Konsumsi Garam Beryodium, Solusi Atasi Stunting di NTB

Konsumsi Garam Beryodium, Solusi Atasi Stunting di NTBReviewed by adminon.This Is Article AboutKonsumsi Garam Beryodium, Solusi Atasi Stunting di NTBMataram (DetikNTB.com),- Komsumsi atau asupan masyarakat NTB terhadap garam beryodium masih rendah. Data dari Badan Pengawas obat dan makanan (BPOM) menunjukkan bahwa asupan garam yodium di NTB masih di bawah 30 ppm. Atau sebesar 54,67 % masih jauh dari standard Nasional sebesar 77,10%. Inilah salah satu yang ditengarai ikut menyebabkan masih tingginya angka stunting di […]

Mataram (DetikNTB.com),- Komsumsi atau asupan masyarakat NTB terhadap garam beryodium masih rendah. Data dari Badan Pengawas obat dan makanan (BPOM) menunjukkan bahwa asupan garam yodium di NTB masih di bawah 30 ppm. Atau sebesar 54,67 % masih jauh dari standard Nasional sebesar 77,10%.

Inilah salah satu yang ditengarai ikut menyebabkan masih tingginya angka stunting di NTB. Data terakhir BPS menunjukan kasus stunting di NTB masih mencapai angka 33,49%.

Untuk mengatasi stunting tersebut, kini Pemda NTB bersama seluruh elemen terkait terus mendorong dan mengedukasi masyarakat agar meningkatkan kosumsi garam Beryodium. Disamping juga mendorong pembangunan industri garam rakyat pada minapolitan Bima untuk memproduksi garam beryodium dengan kualitas yang baik.

“Karena dengan membiasakan masyarakat mengkonsumsi garam Beryodium, dapat menjadi investasi terhadap tumbuh kembang anak,” terang kepala Badan Pusat Obat dan Makanan (BPOM) Mataram, Kamis (15/08).

Selain dapat mengurangi Stunting, juga anak-anak akan tumbuh menjadi Generasi Emas NTB atau GEN tahun 2025. Yakni generasi yang sehat cerdas, sebagaimana menjadi misi pembangunan dalam pencapsian visi NTB Gemilang.

Asisten III Setda NTB, Ir. Hj. Hartina M.Si., saat membuka Focus Group Discussions mengenai Pengawasan Garam Beryodium di tingkat produsen menegaskan bahwa untuk memperbaiki masalah gizi (stunting) pemerintah kini melakukan program fortifikasi pada sejumlah pangan di Indonesia.

Fortifikasi pangan atau pengayaan zat gizi mikro pada bahan makana, kata Hartina adalah proses penambahan mikronutrien (vitamin dan unsur renik esensial) pada makanan. Fortifikasi pangan di Indonesia sendiri terdapat pada tiga makanan yang kerap dikomsumsi masyarakat: garam, tepung terigu, dan minyak goreng sawit.

Kandungan yodioum pada garam sangat penting bagi tubuh. Zat yodium di dalam garam berfungsi membantu tubuh memproduksi hormon tiroid. Sebagai pengatur keberlangsungan proses metabolisme tubuh secara ideal dan fungsi organ tubuh lainnya. Sehingga, garam beryodium ini memiliki peran penting dalam melawan Stunting. (novita-diskominfotik/iba)