Panggung kampanye memberi gagasan, bukan menebar ancaman

Panggung kampanye memberi gagasan, bukan menebar ancamanReviewed by adminon.This Is Article AboutPanggung kampanye memberi gagasan, bukan menebar ancamanOleh: Salahudin SH* Perkembangan Alam demokrasi membuka mata manusia untuk melihat dan menelaah frasa Kebebasan. Dalam sejarah panjang, Kita mengalami perubahan atmosfir demokrasi secara kompleks. Indonesia sendiri dalam beberapa dekade Rezim yang sampai hari ini pada puncaknya selalu berbicara tentang kesejahtraan dan keadilan. Reformasi menawarkan ide-ide baru tentang demokrasi, hingga hari ini kita selalu memegang […]
Penulis (Dok. Istimewa)

Oleh: Salahudin SH*

Perkembangan Alam demokrasi membuka mata manusia untuk melihat dan menelaah frasa Kebebasan. Dalam sejarah panjang, Kita mengalami perubahan atmosfir demokrasi secara kompleks. Indonesia sendiri dalam beberapa dekade Rezim yang sampai hari ini pada puncaknya selalu berbicara tentang kesejahtraan dan keadilan.

Reformasi menawarkan ide-ide baru tentang demokrasi, hingga hari ini kita selalu memegang prinsip bahwa demokrasi kita adalah demokrasi Langsung, Yang artinya segala sesuatu yang berkaitan dengan kekuasaan, kebijakan publik dan banyak hal lainya harus bertumpu pada kehendak Rakyat.

Menurut Marthin Luther dalam karyanya “Adress to the christian Nobility” menyatakan bahwa kekuasaan politik terletak pada semua orang dan bahwa mereka yang menjalakanya harus melaksanaknya dengan persetujuan Rakyat.

Dengan prinsip Demokrasi Langsung ini lah Rakyat secara absolut di berikan kebebasan untuk menentukan pilihan siapa yang pantas untuk menjadi pemimpin,.yang tentu lewat proses pemilihan yang sudah di atur oleh peraturan perUndang-Undangan yang berlaku.

Pemilihan sering di gaungkan sebagai pesta Rakyat. di Tahun 2020 ini ada 270 provinsi kabupaten/kota yang melaksanakan PILKADA serantak yang tentu kemudian untuk melanjutkan Roda kepemerintahan, yang dalam kurun waktu dekat akan di tinggalkan oleh pemimpin yang bakal mengahiri masa jabatannya.

Prosesi Pilkada Serentak dalam Dogma otonomi daerah berfungsi untuk memperkuat daerah masing-masing dalam sektor SDM, SDA , Ekonomi dan lain-lain. Dari 270 peserta pilkada Terselip Nama Kabupaten Dompu sebagai Salah satu dari sekian banyak daerah yang ikut sebagai peserta PILKADA.

Berbagai strategi politik di Racik untuk mendapatkan partisipan pemilih oleh para paslon di mulai dari kampanye visi misi hingga saling menghujat antara Tim pemenangan.

Penyelenggaraan Pilkada Kabupaten Dompu tak ubahnya menonton sabuk ayam dalam gelanggang. bagaimana tidak, pergeleran pesta 5 tahunan ini sudah jauh melenceng dari “Politik Etik” sebagai semboyan Negara Demokrasi.

Ada hal yang lebih jauh lebih celaka yaitu, Panggung kampanye yg sepantasnya di jadikan sebagai upaya untuk menyakinkan hati rakyat, menebar konsep dan gagasan untuk kemajuan daerah di sulap menjadi tempat untuk menebar Ancaman kepada rakyat yang menggantungkan hidup lewat tenaga honorer oleh salah satu Cawabup Kabupaten dompu yg semboyan politiknya bertajuk Tuntaskan.

Sifat arogansi tidak sepantasnya di perlihatkan di hadapan publik, Sebagai calon pemimpin seharusnya menunjukan itikad baik untuk melayani rakyat bukan menebar ketakutan, karena pada dasarnya Pemimpin Adalah Pelayan Rakyat.

“Membiarkan Kesalahan adalah sebuah kejahatan” (Soe hook gie).

*Penulis adalah mantan Ketua Umum Mahasiswa Manggelewa

Editor: Eko Saputra