Mohammed Salah Menjadi Da’i di Lapangan Hijau

Mohammed Salah Menjadi Da’i di Lapangan Hijau
Foto : Khairul Amar calon Doktor Muda Unnes

Oleh : Khairul Amar*

Mohammed Salah Ghaly (lahir 15 Juni 1992) adalah seorang pemain sepak bola Mesir yang bermain sebagai gelandang sayap untuk klub Inggris, Liverpool F.C. dengan nilai transfer £39 juta dari A.S. Roma dan tim nasional Mesir.

Ia juga pernah tampil mewakili Mesir pada Piala Dunia FIFA U-20 2011 dan Olimpiade 2012. Ia memenangkan Liga Super Swiss di musim pertamanya dengan Basel, dan dianugerahi Pemain Muda Afrika Terbaik tahun 2012.

Mohammed Salah tidak hanya menjadi pesepakbola terbaik di Liga Inggris tahun ini, tetapi juga menjadi duta Da’i pada dunia islam di lapangan hijau melalui keahliannya dalam melesatkan bola, Ia menjadikan islam dikenal sebagai agama yang menyejukkan.

Olahraga pada umumnya dipandang dan ditafsirkan sebagai bentuk kerja fisik yang dapat menciptakan kebugaran jasmani, Rohani dan membangun hubungan sosial pada manusia.

Dalam konsep David T Goldberg pada teori Utilitariannya, konsep itu dianggap benar apabila menghasilkan kebaikan bagi orang banyak. konsep ini mungkin banyak yang diterapkan oleh Salah di lapangan hijau diberbagai Laga.

Zaman ini, tidak seperti jaman  Salahuddin Al-ayubi, dimana kekaguman dan kekuasaan di suatu wilayah harus dimulai dari sudut pertarungan dan peperangan sehingga menimbulkan korban besar. Maka di zaman seperti ini, dakwah tidak mesti harus di masjid, musholah dan gedung-gedung mewah. Tetapi menyebarkan pengaruh agama lewat lapangan hijau memang tindakan professional.

Namun disisi lain, tanpa kita sadari bahwa selebrasi yang dilakukan Mohhamed Salah pada saat gol kemudian dia sujud dan dia mengangkat jari itu menunjukkan bahwa islam ditenggakkan dan bagian dari simbol tauhid. Ini menunjukkan bahwa identitas islam dikobarkan di Eropa.

Di tengah hantaman cacian, hinaan dan dikte pada pemain yang satu ini, dia juga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap dunia islam. Mohammaed Salah mengibarkan panji-panji islam di tengah gemuruh pendukungnnya yang non muslim. Ia menjadi da’i di lapangan hijau, sehingga islam dikenal menjadi agama yang ramah di Eropa.

Mohammed Salah menjadi da’i muslim yang berprestasi di tengah derasnya kecaman, intimidasi pada dunia islam. Mohammaed Salah juga dikenal sebagai salah satu pemain yang ramah dan rendah hati sehingga bertolak belakang dengan citra yang selama ini melekat pada islam, khususnya di Eropa yang dekat dengan radikalisme, kekerasan dan terorisme.

Liga Champion kali ini, menurut pandangan saya. bukan lagi persaingan merebut kemenangan dan mengangkat trofi tetapi lebih menunjukkan indentitas Mohammed Salah sebagai salah satu tokoh pesepakbola yang konsisten dan religius, identitas, karakter dan moral sebagai tokoh muslim merupakan parameter dalam menafsirkan di Liga Champion 2018 ini.

Bahkan salah satu bagian dari yel-yel yang dinyanyikan penggemar liverpool, terdapat kalimat yang mengapresiasi secara positif pada agama yang dianut Mohammad Salah, termasuk citra positif mengenai identitas islam.

“Jika dia baik untukmu, dia jua baik untuk saya, jika dia kembali mencetak gol, saya akan menjadi muslim juga, jika dia berada di masjid, saya juga berada di situ”.

Yel-yel inipun menandakan perubahan baru dalam budaya dukungan penggemar kepada tim kesayangannya, terutama dalam upaya memerangi diskriminasi dan rasisme.

Tulisan ini bukan bermaksud mendiskreditkan para tokoh pemain lainnya. tetapi saya mencoba membangun pustulat yang dapat meningkatkan citra baik islam.

*Khairul Amar adalah Calon Doktor Muda Ilmu Olahraga Universitas Negeri Semarang (Unnes)

Editor : Ibrahim Bram Abdollah