Catatan Pengantar: Arah Baru Bima Kita (Bag I)

Catatan Pengantar: Arah Baru Bima Kita (Bag I)

Oleh: Hazairin, SH.,MH*

Otonomi daerah adalah produk luhur reformasi, mengembalikan otoritas Kepala Daerah dari jebakan sentralisasi yang berlangsung selama rezim Orde Baru berkuasa. Otoritas Kepala Daerah berbasis otonomi daerah merupakan jalan lapang membangun daerah yang sesuai dengan kultur, adat istiadat, watak sosial, serta lingkungan geografis yang meliputi daerah itu.

Proses keberlangsungan pembangunan daerah yang selaras dengan asas-asas pemerintahan yang baik, transparan, akuntabel, efisien, hanya bisa tumbuh & berkembang manakala pemimpin memiliki visi politik dan visi pembangunan yang tangguh.

Indikator ketangguhan visi pemimpin memproduksi civil sociaty yang sehat, dunia usaha yang sehat, birokrasi yang sehat, angka kemiskinan yang turun, lapangan kerja meningkat, stabilitas daerah terjaga, gotong royong, cinta kasih antar warga masyarakat dirasakan satu sama lain.

Selain pemimpin memiliki visi yang tangguh, juga membutuhkan keteladan sebagai episentrum yang menumbuhkan benih harapan bagi semua pihak agar perkembangan daerah tidak melenceng dari garis nilai yang diwariskan oleh para pejuang masa lampau.

Keterpaduan visi dan keteladan pemimpin yang dibuktikan secara ril dapat mengikis ketertinggalan pembangunan dan menciptakan inovasi baru bagi kebahagiaan semesta.

Memang ada banyak problem dan tantangan di luar itu yang masih terlihat menganga, seperti miskinnya gagasan DPRD mengartikulasi fungsi-fungsi kedewanan, pimpinan Parpol di daerah yg masih sangat bergantung pada kekuasaan eksekutif, akademisi yang terlibat politik praktis, aktivis tanpa inovasi, monopoli sekelompok orang disektor bisnis, pelaksanaan tender yang tidak membuka ruang kompetisi yang jujur pada semua pelaku usaha.

Dengan visi pemimpin yang tangguh dan keteladan bisa menjadi arah baru bagi semua pihak untuk kembali ke jalur murni seperti merasa terhormat dengan hidup sederhana, bahagia dengan menumbuhkan cinta kasih, tidak rendah diri untuk terus belajar, tidak tinggi hati karena kuasa dan wewenang.

Kenapa memerlukan visi pemimpin yang tangguh?

Ketangguhan visi pemimpin memudahkan pemimpin itu membuat skema pembangunan jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang, baik di sektor struktural maupun di sektor kultural.

Dengan skema itu, pemimpin mudah menentukan arah yang dituju, tetapi akar dari semua itu dasarnya pada kemampuan pemimpin menemukan dan mengenali problem sehingga pemimpin tidak keliru merumuskan konsep sebagai panduan solusi pembangunan.

Singkat kata, memimpin dengan visi menjawab segala tantangan, mengurai segala permasalahan dengan tuntas, memberi solusi di segala kejadian dan menangkal untuk tidak terjadi hal-hal yang membahayakan kepentingan umum. Pemimpin dengan visi yang tangguh tidak menjadikan kendala sumber daya lokal yang terbatas dalam menentukan gerak pembangunan.

Pemimpin yang tangguh sanggup menyiapkan ribuan pilihan alternatif menjawab masalah dengan memanfaatkan networking yang tersedia melalui cara memanfaatkan SDA  yang ada sebagai alat bergaining untuk semata-mata membangun kepentingan umum yang sejuk & bermartabat.

Bagaimana mungkin martabat manusia bisa ditinggikan saat ia kehilangan harapan dan kemandirian. Pemimpin wajib hadir disitu. Problem ketimpangan yang kerap dijadikan intrumen legitimasi gerakan civil socity untuk mengganjal kewibawaan pemimpin, bisa dilunakan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas serta kelapangan nurani pemimpin menerapkan hidup sederhana dalam keseharian.

Bagaimana menakar keteladan?

Pemimpin sejatinya karunia Illahi yang dijaga langsung olehNya. Turunnya kuasa Ilahi menjaga Pemimpin berakar dari kedalaman moral bathin pemimpin menghadirkan sikap jujur, mampu menggenggam amanah, cerdas menyelaraskan tabiat manusia dengan alam serta kecapakan membangun diplomasi lintas wilayah dengan berbagai pihak guna memperjuangkan tegaknya martabat manusia, mewujudkan nilai-nilai keadilan bagi manusia. Itulah inti keteladan seorang pemimpin… (Sambung bagian II: Catatan Pengantar: Arah Baru Bima Kita (Bagian II))

*Penulis adalah salah satu Aktivis 98

Editor: Ibrahim Bram Abdollah