Jus Soema Di Praja, Teguhnya Prinsip Wartawan Zaman Old (Bagian I)

Jus Soema Di Praja, Teguhnya Prinsip Wartawan  Zaman Old (Bagian I)
Foto: Penulis Tjahja Gunawan (Penulis Wartawan Senior)

Oleh: Tjahja Gunawan*

Refleksi Pers Indonesia

Namanya Jus Soema Di Pradja. Hari Kamis, 14 Februari 2019 nanti, usianya genap 72 Tahun. Saya baru kenal dia pertengahan Januari 2019 lalu, dalam peringatan Tritura yang diadakan InDemo, kumpulan para aktivis mahasiswa dari berbagai generasi di Taman Ismail Marjuki Jakarta.

Perkenalan saya dengan dia berawal dari tulisan yg pernah saya buat yang mungkin pernah viral, kemudian dia sempat baca. Lalu dia tanya temen2nya dan akhirnya menghubungi Saya via WA.

Lalu Bang Jus, saya panggil abang aja, berkirim WA yang intinya menyelidiki dan menanyakan riwayat pekerjaan saya sebagai wartawan. Dan, ternyata sama-sama pernah bekerja di institusi pers yang sama.

Cuma sejak 1978, Bang Jus di usia 31 tahun sudah mengundurkan diri sebagai wartawan. Loh kok mundur? Ya karena dia tidak mau melawan hati nuraninya.

Waktu itu lembaga tempat Bang Jus bekerja menandatangani kesepakatan damai dan permohonan maaf kepada Rezim Orde Baru atas berita-berita yang dianggap mengritik rezim.

Ada 7 media yang pada tahun 1978 pernah dilarang terbit Rezim Orde Baru yakni Kompas, Sinar Harapan, The Indonesia Times, Merdeka, Pelita, Sinar Pagu dan Pos Sore. Setelah membuat surat kesepakatan damai dengan penguasa Orde Baru, akhirnya ketujuh media tersebut bisa terbit kembali.

Kalau pengelola media tersebut bisa kompromi, sebaliknya Bang Jus tidak mau diajak kompromi. Dia lebih mengikuti hati nuraninya sendiri. Oleh karena itu dia memutuskan resign.

Demi sebuah prinsip dan demi hati nuraninya, Bang Jus memutuskan untuk keluar dari Kompas. Selanjutnya dengan bekal uang setengah bulan gaji yakni sebesar Rp 78.000, Bang Jus harus berjuang keras menghidupi istri dan dua anaknya yang masih kecil. Saat mengundurkan diri, Jus juga mengembalikan motor skuter inventaris kantor ke Kompas.

Ketika akhir Januari 2019 lalu Saya bertandang ke rumahnya yang sederhana di Kawasan Perumnas Depok, Jabar, Bang Jus dengan semangat menggebu-gebu mengungkapkan isi hati dan pikirannya.

Sebelum bergabung dengan Kompas tahun 1976, Bang Jus adalah Wartawan Indonesia Raya Pimpinan Mochtar Lubis. Dia memulai karier sebagai wartawan di Indonesia Raya tahun 1970.

Sayangnya, pada tahun 1974, Indonesia Raya dibredel karena peristiwa Malari. “Tapi sebenarnya pembredelan Indonesia Raya berkaitan dengan pemberitaan Indonesia Raya yang mengungkap skandal Korupsi di tubuh Pertamina yang waktu itu dipimpin Ibnu Sutowo,” jelas Jus Soema Di Pradja.

Nah, setelah Indonesia Raya dibredel Bang Jus kemudian bekerja di Harian Kompas pada tahun 1976. Namun baru dua tahun berjalan, Kompas dilarang terbit.

Setiap penutupan surat kabar oleh pemerintah tentu menimbulkan rasa prihatin dalam setiap diri wartawan yang mencintai profesinya. Namun, yang membuat Bang Jus kecewa adalah adanya perjanjian perdamaian antara para pemimpin redaksi tujuh media yang dilarang terbit dengan pemerintah.

Hal itu, kata Bang Jus, telah menghilangkan kebebasan pers yang sesungguhnya. Bang Jus menyadari sikapnya tersebut sangat hitam putih. “Saya dinilai sebagian teman-teman, tidak realistis dalam melihat kenyataan,” ujar Bang Jus.

Tapi, dia tidak mau ambil pusing. Bang Jus lebih memilih menuruti hati nuraninya. Jus memang bukan saingan Mochtar Lubis atau Rosihan Anwar. Ia juga bukan saingan Jakob Oetama atau Goenawan Muhammad.

Dia seperti kebanyakan wartawan lainnya, biasa berbicara kritis terhadap siapapun termasuk kepada teman-temannya sendiri sesama wartawan. Bang Jus cenderung berbicara ceplas ceplos tentang apapun.

Ketika ngobrol dengan Bang Jus di rumahnya, terus terang Saya merasa lelah mendengarkannya. Tapi rasa lelah itu hilang karena Bang Jus bersemangat berbagi pengalaman dan berapi-api menceritakan episode demi episode perjalanan bangsa dan negara Indonesia dalam persepktif wartawan.

Bersambung di bagian II: Jus Soema Di Praja, Teguhnya Prinsip Wartawan Zaman Old (Bagian II Habis)

Editor: IKZ02