Partai politik VS Independen Dalam Pilkada Kota Bima (2-Habis)

Partai politik VS Independen Dalam Pilkada Kota Bima (2-Habis)Reviewed by adminon.This Is Article AboutPartai politik VS Independen Dalam Pilkada Kota Bima (2-Habis)Peran partai politik semakin berkurang dengan adanya pemilihan kapala daerah melalui diperbolehkannya calon independen. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya bakal calon yang mencalonkan diri melalui jalur independen yang berjumlah 3 pasangan, yaitu H. Muhamad Subhan berpasangan dengan Wahyudin, H. Sudirman berpasangan dengan Syarifudin, dan Latofi berpasangam dengan H. Usman Ak. Pilkada Kota Bima kali […]
Foto : Gufran Hanuar, Mantan Ketua Umum HMI Cabang Bima

Peran partai politik semakin berkurang dengan adanya pemilihan kapala daerah melalui diperbolehkannya calon independen. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya bakal calon yang mencalonkan diri melalui jalur independen yang berjumlah 3 pasangan, yaitu H. Muhamad Subhan berpasangan dengan Wahyudin, H. Sudirman berpasangan dengan Syarifudin, dan Latofi berpasangam dengan H. Usman Ak.

Pilkada Kota Bima kali ini menjadi hal yang fenomenal dengan banyaknya Bakal Calon yang memakai jalur independen dibandingkan dengan yang di usung oleh partai politik. Ini tidak terjadi secara kebetulan melainkan ada proses komunikasi politik yang seakan mampet antar para figur-figur tersebut dengan beberapa partai politik. Di tambah lagi dengan informasi yang berkembang bahwa salah satu figur dari partai Golkar H. M.Lutfi, SE akan memborong Partai politik di Pilkada Kota Bima 2018 mendatang.

Dengan asumsi ketika Lutfi memborong partai maka beliau akan melawan peti kosong, namun kenyataannya bahwa rakyat Kota Bima seakan tidak mempercayai lagi dengan adanya calon yang disusung oleh banyak partai politik. Hal itu bisa dibuktikan dengan partisipasi rakyat pada bakal calon independen tersebut.

Dengan pemilihan kepala daerah yang memperbolehkan calon independen, maka partai politik dimungkinkan dapat menjalankan perannya sebagai penampung serta penyalur aspirasi rakyat. Karena dengan begitu partai politik dapat menarik simpati rakyat untuk memilih calon dari partai politik dan mendekatkan jurang antara partai politik dengan rakyat.

Agar partai politik tidak kehilangan peran, maka pembaruan internal perlu dilakukan, untuk mengenali apa yang kini sedang berlangsung dalam demokrasi di Indonesia serta merumuskan platform masa depan parpol secara baik. Kenyataan yang telah berlangsung mengisyaratkan kita bahwa pembaruan bukanlah hal yang bakal datang dengan sendirinya, melainkan merupakan proses yang patut diupayakan dengan kesungguhan dan komitmen yang tinggi pada demokrasi.