Belajar dari Bantargebang, Pemprov NTB Semakin Komit Wujudkan Zero Waste

Belajar dari Bantargebang, Pemprov NTB Semakin Komit Wujudkan Zero Waste
Foto: Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov NTB Najamuddin Amy bersama Kepala Pelaksana PTSP Bantargebang DKI Jakarta, Rezky Febryianto dan ketua forum parlemen Fachrul Mustofa Bantargebang

Jawa Barat (DetikNTB.com),- Untuk membuktiktan komitmen Pemerintah Provinsi NTB dalam mensukseskan program bebas sampah (zero waste) yang regulasinya baru saja disahkan oleh DPRD NTB usul prakarsa Pemprov NTB di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Dr. Zulkielimasnyah dan Sitti Rohmi Djalillah.

Komitmen untuk mewujudkanm NTB zero waste tersebut, media patner DPRD-Pemprov NTB melaksanakan study banding terkait dengan tekhnologi pengelolaan sampah yang dilakukan pemerintah Provinsi DKI Jakarta di TPA Bantargebang, Bekasi Jawa Barat, karena dianggap DKI berpengalaman dalam pengelolan sampah seluruh rumah tangga di DKI Jakarta.

Limbah dari seluruh rumah tangga di DKI tersebut menurut Kepala Pelaksana PTSP Bantargebang DKI Jakarta, Rezky Febryianto, rata-rata menghasilkan 7000-8000 ton per hari dengan ribuan armada truk yang siap mengangkut sampah-sampah dari rumah tangga tersebut.

Dari sampah yang dikelola dengan tekhnologi canggih dan mahal tersebut dapat menghasilkan listrik. Listrik yang dihasilkan dari sampah biasanya akan dijual ke PLN.

“Instalasi pengolahan air sampahnya ada tiga, kemudian kita mempunyai power house memproduksi listrik sejak 2011. Bisa menghasilkan listrik 3 MW yang dijual ke PLN,” terang Rezky, Rabu (24/04) sore kepada sejumlah awak media saat mengunjungi zona satu yakni tumpukan sampah dari ketinggian 35 meter dari dari empat zona yang ada.

Sementara Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov NTB Najamuddin Amy mengatakan, banyak kekhawatiran dan nada pesimistis dari masyarakat tentang program bebas sampah yang dicanangkan Pemprov NTB.

Menurut Najamuddin, cara menjawab keraguan masyarakat dengan belajar, mengadopsi, dan memodifikasi program pengelolaan sampah yang betul-betul dikelola dengan teknologi, hal tersebut ada di TPST Bantargebang dengan segala kompleksitas persoalannya.

“Betul apa yang dikatakan pak Gubernur (NTB) dan Ibu Wagub, apabila sampai dikelola dengan baik bisa menjadi berkah, tapi kalau tidak bisa (dikelola dengan baik) akan menjadi bencana dan sumber penyakit,” ujar Najamuddin saat berkunjung ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (24/4).

Najamuddin memaparkan, total sampah di NTB yang terdiri atas 10 kabupaten kota mencapai 3,388,76 ton per hari. Dari jumlah tersebut, hanya 631,92 ton yang sampai ke 10 tempat pembuangan akhir (TPA) per hari. Sementara jumlah sampah yang tidak sampai ke TPA atau tidak terkelola dan beredar di sekitar masyarakat mencapai 2,695,63 ton atau 80 persen. Sedangkan sampah yang berhasil di daur ulang baru sebesar 51,21 ton per hari.

Najamuddin mengatakan produksi sampah terbesar berada di Kabupaten Lombok Timur sebanyak 801,74 ton per hari, di mana hanya 15,40 ton saja yang sampai ke TPA, sementara 786,26 atau 98 persen tidak sampai ke TPA atau tidak terkelola dengan baik. Urutan kedua ada pada Lombok Tengah dengan 645,73 ton sampah per hari, di mana hanya 12,25 persen yang ke TPA, sedangkan 627,64 ton sampah atau 97 persen tidak sampai ke TPA. Untuk ibu kota NTB, Kota Mataram, memiliki produksi sampah 314,30 ton sampah per hari dengan 273 ton yang sampai ke TPA dan 15,71 ton didaur ulang sehingga hanya 15,59 ton sampah atau 5 persen yang belum dikelola dengan baik.

“Yang tidak sampai ke TPA menjadi sumber penyakit karena beredar di tengah kita (masyarakat),” kata Najamuddin. (Iba)