Khilafah Ciptaan Ulama? (Bagian-5 Habis)

Khilafah Ciptaan Ulama? (Bagian-5 Habis)Reviewed by adminon.This Is Article AboutKhilafah Ciptaan Ulama? (Bagian-5 Habis)Sekarang kita bahas point yang ketiga: Benarkah jika fakta penerapan sesuatu berbeda-beda berarti tidak ada ajarannya dan hanya bisa dimaknai sebagai nilai saja? Untuk menbahas hal ini, kita perlu membuat komparasi, sholat misalnya. Sepanjang yang saya tahu, beberapa tata cara sholat antara umat Islam yang bernaung dalam Jamiyyah Nahdotul Ulama (NU) dan umat Islam yang […]
Foto : Penulis

Sekarang kita bahas point yang ketiga: Benarkah jika fakta penerapan sesuatu berbeda-beda berarti tidak ada ajarannya dan hanya bisa dimaknai sebagai nilai saja?

Untuk menbahas hal ini, kita perlu membuat komparasi, sholat misalnya. Sepanjang yang saya tahu, beberapa tata cara sholat antara umat Islam yang bernaung dalam Jamiyyah Nahdotul Ulama (NU) dan umat Islam yang bernaung dalam Manhaj Wahaby-Salafy, sedikit berbeda. Memang perbedaan itu hanya pada wilayah furu’. Misalnya tentang bacaan qunut dalam sholat subuh atau bacaan bismillah di awal surat alfatihah. Bisakah secara akademis disimpulkan bahwa tidak ada ajaran tentang tata cara sholat dengan argumentasi jika ada ajarannya mengapa bisa berbeda-beda?

Yang saya yakini, bahwa baik ulama di Jamiyyah NU dan di Manhaj Wahaby-Salafy semua merujuk pada dalil syariah. Meski demikian, dalam pemahaman dan kesimpulan akahir bisa jadi berbeda. Namun, pernyataan bahwa perbedaan menunjukkan tidak ada dalilnya, menurut saya kesimpulan yang agak tergesa-gesa.

Pemahaman tentang detil dalam Khilafah memang para ulama terkadang berbeda. Menurut Imam Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Ahkamus Shultaniyyah, misalnya, seorang Khalifah syaratnya harus bersuku Quraisy. Sementara menurut pemahaman Syeikh Taqiyuddin An-Nabhany dalam Kitab Nidzomul Hukmi Fil Islam, bahwa Khalifah tidak disyaratkan harus Quraisy. Quraisy itu bukan syarat in’iqod (syarat sahnya seseorang menjadi Khalifah), tetapi hanya keutamaan saja. Baik Syeikh Mawardi maupun Syeikh Taqi berpedoman pada dalil syariah, hanya saja pemahaman dan kesimpulan beliau berdua berbeda dalam hal ini.

Jika memang kesimpulan berbeda sementara mereka sudah menempuh metode yang benar, maka sikap kita mestinya harus tasamuh dan berlapang dada. Tentu saja, kita tetap dianjurkan untuk terus mengkaji sehingga mendapatkan kesimpulan yang rajih menurut kita.

Dalam beberapa hal, antara Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar juga berbeda. Bahkan perbedaan itu kadang terjadi saat Rasulullah masih hidup. Kisah yang sangat masyhur diantaranya dalam menyikapi tawanan perang Badar termasuk dalam masalah ini. Abdullah bin Mas’ud ra. berkata bahwa ketika para tawanan itu dibawa ke hadapan Rasulullah saw., Abu Bakar ra. berkata, “Ya Rasulullah! Mereka adalah kaum kerabatmu. Bebaskanlah mereka dan jangan dibunuh. Mungkin mereka akan bertaubat.” Sedangkan Umar ra. berkata, “Ya Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang mendustaimu dan menyakitimu. Mereka telah memaksamu keluar dari Mekkah. Sebaiknya mereka dibunuh.” Para sahabat berselisih pendapat dalam hal ini. *Rasulullah saw.* pun berdiam diri. Kemudian beliau memasuki rumahnya, lalu keluar dan *Bersabda, “Allah menyebabkan hati sebagian orang menjadi lembut, lebih lembut daripada susu. Dan Allah menyebabkan hati sebagian orang keras, sehingga lebih keras daripada batu.”

Jadi, adanya pebedaan dalam beberapa hal, belum tentu bisa disimpulkan tidak ada ajaran atau tidak ada dalilnya. Dan saat terjadi perbedaan, sepertinya kita memang harus terus belajar tentang tasamuh. Menganggap orang lain atau kelompok lain sebagai fundamentalis, anti kebhinekaan, dan memecah belah masyarakat dan lain sebagainya mestinya harus diremove dari database orang-orang yang berilmu.

Demikian pandangan saya tentang Khilafah. Menurut pemahaman saya, Khilafah adalah ajaran Islam yang diajarkan Rasulullah, dilaksanakan oleh para shahabat dan ditulis oleh para ulama di dalam kitab-kitabnya.

Khilafah adalah ajaran Islam terkait syariah dalam urusan publik. Khilafah insya Allah akan mewujudkan suatu negeri menjadi baldatun thayyibatun wa robbun ghafur. Baik muslim atau non muslim akan hidup aman dan adil di dalamnya. Khilafah yang benar-benar mengikuti jalan kenabian tidak akan berprilaku dzalim dan berbuat semena-mena. Hukum memang dari Allah (al-quran, hadits), tetapi pelaksana Khilafah adalah manusia biasa. Seorang Khalifah bisa berbuat salah, ia juga bisa berbuat dzalim, saat tidak mengikuti syariah, sehingga muhasabah merupakan sesuatu yang muthlak dalam Khilafah. Tetapi, mengatakan bahwa Khilafah tidak ada ajarannya dan semua Khalifah suka berbuat sewenag-wenang, merupakan generalisasi yang tidak bertumpu pada fakta historis yang akurat.

Ijinkan saya sedikit berbeda dengan pandangan Prof Mahfudz. Beliau adalah tokoh intelektual muslim yang saat ini dimiliki oleh dunia Islam dan sangat saya kagumi. Semoga Prof Mahfudz selalu dalam lindungan Allah dan selalu dalam kondisi sehat. Amiin.k

Wallahu a’lam bish showab.