Asian Games 2018 dan Aksi Heroik Presiden Jokowi

Asian Games 2018 dan Aksi Heroik Presiden Jokowi
Foto : Penulis Desvian Bandarsyah

Oleh : Desvian Bandarsyah*

Melihat Jokowi hadir dalam pembukaan Asian Games 2018 dengan gaya milenial membuat banyak pihak kagum dan jengkel. Yang kagum bilang, “Jokowi memiliki ide keren dan berani ambil resiko. Memperlihatkan keberanian dan apik menampilkan diri dalam momen yang disorot jutaan pasang mata di dunia“. Singkat kata dan lain lain.

Bagi mereka yang jengkel. “Jokowi itu norak banget, palsu menggunakan pemain pengganti mirip aktor laga dalam film yang pura pura. Menjiplak ide orang. Menghabiskan uang negara dengan seremonial yang panjang dan mahal“. Singkat kata dan sebagainya.

Kita sama tahu ini tahun politik. Tahun yang hampir setiap aktivitas presiden selalu akan dilihat dalam dua dimensi, baik dan buruk, kagum dan menjengkelkan. Suatu respon yang wajar dalam prosesi ritual demokrasi.

Yang melihat dengan kebaikan dan kekaguman, akan mengeksplorasi detil dari tampilan dan acting Presiden dengan senyuman yang khas Jokowi banget. Bahkan bagaimana ia membelokan motornya dalam kecepatan tinggi dan membawa motor itu terbang melompat (meski menggunakan stuntman) akan dibandingkan dengan kemampuan Valentino Rossi menikung dalam aksi MotoGP.

Belum lagi dalam salah satu adegan yang penuh rekayasa, Presiden Republik Indonesia itu menghentikan motornya dan mempersilahkan penyeberang melintasi jalan yang akan dilaluinya demgan sikap elegan dan sopan. Sikap yang sangat langka di dalam laju kerumitan lalu lintas kendaraan bermotor di lingkungan kita. Adegan itu dilanjutkan kemudian dengan bagaimana Jokowi (tergoda) untuk membuka helm dan memberikan senyum ramahnya kepada seorang penyeberang jalan yang terakhir, siswa sekolah dasar, yang terkesan dengan presidennya dan mungkin ia akan mencontoh perilaku presidennya dalam berkendara.

Seluruh adengan ini ditonton oleh ratusan juta manusia di dunia. Dengan perasaann kagum dan bangga terutama bagi masyarakat Indonesia yang baru merayakan kemerdekaannya. Masyarakat Indonesia sedang bersuka cita, setelah berbagai kado kemenangan tim nasional sepak bola U-16 dan U-21 diraih dalam moment penting, telah membangkitkan suka cita menjadi indnesia. Maka tampilan sang Presiden yang berbeda dalam banyak presiden di dunia, dipandang dapat memuaskan rasa haus generasi milenial Indonesia terhadap sosok idolanya.

Tentu saja para pengagum Jokowi tidak sendiri dalam menikmati presidennya. Ada juga para pihak yang jengkel dalam melihat gaya Presiden RI ini. Mereka yang jengkel tentu saja “menikmati” gaya presiden dari sudut pandang berbeda. Presiden Jokowi penuh kepura-puraan, menggunakan pemain pengganti dalam actinganya itu sebuah kepura-puraan dan menipu. Seolah menggambarkan dalam memutuskan persoalan bangsa juga menggunakan “pemain” pengganti.

Presiden memberi contoh jelek dalam berkendara di jalan yang padat dengan meliuk liuk di antara kemacetan dan itu membahayakan diri sendiri dan orang lain, maka tidak pantas ditiru.

Begitulah bangsa kita melihat presiden dan pernak pernik aktivitas yang dijalani. Pilpres yang masih satu tahun lagi dilakukan, telah mempertajam nalar kritis masyarakat sampai berlipat ganda, bahkan sampai ke tahap sinis. Masyakarat sampai rela kehilangan nalar estetisnya melihat berbagai adegan indah dan keren dalam sekuel iklan singkat yang menampilkan acting presiden.

Presiden Jokowi tentu saja mengambil momentum dan diuntungkan dalam pesta olah raga negara-negara di benua Asia itu. Apalagi itu adalah ritual olahraga dengan melibatkan banyak negara yang telah lama tidak pernah diselenggarakan oleh Indonesia. Terakhir dan pertama kali di era Presiden Soekarno pada tahun 1962. Maka perhelatan ini harus disiapkan dengan sangat baik dan detil. Tampilah presiden dalam adegan demi adegan dengan motor dalam perjalanan ritual menuju arena pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta.

Pembukaan pesta Asian Games 2018 telah dilaksanakan dengan mendapat perhatian dan apresiasi luas dari masyarakat dunia terutama Asia. Semoga pesta ini memberi benefit yang dapat merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa di tengah silang pendapat dalam dinamika keindonesiaan kita.

Semoga atlet atlet Indonesia di berbagai cabang olah raga yang diikutinya juga mampu meraih prestasi maksimal dan mengharumkan nama bangsa.

Biarlah Jokowi sebagai Presiden RI memberikan apresiasi bagi kepetingan kompleks bangsa ini melalui ritual olah raga ini. Sebagai incumben ia tengah bersiap menghadapi lawannya dalam kontestasi pilpres, salah satunya bagaimana memenangkan generasi milenial sebagai pemilih pemula di negeri ini.

Sesekali memuji sesekali mengkritik dalam prosesi demokrasi kita, diyakini akan memberikan kedewasaan bagi kultur demokrasi kita. Sambil bersabar untuk menyimpan amunisi pujian dan kritik karena masih banyak momentum dan peristiwa ke depan dan itu membutuhkan napas panjang dalam mengikutinya.

*Desvian Bandarsyah adalah Dekan FKIP & dosen Pascasarjana Universitas Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Jakarta.