Camat Donggo Diduga ‘Preman Baru’ Bupati Bima

Camat Donggo Diduga ‘Preman Baru’ Bupati BimaReviewed by adminon.This Is Article AboutCamat Donggo Diduga ‘Preman Baru’ Bupati BimaMataram,- Buntut dari aksi demonstrasi yang dilakukan oleh sekelompok pemuda dan masyarakat yang tergabung dalam Barisan Perjuangan Pemuda Tani Donggo (BPPTD) di kantor Kecamatan Donggo, Senen (03/12) beberapa hari yang lalu karena persoalan distribusi dan pupuk mahal diduga dilakukan oleh pengecer dan distributor di kecamatan Donggo berakhir mamalukan. Pasalnya, pada aksi demo yang dilakukan oleh […]
Foto: Camat Donggo Abubakar (Sumber: profil whatsaap Abubakar)

Mataram,- Buntut dari aksi demonstrasi yang dilakukan oleh sekelompok pemuda dan masyarakat yang tergabung dalam Barisan Perjuangan Pemuda Tani Donggo (BPPTD) di kantor Kecamatan Donggo, Senen (03/12) beberapa hari yang lalu karena persoalan distribusi dan pupuk mahal diduga dilakukan oleh pengecer dan distributor di kecamatan Donggo berakhir mamalukan.

Pasalnya, pada aksi demo yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa beberapa hari yang lalu tersebut menuntut agar Camat Donggo dan UPT Pertanian memberikan klarifikasi terhadap persoalan tersebut.

Baca juga: 

IMBI Mataram : Bupati Bima Koordinir Kejahatan KKN di Bima?

Karena camat Donggo Abubakar tidak berada di tempat, KUPT setempat berjanji akan dilakukan pertemuan bersama unsur terkait, Kamis (06/12) kemarin. Hingga dilakukan pertemuan bersama Camat Donggo bersama jajarannya untuk mencarikan solusinya pada kamis siang hingga berujung pada pemukulan seorang mahasiswa diduga dilakukan oleh Camat Donggo.

Dalam video dialog berdurasi 0,46 detik diterima oleh media ini, Kamis (06/12) malam, terlihat seorang perwakilan dari mahasiswa keluar dari dialog tersebut tanpa sepatah kata.

Screenshoot video, Diduga Camat donggo (kanan berbaju batik coklat) saat melayangkan tangannya pada seorang pemuda peserta dialog

Karena keluar tanpa pamit, Camat memanggilnya namun tidak direspon oleh mahasiwa bernama Rudi Ardiansyah tersebut, hingga camat berdiri dan mengejar Rudi. Di tengah jalan dihadang oleh beberapa orang lalu Camat menghampiri dan terlihat tangan seorang Camat melayang di wajah Korban.

Menurut keterangan kakak korban Fahriz, kronologis sebenarnya bahwa berdasarkan kesepakatan korban menolak audiensi dissebabkan tidak hadirnya kades, pengecer dan distributor pupuk se Kecamatan Donggo. Mereka juga meminta pernyataan sikap dari camat bersama UPT Pertanian kalau distributor harus diganti, karena banyaknya temuan tentang kelangkaan pupuk dan obat-obat pertanian.

“Tapi Camat tidak mengindahkan itu semua dan saudara Rudi langsung keluar,” terang Kakak Korban pada media ini saat di hubungi.

Atas aksi camat tersebut, Mahasiswa Donggo Mataram Satria Madisa mengecam tindakan yang dilakukan seorang pejabat negara tersebut dan menuding bahwa Camat Donggo diduga adalah “preman barunya” Bupati Bima.

“Camat Donggo preman barunya bupati, dari sederet aktivitas premanisme birokrasi Pemda, mengingat Camat Donggo perpanjangan tangan Bupati (Bima) di Kecamatan Donggo,” ucap aktivis HMI Cabang Mataram ini, Kamis (06/12) malam via whastaap saat dimintai konfirmasi atas video tersebut oleh detikntb.com.

Foto: Demo masyarakat Donggo di Depan Kantor Camat, Senen (03/12) (Sumber: Kahaba)

Premanisme birokrasi katanya, tidak boleh dilembagakan. Bupati Bima perlu memangkas mata rantai, untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Bima, bahwa pemda adalah pelayaan yang baik, sejuk, akomodatif, bukan para preman dan bandit, yang seolah-olah pemerintah punya hak memukul, menyeret, dan mengeroyok masyarakat.

“Umi Dinda perlu membuktikan Bima itu ramah, pejabatnya sejuk, dewasa, dan sehat. Hanya dengan cara itu, keramahan mendapatkan bentuk pada realitas kepemimpinan daerah,” usulnya.

Sementara Camat Donggo dimintai konfirmasi, Jum’at (07/12) pagi membantah dia terlibat dalam insiden tersebut. Dia mengaku tidak mengerti. Massa aksi katanya, langsung menyuruh dirinya menanda tangani surat pernyataan. “Mohon maaf, saya tidak pernah memukul malah saya mengajak mereka untuk duduk baik-baik,” bantahnya.

“Supaya jelas kita duduk bersama, bila perlu kita hadirkan saksi, dan bersumpah di hadapan Allah bahwa saya tidak pernah memukul anak-anak saya mahasiswa,” tambahnya

(Iba)