Kiri, Sang Demonstran Gila

Kiri, Sang Demonstran Gila
Foto : Amrullah "Kiri"

Oleh : Faris Talib SPs–Pasca Sarjana Pemikir Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

KIRI, begitu ia dipanggil kawan-kawan semasa kuliahnya. Julukan yang ekstrim bagi anak muda polos sepertinya. Nama lahirnya Amrullah yang berarti “Perintah Allah”. Nama yang indah kedengarannya.

Semasa mahasiswa merupakan pegiat literasi aliran-aliran pemikiran kiri: dari Marx hingga Tan Malaka, dari Democritos hingga Pramoedya Ananta Toer, dari Cicero hingga Soekarno. Membaca banyak biografi para filosuf, para sufi, para pejuang revolusi.

Anak muda yang tekun dan rakus melahap buku-buku berat. Terlibat dalam perdebatan filsafat, mengambil jalan konfrontatif dalam pilihan politik, aktif membangun diskursus ideologi, sosiologi, sejarah, eksistensialis, postmo hingga masalah wujud.

Ia mahasiswa yang kritis dan idealis di masanya. Dengan sikap totalitarian tanpa kompromi dalam gerakan, kerap dimusuhi birokrasi kampus dan juga pemerintah. Ia pernah dijadikan target, hingga akhirnya dalam suatu aksi protes ia dikeroyok, badannya diinjak, mukanya dihantam, kepalanya dipukul. Tak berdaya.

Oleh dokter ia divonis pendarahan ringan di kepala, menyebabkan salah satu sarafnya mengalami pergeseran, membuat kerja otaknya kadang terganggu. Ini adalah cara kerja birokrasi premanism: daya pikir rendah disebabkan daya kerja otot meningkat.

Ia harus istrahat total, memulihkan mental dan jiwa. Dalam keadaan jatuh tak henti ia diuji. Masalah lain datang, ia frustasi lalu menyendiri. Emosinya tak terkontrol. Apa ia gila atau masih waras?

Sesungguhnya ia bukan anak muda yang gampang menyerah, ia tangguh, ia pemberani dan kritis. Ia tak gampang jatuh, berkali-kali jatuh berkali-kali bangkit melawan. Itu sifatnya itu biasa. Ia terlatih menghadapi segala situasi dan emosi. Ia tak berubah.

Beberapa hari ini ia kadang muncul, lewat media sosial ia membuat satire. Semacam meme yang mengejek realitas sosial. Dengan bahasa metofora dan sastra yang tinggi ia membuat komentar yang menggelitik. Orang menilai ia tak waras, tapi itu fakta. Apa yang dikatakannya dengan sastra. kita mau jujur atau terus bersembunyi.

Saya penasaran dengan kisahnya, dengan daya tahannya yang kuat, dengan kejujurannya melihat keadaan, dengan keberaniannya menertawakan diri sendiri. Tak banyak orang seperti itu. Sebaliknya, dari segi devinisi kita mengaku diri waras tapi pikiran dan tingkahlaku kita pongah, bebal dan gila.

Beberapa hari melakukan penelusuran. Banyak jejak digital mengabadikannya. dimulai tahun 2006 hingga saat ini. Tulisannya kritis, tutur kalimatnya rapi dan sistematis. Pikirannya khas filosofis, kadang sulit dipahami, kadang disalahartikan. Tapi satu yang pasti, ia konsisten. Dan sekali lagi, ia tak berubah. Kiri masih seperti dulu.

Saya temui beberapa kawan sewaktu ia mahasiswa, memberi kesaksian yang sama. Setelah membaca rangkaian tulisannya, hingga pertengahan Oktober 2017: “Kiri tak berubah, memang sulit dipahami, tapi itulah dia”.

Tak puas dengan kesaksian kawannya. Saya mengkonfirmasi orang-orang kampus @UniversitasGunadarma di Margonda, Depok. Mereka merasa kehilangan mahasiswa terbaiknya. Dan lagi-lagi memberikan kesaksian: “Kiri mahluk kampus yang melahap banyak buku, konsisten, dan tak pernah berubah”.

Memang banyak pemikir yang dianggap gila di zamannya, tapi menjadi pahlawan di kemudian hari. Saya tidak bermaksud menyamakan. Tapi fakta bahwa dulu Gus Dur ditertawakan dan dianggap “Si Buta yang Gila”; Cak Nur dianggap “Cak Gila”; Martin Luther King dulu ditertawakan dan dianggap “Gelandangan Gila”; begitu juga Gandhi dianggap sakit jiwa.

Kiri, dalam kondisi tertentu bisa menyerupai. Tapi pesan pentingnya adalah, mereka semua orang yang berpikir melampaui keadaan. Ia tetap sabar ditertawakan. Karena itu ia bertahan dalam “kegilaannya”, bukan karena tak mau berubah, tapi untuk menguji kewarasan kita. Wallahu’alam.