Literasi Media di Era Keberlimpahan Informasi

Literasi Media di Era Keberlimpahan InformasiReviewed by adminon.This Is Article AboutLiterasi Media di Era Keberlimpahan InformasiOleh: Muhammad Anhar* Dulu diwaktu bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga masa awal perkuliahan, untuk mendapatkan informasi terbaru. Banyak diantara kita yang menyempatkan diri mengunjungi perpustakaan untuk sekedar membaca koran, baik edisi hari itu maupun edisi-edisi sebelumnya. Hal ini menujukkan kebutuhan informasi menjadi sesuatu hal yang amat penting, sama halnya dengan kita butuh akan makan […]
Foto: Penulis (istimewa)

Oleh: Muhammad Anhar*

Dulu diwaktu bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga masa awal perkuliahan, untuk mendapatkan informasi terbaru. Banyak diantara kita yang menyempatkan diri mengunjungi perpustakaan untuk sekedar membaca koran, baik edisi hari itu maupun edisi-edisi sebelumnya.

Hal ini menujukkan kebutuhan informasi menjadi sesuatu hal yang amat penting, sama halnya dengan kita butuh akan makan dan minum. Jika makan dan minum diperuntukkan untuk kebutuhan bilogis semata. Maka informasi-informasi terbaru dibutuhkan untuk menjawab rasa ingin tahu kita sebagai manusia.

Jika sebelumnya kita lebih cenderung pro-aktif untuk mencari informasi, kondisi sekarang justru berbanding terbalik, yaitu tanpa dicaripun informasi apapun akan langsung mendatangi kita. Proses kedatangannya beragam yang dibagikan lewat kelompok media baru facebook, WhatsApp, Instagram dan lainnya).

Kesemuanya yang dibagikan hanyalah berupa link dari informasi-informasi tersebut, maka kita memiliki kesempatan untuk membaca informasi tersebut kapan dan dimanapun kita berada. Selain itu cara yang lebih praktis ialah dengan menyalakan notifikasi dari portal berita manapun akan langsung muncul dilayar smartphone kita masing-masing.

Era Keberlimpahan Informasi

Pada 2019 lalu, Asosiasi Penyelenggra Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan bahwa dari total populasi sebanyak 264 juta jiwa penduduk Indonesia, 171, 17 juta jiwa atau 64, 8 % sudah terhubung langsunh ke Internet. Dengan rentan umur paling dominan ialah 15-19 tahun.

Data tersebut hendaknya menjadi catatan serius, bukan dilihat dalam perspektif pencapaian angka keberhasilan melainkan juga harus dilihat sebagai tantangan. Mengapa? Usia 15-19 tahun adalah usia rentan bagi anak-anak muda. Karenanya menjadi keharusan kemudaian memperhatikan konten-konten yang terdapat didalam internet agar tudak disalahgunakan.

Adiarsi (2014) dalam penelitian yang dimuat dalam Jurnal Neliti yang bermitra dengan Perpustakaan Nasional Nasional Republik Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan The Conversation bahwa, pengguna media social di Indonesia ada yang mengabaiskan waktu lebih dari 8 jam dalam sehari dan juga ada yang kurang dari itu. Tergantung kesibukan dan aktivitas kerja.

Ini menujukkan bahwa kita telah berada dalam perkembangan dramatis media komunikasi yang canggih, hal ini membuat kita tidak hanya hidup dalam era “revolusi komunikasi” (Communications Abundance). Tetapi hidup juga diera keberlimpahan komunikasi.

Kemunculanya pun bak seperti sebilah pisau yang memiliki dua sisi yang berbeda. Apakah informasi di dalamnya menjelma menjadi ilmu pengetahuan atau sebaliknya menjadi sebuah krisis baru dalam tatanan social kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Terkait ada sesuatu yang harus diantisipasi secara bersama. Dari keberlimpahan komunikasi, memiliki implikasi serius terhadap krisis budaya komunikasi dan media yang memasuki ruang publik dan ruang privat.

Literasi Media, Pentingkah?

Dennis McQuil sebagai salah pakar yang sangat berpengaruh dalam ilmu komunikasi dari British mengajukan dua pertanyaan mendasar yang harus dijawab masyarakat saat berhadapan dengan sajian media. Pertama ‘siapa pemilik media?’ Pertanyaan kedua yang harus dijawab adalah ‘bagaimana sajian media tersebut diproduksi?.

Tentu untuk mejawab pertanyaan itu harus dilihat bagaimana kedudukan Produser, Media dan Pengguna Media, maka akan terlihat bagaimana pentingnya literasi media untuk aktualisasikan. Pertama, Produser berita mempunyai andil dalam mengkostruksi isi media.

Kedua, media juga memiliki andil untuk mempengaruhi pengguna media dalam kontes individual dan social. Ketiga, pengguna media harus memilki kemampuan untuk meng-handle media, kemampuan tersebut tersebut tewrkait dengan kemampuan untuk memilih informasi yang tepat, mengatur penggunaan dan kemapuan mengiterpretasikan isi media.

Dalam konteks sajian informasi di media, pekerja media memiliki tanggungjawab dalam hal pemilihan topik liputan, penulisan naskah berita, bahkan potret yang akan ditampilkan. Pekerja media harus bijaksana, jangan hanya mengejar kepopuleran tapi mengesampingkan efek atau dampak yang ditimbulkan. Sebagai salah satu pilar demokrasi tentu berkewajiban untuk menjayajikan informasi yang orientasi utamanya bukan sekedar itu saja. Tetapi memiliki tugas dan tanggunjawab untuk mendidik masyarakat umum.

Literasi media harus dimaknai sebagai upaya untuk memberikan panduan tentang bagaimana mengambil kontrol atas informasi yang disediakan oleh media. Semakin paham seseorang terhadap literasi media, maka semakin mampu orang tersebut melihat batas antara dunia nyata dengan dunia yang dikontruksi oleh media dan pada akhirnya itu akan membentuk paradigma berpikir atau opini publik.

Gerakan literasi media harus terus digalakkan dan dijadikan sebagai benteng bagi masyarakat agar kritis terhadap isi media. Literasi media harus dimaknai sebagai satu perspektif dimana kita secara aktif memperkuat diri untuk menafsirkan pesan-pesan yang kita terima serta bagaimana untuk mengantisipasi efek yang dihasilkan berhadapan dengan media.

Sehingga dalam menghadapi era keberlimpahan informasi, setidaknya kita sudah memiliki pertahanan yang cukup kuat. Karenanya dalam kehidupan bermasyarakat paling tidak dengan memperkuat literasi media setidaknya disorientasi informasi dapat dihindari. Kerena betapa banyak konflik-konflik yang terjadi di tengah masyarakat dikarenakan oleh kesalahpahaman dalam mehamami informasi yang diperoleh dari media.

Sikap kritis terhadap isi media diperlukan untuk mencari memilih dan memilah informasi secara efektif yang dibutuhkan bagi penggunanya. Salah satu manfaatnya ialah dapat mengurangi konflik social melalui penggunaan media social dengan bijak dan dapat dipertanggungjawabkan.

*Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Master of Arts (Communication) Universitas Pendidikan Sultan Idris Malaysia

Editor: Ibrahim Bram A