Kapasitas Khas Terhadap Dampak Gempa Lombok

Kapasitas Khas Terhadap Dampak Gempa Lombok
Foto : Penulis M Zakiy Mubarok

Oleh : M Zakiy Mubarok*

Saat menuntaskan tulisan pendek refleksi tentang ‘Pasca Gempa, Lombok Tetap/Harus Kuat’ dan ditayangkan di media online ini, saya sedang “meyakini” bahwa gempa tak ada lagi di pulau mungil nan indah ini dengan intensitas apapun.

Di tulisan itu saya mengajak, meskipun saya sadar bukan siapa-siapa kepada semua untuk menjalani dan menghadapi dampak gempa dahsyat bermagnitudo 7 SR itu dengan membangun mentalitas kuat. Sebab hanya melalui mentalitas tersebut recovery dapat berlangsung dengan baik. Inilah ujian kemandirian kita sebagai anak bangsa menghadapi dampak gempa yang mencemaskan itu.

Namun, saya dan kita semua (bahkan para ahli sekalipun) tak pernah bisa memprediksi dan menginginkan jika pada 19 Agustus 2018, malam hari, gempa berkekuatan M 6,9 kembali menghantam. Kali ini, sasarannya tidak hanya Pulau Lombok, tapi mulai bergerak ke timur dan berdampak sangat serius terhadap saudara-saudara kita di Pulau Sumbawa khususnya di bagian barat (Sumbawa Besar dan Sumbawa Barat).

Tidak kalah dahsyat dari gempa sebelumnya, getaran dan goncangannya kali ini kembali menyebabkan longsornya beberapa sisi gunung rinjani. Sebagian areal di pelabuhan kayangan Lombok Timur retak seperti terbelah. Korban meninggal berjatuhan. Puluhan, ratusan hingga ribuan rumah penduduk rata dengan tanah. Drama pedih dan duka kembali menghampar. Sungguh, manusia tak kuasa menolak kuasa-Nya.

Gempa (yang semoga) terakhir itu makin menambah kewaspadaan sekaligus memperpanjang jam pengungsian warga. Memilih menjauh dari bangunan (rumah atau gedung lainnya) adalah pilihan paling tepat saat ini. Anak-anak harus kembali diajak terus bergembira di tempat pengungsian dengan segala keterbatasannya agar tak runtuh kepercayaan dirinya. Wajah ibu pertiwi di daerah ini kembali dihiasi air mata setelah beberapa saat terhenti.

Kejadian gempa di Lombok dan Sumbawa, sungguh sangat dahsyat. Sehingga dapat dimaklumi jika ada banyak pihak yang mendorong statusnya dinaikkan menjadi bencana nasional. Termasuk DPRD NTB dan Gubernur NTB terpilih Dr.  H. Zulkifliemansyah, turut menyuarakan ide ini kepada Presiden RI.

Tulisan ini tidak berpretensi untuk setuju atau tidak dengan ide ‘Bencana Nasional’. Tapi ada baiknya saya kutipkan sebuah kalimat dari buku Thank You For Being Late-nya Thomas L. Friedman menyatakan, kemampuan kita untuk menempa hubungan mendalam -mencintai, mempedulikan, mengharap, mempercayai, dan membangun masyarakat secara sadar berdasarkan nilai bersama adalah salah satu kapasitas paling khas manusia yang kita punya. Itulah hal penting yang membedakan kita dengan alam dan mesin.

Gempa bertubi-tubi yang menghantam Pulau Lombok, dan kini Pulau Sumbawa itu telah membuka mata hati dan pikiran kita bahwa semangat  itu masih terjaga di negara ini. Tanpa status bencana nasional, getaran kemanusiaan itu beresonansi di seluruh Nusantara dari tingkat rukun tetangga hingga seluruh Indonesia.

Bahwa ternyata solidaritas kita sebagai sesama anak bangsa masih terpelihara dan terjaga baik hingga saat ini. Solidaritas sebagai wujud dari empati dan simpati sesama menjelma dalam berbagai implementasi. Mulai dari penggalangan dana, pengiriman bantuan makanan hingga obat-obatan, sampai distribusi pakaian dan kebutuhan sehari-hari. Prinsipnya apapun yang bisa membantu meringankan warga terdampak gempa disalurkan oleh saudara saudara kita se-Indonesia. Diminta atau tidak diminta.

Kita berharap bantuan-bantuan tersebut dapat tersalurkan dengan baik. Manajemen recovery dampak gempa juga dapat terkelola dengan efisien dan efektif sehingga tak tersisa korban gempa yang tak tersentuh penanganan. Sinergi dan kerjasama semua pihak dalam penanganan korban gempa sangat dibutuhkan saat ini. Pemerintah (daerah) bisa melakukan sinergi dengan relawan yang ada dalam satu lingkup koordinasi.

Melalui langkah ini akan lebih dapat dipastikan titik mana yang sudah dan belum tersentuh oleh langkah penanggulangan bencana. Mari tunjukkan bahwa kita masih punya kapasitas yang khasnya itu. Wallahu’alam.

*M Zakiy Mubarok adalah Ketua Perhumas NTB

Editor : IBA