Ironi Desa Penyedia Bisnis PDAM, 5.860 Warga Sesaot Konsumsi Air Kotor

Ironi Desa Penyedia Bisnis PDAM, 5.860 Warga Sesaot Konsumsi Air Kotor
Foto: Warga Sesaot Lombok Barat Sedang Bergotong Royong Memasang Pipa Untuk Mendapatkan Air Dari Sumber Mata Air yang Dibeli Dengan Swadaya

Lombok Barat,- Ironis, mempunyai sumber mata air, tapi tidak bisa menghidang dan menikmati. Guna mendapatkan pasokan air bersih, sekitar 5.860 jiwa warga Sesaot ini, terpaksa harus swadaya memasang pipa dengan cara urunan untuk membeli lahan sumber mata air.

Peristiwa miris ini sudah berjalan dari tahun ke tahun, padahal, Desa Sesaot sendiri merupakan salah satu daerah sumber air bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk disuplay ke para pelanggan di daerah Lombok Barat (Lobar), dan Kota Mataram. Meski demikian, Pemda setempat maupun pihak PDAM terkait, tidak bisa prioritaskan distribusi pelayanan air bersih ke daerah ini.

Andi warga Dusun Sambik Baru, Desa Sesaot mengungkapkan, sejauh ini keluarga dan warga lainnya hanya mengandalkan kebutuhan air dari mata air saja. Untuk mendapatkan air katanya, tidak serta Merta harus dapat segampang aja, karena warga harus ikut swadaya memasang pipa menuju mata air. Hal yang tak bisa dipungkiri aku Andi, fisik airnya keruh dan kotor banyak semak kecil didalamnya.

“Kesejahteraan kami terbatas karena tidak bisa nikmati sumber air kami sendiri. Bayangkan, sejak tahun 2002 lalu kami konsumsi mata air yang tidak steril kebersihannya,” keluhnya.

Cerita duka soal air ini menjadi saksi kelam yang sangat berkepanjangan, kilas Andi. Pasalnya, warna air keruh campur tanah dan sampah kecil. Selai itu, kesulitan pun terjadi ketika musim penghujan seperti sekarang, banyak pipa yang rusak ditimbun tanah longsor.

Tidak hanya itu, 2018 kemarin, warga kumpul bermusyawah membeli tanah dan lokasi sumber air disalah satu tempat didusun kami seluas 1 are dengan harga Rp 25 juta dan kami ngumpulin uang sama-sama Rp 475.000.

“Sejatinya pemerintah melihat dan mendengar keluh kesah kami. Sebagai daerah sumber air, setidaknya diprioritas pelayanan PDAM nya, benar benar fatamorgana,” kesan Andi.

Lebih jauh dikatakannya, jarak sumber mata air dengan pemukiman warga sekitar 1.500 meter sehingga warga butuh pipa sepanjang 1500 meter. Perpipaan yang dipasang warga sendiri bantuan dari program desa yang dialokasikan dari Dana Desa (DD). Kondisi saat ini warga terkendala pipa yang masih kurang. Sehingga warga berencana akan musyawarah lagi untuk urunan membeli pipa. Warga juga berencana mengusulkan ke Pemerintah Daerah (Pemda) dan PDAM untuk membantu kekurangan pipa dan memasang jaringan perpipaan tersebut. Sebab tambahnya, dari mata air ini bergantung sekitar 350 jiwa penduduk setempat, pungkasnya.

Sementara Kades Sesaot, Yuni Hariseni menyebutkan, sejatinya menjadi kebanggan tersediri desanya menjadi penyuplai air bagi daerah lain. Namun disatu sisi, masyarakat Sesaot sendiri tidak bisa menghidangnya.

“Ironisnya, air disuplay dari daerah kami Sesaot tapi banyak warga kami belum menikmati air bersih. Masih kesulitan mendapatkan air bersih,” keluhnya.

Seharusnya kata dia, daerahnya menjadi skala prioritas pelayanan air bersih sebab obyek desa Sesaot merupakan desa pendistribusi air. Sejauh ini dari 6 dusun di desanya belum ada yang disentuh pelayanan air bersih, pemerintah kemana.

“Apa yang bisa diperbuat oleh Pemerintah Daerah pada kami. PDAM jangan pura pura diam, perhatikan kami caranya,” pintanya.

Pihaknya juga sudah membuat proposal usulan ke pihak PDAM, sejauh ini ada respon namun masih perlu dilakukan peninjauan lokasi. Pihaknya sudah mengusulkan ke PDAM agar warga setempat menjadi pelanggan. Masyarakat bahkan kata dia siap membayar seperti halnya pelanggan pada umumnya, asalkan mendapatkan pelayanan air bersih. Sejauh ini, pihak PDAM sendiri belum merealisasikan usulan tersebut.

Sementara itu, Kadis PUPR Lobar, Made Artadana mengatakan pihaknya perlu turun mengecek lokasi titik-titik yang kesulitan mendapatkan air bersih.

“Kami akan cek titik lokasi disana, beri kami waktu,”katanya.

Terkait koordinasi dengan PDAM dalam pelayanan dasar ini, menurutnya mestinya ada. Sebab kali ini menyangkut optimalisasi penyediaan air disana. Pihaknya akan terus berkoordinasi dengan PDAM dan BWS. (W@N)