Mahasiswa dan Kesadaran Intelektual

Mahasiswa dan Kesadaran Intelektual

Penulis: Syahrul Gunawan*

“Sejatinya, mahasiswa tak pantas dihargai dengan tepuk tangan, mahasiswa dulu mengepalkan tangannya sebagai simbol perlawanan”

Menjadi mahasiswa tentu tidaklah mudah, sebab proses menjadi mahasiswa tidak sekedar menyandang predikat nama dan sebutan jadi mahasiswa. Yah, kata Maha, selalu didiksikan bahwa hanya Tuhan yang layak disebut Maha, yakni maha segalanya, kekuasaannya yang tak terbatas, terus bagaimana dengan siswa (pelajar) yang diikutkan dengan kata maha, apakah ia juga bisa disejajarkan dengan Tuhan ? tentu jawabannya sama sekali tidak.

Kata mahasiswa sepertinya hanya untuk menegaskan bahwa seorang pelajar yang bergerak ke arah dinamika perkembangan pemikiran seiring dengan kemajuan zaman. Atau satu pelahiran dari academic intelectual, dimana ia memiliki kemampuan analisis, inovatif, kreatif, progressive, tidak menjadi budak di zamannya.

Namun saat ini, mungkin kita bisa menyaksikan panggung-panggung hiburan dihuni oleh riuhnya tepuk tangan dari klan mahasiswa. Ataukah ini jawaban dari academic kapitalisme, dimana pemilik modal sudah menjadi pengendali emosi intelektual mahasiswa. Kalau ini terjadi maka apakah mungkin gagasan perubahan masih bisa diharapkan lahir dari ruang-ruang intelektual yang bernama kampus.

BACA JUGA: Tragedi Pemilu 2019 dan Diskriminasi Hukum Perspektif Intelektual Muda

Sejatinya, mahasiswa tak pantas dihargai dengan tepuk tangan, mahasiswa dulu mengepalkan tangannya sebagai simbol perlawanan. Saat ini mungkin tangan itu tak lagi terkepal namun lebih riuh dinyanyian standing aplous (tepuk tangan), tangan revolusi itu telah mati di atas kertas tulisan, namun hidup di kertas yang bernominal.

Kemana idealisme itu, apakah sudah tergadai karena recehan yang menyumbat?. Kematian mahasiswa sama halnya kematian satu peradaban di bangsa itu. Namun, kita masih yakin di jiwamu masih ada nilai “arete” keutamaan yang jadi fondasi perjuangan.

Joshua aktifis krempeng dari Taiwan berhasil mendorong umbtella revolution, Antonio Lasardo Darocha mendorong pembangkangan civil society di Brazil.

Indonesia pun merdeka, sampai jatuhnya orde baru karena pekikan suara suara kritis menggema dari mimbar kampus. Ayo bangkitlah mahasiswa.

*Penulis adalah kader HMI MPO Komisariat Ulil Albab Cabang Mataram sekaligus mahasiswa Universitas Muhammdiyah Mataram (UMMAT).

Editor: Ibrahim Bram Abdollah