Jelang Tiga Tahun Dinda-Dahlan : Antara Harapan dan Kenyataan (Bag : 2)

Jelang Tiga Tahun Dinda-Dahlan : Antara Harapan dan Kenyataan (Bag : 2)
Foto : Syahroel Ramadhoan

Dalam kesempatan tersebut memaparkan sejak tiga tahun terakhir dari tahun 2015 hingga 2017 tingkat  indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bima mengalami kenaikan dari peringkat ke sepuluh menjadi peringkat ke tujuh. Atas capaian tersebut selayaknya kita ikut bangga dan apresiasi, walaupun tidak berbanding lurus atas peningkatan dan kesejahteraan yang merata di segala hal.

Mengawali tahun 2018 dan memasuki tahun ketiga kepemimpinannya, Dinda-Dahlan meminta masukan, saran dan kritik dari segenap elemen masyarakat untuk terus memperkuat ikhtiar membangun daerah. Mau tidak mau Dinda-Dahlan harus menuntaskan semua agenda yang belum sempat ditunaikan selama masa kepimpinannanya. Kesempatan tidak akan datang lagi jika pun ada itu hanyalah takdir kehidupan. Agenda menuntaskan kemiskinan, konflik sosial, maraknya penggunaan narkoba dan sejumlah masalah daerah yang lain adalah agenda yang sangat mendesak untuk diprioritaskan dan tunaikan secepatnya dengan program unggul yang dicanangkan oleh pemerintahan Dinda-Dahlan.

Dinda-Dahla harus menjawab harapan publik dengan kerja yang nyata sebagai tanggung jawab atas kepercayaan yang telah diletakkan oleh segenap rakyat. Sekarang tidak ada waktu lagi untuk duduk tenang dan saling menyalahkan. Sudah saatnya setiap detik dan waktu memikirkan hal yang produktif untuk kebaikan dan perubahan ke arah yang lebih baik. Pemerintah kedepannya tidak boleh absen dan harus hadir di tengah-tengah rakyat yang akan membutuhkan sentuhan dan kerja nyata dari negara. Buat apa rakyat bayar pajak kalau pemerintah tidak bisa menyelami kebutuhan rakyat.

Sebelum mengakhiri tulisan ini saya sangat menaruh harapan besar kepada pemerintah yang dipimpin oleh Dinda-Dahlan yang sebentar lagi akan memasuki umur kepemimpinan yang ke tiga tahun. Bukan hanya harapan saya saja, tapi bisa juga harapan kita semua, bahwa kedepan harus fokus bekerja dan bersungguh-bersungguh untuk menunaikan janji yang termaktub dalam visi “Bima Ramah”.

Tidak ada yang tidak bisa ditunaikan jika kita kompak dan terbuka memperbaiki kekurangan, maka daerah akan memungkinkan jadi daerah yang maju, sejahtera serta menjadi daerah percontohan nasional. Kritik yang konstruktif di sana sini memang harus ada namun jika kita masih cakar-cakaran, bicara hal yang tidak perlu, maka kita sendirilah yang akan menanggung dampak negatifnya kedepan. (IBA)

*Syahroel Ramadhoan Inisiator Generasi Muda Bima Jakarta