Khilafah Ciptaan Ulama? (Bagian-2)

Khilafah Ciptaan Ulama? (Bagian-2)Reviewed by adminon.This Is Article AboutKhilafah Ciptaan Ulama? (Bagian-2)Jika kita merujuk pada hadits-hadits shahih, secara obyektif, maka kita akan menemukan pembahasan yang banyak tentang Khilafah. Misalnya sabda Nabi bahwa pada suatu zaman tidak boleh ada dua orang Khilafah bersifat umum untuk seluruh kaum Muslim di dunia, bahkan Rasulullah memerintahkan akan membunuh yang teakhir dari keduanya. Rasulullah saw bersabda: «إِذاَ بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا اْلأَخِرَ […]
Foto : Penulis

Jika kita merujuk pada hadits-hadits shahih, secara obyektif, maka kita akan menemukan pembahasan yang banyak tentang Khilafah.

Misalnya sabda Nabi bahwa pada suatu zaman tidak boleh ada dua orang Khilafah bersifat umum untuk seluruh kaum Muslim di dunia, bahkan Rasulullah memerintahkan akan membunuh yang teakhir dari keduanya. Rasulullah saw bersabda:

«إِذاَ بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا اْلأَخِرَ مِنْهُمَا»

“Jika dibaiat dua orang Khalifah, bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (Shahîh Muslim, no. 1853).

Hal yang sama dinyatakan oleh Rasulullah, tetapi dengan redaksi yang berbeda. Dalam hal ini memang Rasulullah tidak menggunakan redaksi “Khalifah”, tetapi “Imam”.

Beliau bersabda:

مَنْ بَايَعَ إَمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمْرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَاءَ آخِرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوْا عُنُقَ اْلآخِرَ

“Siapa saja yang membai’at seorang Imam, lalu ia memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya kepadanya, hendaklah ia menaati imam itu sekuat kemampuannya. Kemudian jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaan Imam itu maka penggallah leher orang lain itu.” (HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, an-Nasa’i, dan Ahmad).

Masih dalam substansi yang sama, tetapi dengan redaksi yang lain lagi Rasulullah saw bersabda:

«مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ»

“Siapa saja yang datang kepada kalian—sedangkan urusan kalian berada di tangan seseorang, kemudian dia hendak memecah-belah kesatuan jamaah kalian, maka bunuhlah.” (HR Muslim).

Dalam hadits ini, Rasulullah menggunakan istilah jama’ah kalian.

Dari contoh beberapa hadits shahih di atas, bahwa Rasulullah terkadang menggunakan kata “Khalifah”, “Imam”, “Jama’ah”, dan dalam hadits lain menggunakan istilah sulthan, maka para ulama memahami bahwa: Khalifah, Imam, dan Sulthan itu maksudnya sama (mutaradif). Sekali lagi, ini bukan ciptaan ulama. Tetapi ini adalah dari hadits Nabi yang kemudian dipahami dan ditulis di dalam kitab oleh para ulama.

Imam Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah halaman 190:

وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصف وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإمام

“Telah kami jelaskan hakikat kedudukan ini (Khalifah) dan bahwa ia adalah pengganti dari Pemilik Syariah (Rasulullah saw.) dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama. (Kedudukan ini) dinamakan Khilafah dan Imamah dan orang yang melaksanakannya (dinamakan) Khalifah dan Imam”.

Imam Nawawi dalam Rawdhah ath-Thalibin  juz X, halaman 49, menegaskan:

يجوز أن يقال للإمام :الخليفة، والإمام، وأمير المؤمنين

“Boleh saja Imam itu disebut dengan: Khalifah, Imam, atau Amirul Mukminin”.

Belum lagi jika merujuk pada ijma’ para shahabat. Saat Rasulullah wafat, para shahabat berijma’ untuk segera memilih dan mengangkat Khalifah sepeninggal beliau, bahkan mereka lebih mendahulukan memilih Abu Bakar sebagai Khalifah, dibanding mengurusi jenazah manusia paling mulia di dunia, Rasulullah saw. Inilah yang kemudian dipahami oleh para ulama bahwa mengangkat Khalifah merupakan kewajiban yang sangat urgen.

Sekali lagi, hal inilah yang kemudian dipahami dan dituliskan oleh para ulama di dalam kitab-kitabnya. Tetapi sekali lagi, ini bukan ciptaan para ulama’.