dr Mawardi: Kapan Pulang, Kami (NTB) Rindu. (Logika kekuasaan Vs Logika Rakyat) (Bag: 2)

dr Mawardi: Kapan Pulang, Kami (NTB) Rindu. (Logika kekuasaan Vs Logika Rakyat) (Bag: 2)
Foto : Satria Madisa Ketua Literasi Kota Mataram

Oleh : Satria Madisa*

Kepentingan Terganggu?

Ada yang tidak logis dalam progres menemukan fakta hukum yang ada. Kejahatan biasanya pasti memiliki motif dan pasti meninggalkan bukti seberapa besar pengalaman dalam hal itu. Dan kalaupun bukan kejahatan tentu penegakan hukum harus menjelaskan kepada publik, paling tidak biar masyarakat NTB tidak disajikan kebingungan yang sebenarnya rasional.

Mengulang pertanyaan di tulisan sebelumnya dengan pendekatan teori kriminal klasik. Siapakah yang diuntungkan dalam menghilangnya/ dihilangkanya dr Mawardi, Karna kemungkinan besar mereka (yang diuntungkan) pelakunya. Sekali lagi jika ini adalah sebuah kejahatan.

Logika rakyat telah membooming. Hastag #2TahunMawardi dan spanduk yang mengungkapkan kerinduan terhadap #2tahunMawardi merupakan bentuk kecintaan dan kerinduan masyarakat terhadap sang Direktur, setidaknya tulisan ini berusaha untuk menjangkau batas logika penulis tentang fakta yang sebenarnya masih misteri.

Belum lagi gerakan sosial lainya yang subtansinya ekspresi kerinduan terhadap kejelasan. Apakah logika rakyat mampu memberikan penyadaran kepada logika kekuasaan. Paling tidak kekuasaan konstitusional mampu mengungkap fakta di balik dua tahun menghilangnya sang dokter?

Jika ini konspirasi maka sekaliber “preman kampung” tidak mampu mengeksekusi sampai pada tanpa bukti. ini artinya “dilakukan penghilangan” karena pengetahuan yang matang dan pengalaman. Jika demikian siapakah aktor intelektualnya. Meminjam pandangan Prof Rocky Gerung, dalangnya ada, tapi siapa yang berani mengatakannya.

Nurani publik sekiranya bisa mengutarakan, tapi tidak bisa menjelaskan secara eksplisit. Karna sederet subversif, entah legal maupun ilegal siap menjadi model pengalihan sampai pada mengasingkan. Saya tertarik mengajukan pertanyaan yang saya kira relevan dengan persoalan ini. Dosa apakah yang dilakukan oleh Dokter Mawardi sampai berujung pada bumi menelannya.

Rahasia apa yang dimiliki oleh Dokter Mawardi hingga membuat dia menghilangkan dirinya. Apakah beliau tidak dirindukan oleh sanak saudara, keluarga, umumnya masyarakat NTB?. Kepentingan siapakah yang telah “terganggu” sehingga dia harus membayar mahal dengan harga yang bernama kemanusiaan yang telah direnggut?.

Polda NTB dekat bersama rakyat. Itu yang selalu dilihat masyarakat NTB dalam setiap baliho besar yang mengabarkan simbol penegakan hukum di Bumi Gora. Satu rakyat (dr Mawardi) menjauhkan dan atau dijauhkan dari kenyataan sosial yang mengharuskan dia ada.

Disinilah terjadi benturan logika rakyat yang mengharuskan hukum yang jujur (equality before the law) dan logika kekuasaan  penegakan hukum yang frame hanya milik elit berkuasa dan beruang. Keadilan tertatih-tatih ditengah bisingnya realitas yang membangun resistensi terhadap keadilan.

Dua tahun masyarakat NTB tertatih mengharapkan kejelasan. Kejelasan tentang fakta. Menghilangnya dimana, dihilangkan oleh siapa dan kalau sudah mati, kuburannya dari mana. Penulis sebut inilah “keadilan yang digantung”.

Di negara rule of law di manakah keadilan bisa kita dapatkan kalau bukan pada penegakan hukum. Di negara demokrasi, ini dimanakah rakyat meminta kepastian, perlindungan, dan keadilan kalau bukan pada pemerintah.

#2TahunMawardi menghilang merupakan “pukulan” untuk penegakan hukum dan pemerintah daerah. Logika hukum yang irrasional harus mendapatkan rasionalisasi. Dua tahun ini waktu yang sangat panjang, namun kepastian hukum tak kunjung didapatkan. Ini maksudnya apa, Pemerintah Daerah “tutup mata” juga maksudnya apa?

Pemda harus bersinergi dengan semua pihak terkait. Ini demi kepastian hukum dan keadilan hukum. Fakta Dokter Mawardi yang menghilang harus mendapatkan kepastian.

Tidak ada kejahatan yang tidak meninggalkan bekas jika itu karna tindak pidana. Dan jika bukan tindak pidana tentu rasionalisasinya harus jelas. namun, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba menghilang.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) harus segera mengusut tuntas. Menghilangnya Dokter karena penyelewengan HAM ataukah tidak?

Misteri Dokter Mawardi harus diungkap. Karena kejahatan atau tidak, pulanglah Dokter Mawardi Kami masyarakat NTB Merindukanmu. #2TahunMawardi #SelamatUlangTahun. (Sambung halaman 1)

*Satria Madisa adalah ketua Literasi Kota Mataram

Editor : Ibrahim Bram Abdollah