan AMNT dalam kasus ini. Namun upaya yang akan dilakukan adalah menggeret AMNT ke Pengadilan Niaga.

“Kami tidak akan pidanakan meskipun celah untuk itu ada. Tapi kami akan membawa (kasus) ini ke Pengadilan Niaga, biar sekalian kita pailitkan AMNT,” tegas Budi.

Menurut Budi, pihaknya sudah mendatangkan kapal untuk mengangkut srcap yang sudah menjadi miliknya. Namun ada dugaan AMNT sengaja menghalangi dengan cara tidak memberi kesempatan kapal tersebut masuk ke pelabuhan Benete di dalam kawasan AMNT.

Sebab dermaga itu merupakan terminal khusus (Tersus). Dengan status tersus itu segala aktivitas kapal tanpa izin dari AMNT akan dianggap penyusup atau perompak.

“Jadi regulasi dalam kontrak (dengan AMNT) itu memberatkan pembeli. Mentang-mentang mereka bernaung di terminal khusus dan objek vital untuk Pelabuhan Benete,” katanya.

Menurut Budi, label Tersus Pelabuhan Benete menjadi cara AMNT menghalangi pihaknya mengambil sisa scrap. “Mereka (AMNT) sengaja mendahulukan operasional (kapal) mereka, dan tidak memberikan izin pada kapal kami, padahal kami hanya mau mengangkut barang milik kami,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, AMNT dinilai diduga telah sengaja “menyendera” scrap (barang bekas tambang) yang sudah dibeli oleh mitra pengusaha.

Budi selaku pembeli barang bekas (Scrap) milik  PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) mempersoalkan sikap perusahaan tersebut, yang hingga kini belum juga beritikad menyerahkan untuk proses pengangkutan.

Ia menjelaskan, sebelumnya pihaknya bekerjasama dengan PT Sinar Tubalong Mandiri (PT STM) dalam bentuk kontrak untuk pembelian scrap di tahun 2015 silam. (Iba)