Dua Doktor Yang tak Punya Pikiran

Dua Doktor Yang tak Punya Pikiran
Foto : Faris Thalib SPs.

Oleh : Faris Thalib*

Pilkada bukan hanya kompetisi antar partai dan calon kepala daerah untuk mendapatkan jabatan, tetapi pada prinsipnya merupakan kesempatan terbaik untuk memberikan evaluasi kepemimpinan lima tahun sebelumnya, lalu menyodorkan konsepsi baru untuk membangun daerah, jalan keluar dari semua problem yang dihadapi publik.

Dengan demikian, Pilkada seharusnya menjadi konstestasi ide dan pikiran. Pikiran-pikiran tentang pembangunan daerah, keadilan, kesejahteraan, pengelolaan sumber daya, penyelesaian konflik, pemerataan pembangunan, penguatan pangan dan lain-lain. Sehingga dalam setiap kampanye, kita akan menyaksikan pertautan pikiran-pikiran para calon, dan publik akan di tarik dalam proses perdebatan pikiran yang disodorkan.

Namun yang terjadi berbeda. Di NTB ada pasangan calon Kepala Daerah yang bergelar “Doktor”, gelar akademis yang prestisius ini menjadi nilai tambah bagi dua pasangan ini dan acap kali dieksploitasi jadi bahan kampanye bahwa mereka adalah pasangan “orang yang berilmu tinggi”, buktinya mereka “Doktor”.

Prestise ini dimunculkan sebagai pujian politik bagi para pendukungnya, hal ini karena kedua pasangan calon tersebut dianggap memiliki kualifikasi keilmuan dan pemikiran yang lebih dari calon lain, dianggap hanya merekalah yang bergelar “Doktor”. Dengan demikian, pasangan merekalah yang pantas memimpin NTB ke depan karena dengan gelar “Doktor” nya akan mampu membangun daerah menjadi lebih baik.

Sekarang kita uji, apakah klaim bahwa dengan gelar prestisius itu lantas dianggap punya kualifikasi keilmuan lebih dan punya pikiran untuk membangun NTB. Untuk mengujinya gampang, lihat visi misinya, karena itu cerminan untuk melihat isi kepala “sang doktor”. Apakah visi misinya benar-benar mencerminkan pikiran seorang “Doktor” atau pikiran “sang pembual”.

Tagline politiknya adalah “NTB Gemilang”, ini adalah kesimpulan besar sebuah visi atau isi pikiran. Secara leksikal tagline itu sangat mewah, namun jika kita periksa lebih intim, maka akan temukan “bangkai kepala”: sebab “NTB Gemilang” bukanlah kesimpulan besar dari visi yang lahir dari isi kepalanya sendiri, tetapi merupakan kesimpulan dari isi kepala orang lain. Karena di balik tagline itu ada kata kunci yang perlu kita zoom, yaitu “Melanjutkan Ikhtiar TGB”.

Itu artinya, mereka meng-copy paste “visi misi” TGB dan mengubah tata bahasanya menjadi lebih menarik agar cita rasanya tidak rasa TGB secara totaliti, lalu hasil visi yang sedikit diedit itu ditafsirkan ulang, dan hasilnya “NTB Gemilang, dengan Melanjutkan Ikhtiar TGB, dan Pilihan TGB Adalah Pilihan ‘doktor'”.

Dengan demikian, dari keadaan itu maka jelas dari kepala “Dua Doktor” itu tidak ada pikiran, bahkan inisiatif untuk berpikir pun sangat lemah. Bahkan tak memberi cerminan politik yang ditampilkan adalah politik “Doktor”, politik akademis, apa lagi politik pikiran sebab bisa dipastikan tidak ada. Terserah kalian menyimpulkan identitas “Doktor” atau “Doktor” yang dibanggakan itu tidak berguna. Saya tidak berwenang untuk memberi kesimpulan seperti itu.

Sebagai politisi “Doktoral”, publik hingga saat ini belum mendengarkan apa pikiran-pikiran Dua Doktor untuk membangun NTB, atau untuk menjadikan “NTB Gemilang”. Jika memang melanjutkan “Ikhtiar TGB”, maka sama saja: tidak ada perubahan, ketimpangan pembangunan semaki lebar, kemiskinan semakin meningkat, dan pulau-pulau indah di NTB akan terus diswastanisasi, dieksploitasi tanpa permisif. KPK menduga, “pembentukan dinasti politik merupakan upaya menutupi korupsi pemerintahan sebelumnya”.

*Faris Talib adalah Peneliti Indonesia Political Studies

Editor : Andi Kurniawan