Detik NTB

Berita Nusa Tenggara Barat

Breaking News Ekonomi Peristiwa

Alfamart, gurita raksasa ‘pembunuh rakyat’ di Kota Bima

Oleh: Zangaji Sape*

Namanya minimarket tapi langkahnya bukan ‘mini’ atau pendek, melainkan seperti berlari kencang, bahkan melesat bak pesawat jet. Itu jika dilihat dari pertumbuhan pasar swalayan kecil tersebut di Indonesia yang kian merebak dan meluas ke seluruh pelosok nusantara.

Kelahiran minimarket di berbagai daerah telah menjadi ciri perkotaan dan gaya hidup. Namun kehadirannya dapat mematikan usaha kecil. Minimarket kini telah menjelma menjadi raksasa. Kedigdayaan minimarket tampak di jalan-jalan raya dan perumahan di berbagai penjuru kota, termasuk di kota Bima ke depannya kalau tidak di antisipasi sejak awal.

Jarak antara satu minimarket dengan pasar swalayan kecil dan toko kelontongan lainnya sangat dekat, bahkan banyak yang bersebelahan atau hanya berseberangan dipisahkan jalan raya. Itu menunjukan bahwa persaingan Alfamart dan swalayan lokal serta toko kelontongan sangat kuat.

Dampak negatif merebaknya Alfamart di kota Bima pasti akan menimbulkan korban pemilik toko kelontongan dan pasar tradisional yang para pengusahanya merupakan pengusaha kecil dengan modal kecil dan bahkan pinjaman bank.

Oleh karena itu, langkah yang harus dilakukan oleh Walikota Bima adalah membatasi jumlah alfamart tidak lebih dari satu gerai dalam satu kecamatan. Akan tetapi kebijakan Walikota Bima sangat tidak mencerminkan keberpihakan kepada masyarakat pemilik usaha kelontongan, ini terbukti dalam satu kecamatan terdapat dua bahkan tiga Alfamart.

Hal ini jelas dapat mematikan keberadaan pasar dan warung tradisional yang jumlahnya lebih besar dan menyangkut hajat hidup masyarakat yang lebih luas. Apalagi dengan geografi kota Bima yang cukup kecil. Penurunan omzet yang didapat penjual pasar warung tradisional akan berkurang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sebelum munculnya minimarket di sekitar mereka (Dewi et al, 2013).

Wijayanti (2011) dalam penelitiannya terhadap 100 toko kelontong di Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang mengenai pengaruh keberadaan minimarket terhadap pendapatan bulanan. Hasilnya, dalam tiap kenaikan satu meter maka omzet yang
diperoleh akan mengalami pengurangan 0,02%.

Untuk itu harusnya Walikota Bima terlebih dahulu melakukan pendekatan analisis yang melibatkan unsur lokasi (faktor geografis) untuk mengolah pengaruh antar keduanya sebelum memberikan ijin operasional kepada Alfamart.

Dalam hukum pertama tentang geografi yang dikemukakan oleh Tobler (Tobler’s first law of Geography) dalam Lembo (2006) yang menyatakan “everything is related to evertyhing else, but near things are more related than distance things” atau segala sesuatu adalah saling berhubungan, tetapi sesuatu yang jaraknya lebih dekat akan lebih berpengaruh dibanding sesuatu yang jaraknya lebih jauh.

Artinya ketika Alfamart-alfamart ini berdekatan dengan toko kelontongan, pasar tradisional pasti akan mempengaruhi konsumen dan omzet masyarakat pemilik toko kelontongan. Padahal beban hidup masyarakat ini hanya bertumpu pada usaha toko kelontongan.

Melihat persoalan ini tentu kebijakan yang dikeluarkan Walikota Bima menerima investasi gurita raksasa tersebut justru berbanding terbalik dengan misi pembangunan daerah Kota Bima tahun 2018-2023 dengan “Mewujudkan masyarakat sejahtera melalui pemerataan pembangunan dan peningkatan ekonomi masyarakat yang berbasis pengembangan produk unggulan“.

Diambil dari judul asli: Alfamart, gurita raksasa ‘pembunuh rakyat’

*Penulis adalah pemilik usaha kelontongan yang berdekatan dengan gerai Alfamart

Editor: Ibrahim Bram A

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *