Jiwa Wirausaha dan Etos Kerja Masih Jadi PR

Jiwa Wirausaha dan Etos Kerja Masih Jadi PR
Foto: Gubernur dan Wakil Gubernur NTB memberi respon atas sejumlah aspirasi di Jangzulmi

Mataram (DetikNTB.com),- Etos kerja dan semangat wira usaha masyarakat, khususnya orientasi bisnis generasi muda masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintahan Gubernur Dr.H.Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur Dr. Hj. Siti Rohmi Djalilah. Karenanya, cita-cita besar Bang Zul-Umi Rohmi untuk membawa NTB Gemilang, dapat berkiprah dikancah nasional dan global belum mendapat dukungan nyata dari bawah.

Pelaksanaan program-program unggulan yang luar biasa itu, seperti industrialisasi, 1000 wira usaha muda, 99 desa Wisata serta 1000 cendikia yang memiliki wawasan dan jaringan internasional, juga 60 program unggulan lainnya yang tertuang di dalam RPJMD NTB 2019-2023, masih memerlukan kerja keras untuk membumikannya.

Dalam acara Jumpa Bung Zul-Umi Rohmi di Lapangan Bumi Gora Kantor Gubernur NTB di Mataram, Jumat pagi (12/7-2019), sejumlah tokoh dan ratusan masyarakat hadir untuk menyampaikan urun rembug serta kritik dan keluh kesah. Mulai dari masalah sampah dari komunitas Zero Waste, redahnya etos kerja dan semangat wira usaha, Koperasi dan UMKM, permohonan bantuan modal, bantuan operasional untuk koperasi syariah dan lain-lain. Hingga keluhan sulitnya mencari angkutan publik di dalam kota Mataram.

Saat itu, H. Lalu Mujitahid mengawali menyampaikan masukan kepada pasangan Zul-Rohmi. Ia ikut merancang RPJMD NTB, memuji gagasan dan program-program unggulan NTB Gemilang, yang menurutnya luar biasa. Namun dalam perjalanan awal ini, Miq Muji sapaannya menyayangkan bahwa program-program itu belum membumi.

Menurutnya, hal itu disebabkan faktor etos kerja dan jiwa wirausaha masyarakat, khususnya kaum muda masih sangat rendah. Contoh kecil, ungkap mantan Bupati Lombok Barat itu, para pedagang kuliner dan asongan dari Cakra-hingga terminal bertais, kalau kita data, para pedagang yang sangat laris itu, sangat sedikit penduduk asli Sasak atau pribumi NTB.

“Bahkan hanya hitungan jari saja jumlahnya. Itupun hanya jualan ayam taliwang dan nasi puyung,” ungkapnya.

Selebihnya adalah nasi padang, lamongan, bakso dan lain-lain hampir semua pelaku usaha itu, bukan masyarakat lokal. Hal tersebut merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian.

“Dari dulu hingga kini, hanya persoalan itu yang membuat IPM kita di NTB masih tertinggal. Hanya berada pada urutan kelima dari bawah. Bahkan kita berada dibawah IPM Provinsi NTT,” ujarnya.

Karena itu perlu ada gerakan dari bawah untuk mendukung cita-cita besar mewujudkan NTB Gemilang, sehingga bisa bersaing di kancah nasional maupun global. Miq Muji mengusulkan kepada Gubernur agar koperasi dan UMKM, terus diperkuat sebagai pioneer dalam melaksanakan program industrialisasi produk-produk NTB, usulnya.

Menanggapi beragam keluhan tersebut, Gubernur Dr. Zul menyampaikan terima kasih dan mengapresiasi beragam masukan tersebut. Menurutnya, tugas pemerintah sebenarnya lebih kepada menfasilitasi, mendorong dan mengarahkan atau mengatur secara regulasi. Sedangkan terkait permodalan, pengembangan ekonomi dan bisnis, merupakan porsi tugas dari dunia usaha.

“Kalau generasi muda kita masih berorientasi hanya ingin menjadi PNS, menjadi dokter dan pegawai pemerintah saja, maka etos kerja dan semangat wira usaha sulit diwujudkan. Gak bakalan mungkin mau jadi pengusaha,” respon Gubernur. (Iba)