Jus Soema Di Praja, Teguhnya Prinsip Wartawan Zaman Old (Bagian II Habis)

Jus Soema Di Praja, Teguhnya Prinsip Wartawan  Zaman Old (Bagian II Habis)
Foto: Penulis Tjahja Gunawan (Penulis Wartawan Senior)

Refleksi Pers Indonesia

Dia juga mengungkapkan kelebihan dan kekurangan para tokoh pelaku sejarah di negeri ini termasuk para tokoh pers Indonesia. Salah satu yang menarik adalah cerita almarhum Ali Sadikin.

Ketika Bang Ali menjadi Gubernur DKI, Bang Jus masih menjadi Wartawan Indonesia Raya. Di kalangan wartawan waktu itu sudah dikenal bahwa karakter Bang Ali orangnya temperamental.

Suatu waktu Bang Jus Soema Di Pradja, sengaja datang ke acara jumpa pers di Balaikota Jakarta. “Sebenarnya waktu itu saya bukan wartawan balaikota tapi wartawan politik. Tapi sengaja saya datang kesana bersama fotografer,” kisah Bang Jus.

Baca juga: Jus Soema Di Praja, Teguhnya Prinsip Wartawan Zaman Old (Bagian I)

Tujuan kedatangannya ke balaikota memang sengaja ingin memancing emosi Bang Ali dengan pertanyaan kritis yang akan dia lontarkan dalam acara jumpa pers.

“Saya sudah pesan ke fotografer agar terus memoto kalau sampai Bang Ali memukul Saya. Kalau dia sampai mukul wartawan, kan bisa menjadi berita besar di Indonesia Raya,” kata Bang Jus menceritakan peristiwa tersebut.

Ketika itu, tutur Bang Jus, wartawan yang biasa nongkrong di Balai Kota umumnya merasa takut sama Bang Ali bahkan juru warta terkesan bisa dikendalikan oleh pemda dengan kompensasi “amplop” atau mendapat keistimewaan untuk berkunjung ke tempat-tempat hiburan di Jakarta.

“Sementara kebijakan di Indonesia Raya setiap ada pemberian amplop dari pihak lain, langsung diumunkan secara terbuka,” ungkap Jus.

Kembali ke jumpa pers di Balaikota, setelah mendengar pertanyaan keras dari Jus Soema Di Pradja, Bang Ali memang akhirnya benar-benar terpancing dan dia turun dari mimbar. Kerah baju baju Bang Jus sempat dipegang namun tidak sampai dipukul.

Selang beberapa lama kemudian, staf Pemda DKI yang mengetahui keluarga Bang Jus memberitahukan kepada Bang Ali bahwa Jus Soema Di Pradja masih memiliki kaitan keluarga dengan keluarga Ali Sadikin.

Beberapa hari kemudian, Bang Ali menghampiri Bang Jus. “Maneh teh masih alo urang atuh Jus. Cik atuh mun aya nanaon teh ngomong langsung ka urang ” ujar Bang Jus menirukan ucapan Bang Ali dalam Bahasa Sunda. Kalau diterjemmahkan ke bahasa Indonesia: “Kamu itu masih keponakan Saya. Kalau ada apa-apa langsung berbicara ke Saya”.

Ya memang di waktu muda semasa masih menjadi wartawan, Bang Jus Soema Di Pradja, berasal dari keluarga berkecukupan. Meski sebagian keluarganya ada yang tinggal di kawasan Menteng Jakarta, namun dia tidak pernah membangga-banggakan keluarganya.

Waktu itu, Bang Jus lebih memilih bekerja sebagai wartawan dengan kehidupan yang sederhana. Pada tanggal 14 Februari nanti, Saya diundang lagi untuk datang lagi ke rumahnya. “Tjahja, nanti datang ya ke rumah, acara ulang tahun saya yang ke 72,” demikian pesan WA dari Bang Jus.

Paling tidak jarak umur saya dengan Bang Jus 20 tahun, tapi saat ngobrol tidak berasa ada generation gap. Saya menikmati cerita dan pengalaman dia sebagai wartawan Zaman Baheula.

Waktu terus berjalan, dan setiap jaman melahirkan generasinya masing-masing. Demikian pula pekerjaan juru warta akan senantiasa dibutuhkan.

Dari dialog panjang lebar dengan Bang Jus, Saya menarik kesimpulan bahwa, Pers yang independen adalah pers yang tidak menghamba pada kepentingan kekuasan dan pemilik modal. Pers yang memiliki integritas dan tanggung jawab. Wallahu’alam.

*Penulis adalah Djus Soema di Pradja Mantan Wartawan Indonesia Raya dan Kompas tahun 60-70 an.

Editor: IKZ02