PT AMNT Diduga Sabotase Duit Milyaran Rupiah Milik Budi Haryanto

PT AMNT Diduga Sabotase Duit Milyaran Rupiah Milik Budi HaryantoReviewed by adminon.This Is Article AboutPT AMNT Diduga Sabotase Duit Milyaran Rupiah Milik Budi HaryantoMataram,- Perseroan Terbatas Aman Mineral Nusa Tenggara (PT. AMNT) diduga mensabotase hak milik Budi Haryanto selaku pembeli barang bekas milik AMNT melalui PT. Sinar Tubalong Mandiiri (STM) miliyaran rupiah. Pasalnya menurut Budi, selaku pembeli barang bekas PT. AMNT mempersoalkan sikap perusahaan karena belum juga beritikad baik menyerahkan untuk proses pengangkutan. Selaku perusahaan yang memenangkan lelang […]
Foto: Gambar lubang tambang PT AMNT di KSB

Mataram,- Perseroan Terbatas Aman Mineral Nusa Tenggara (PT. AMNT) diduga mensabotase hak milik Budi Haryanto selaku pembeli barang bekas milik AMNT melalui PT. Sinar Tubalong Mandiiri (STM) miliyaran rupiah.

Pasalnya menurut Budi, selaku pembeli barang bekas PT. AMNT mempersoalkan sikap perusahaan karena belum juga beritikad baik menyerahkan untuk proses pengangkutan. Selaku perusahaan yang memenangkan lelang belum juga diberikan haknya untuk mengangkut.

“Padahal saya sudah membayar lunas sejak Desember 2015. Saya atas nama Budi Haryanto asal Surabaya, sebelumnya bekerjasama dengan PT. Sinar Tubalong Mandiri (PT STM) dalam bentuk kontrak untuk pembelian scrap (limbah besi) saat PT. AMNT masih bernama PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT),” terang Budi saat jumpa pers, Rabu (14/11) siang di Mataram.

Foto: Pemilik duit miliyaran rupiah Budi Haryanto diduga disabotase PT AMNT

Dia mengaku melalui PT. STM membuat kesepakatan dengan PT. Newmont waktu itu membeli barang bekas dengan jenis grinding ball bekas, general scrap, kabel bekas, conveyor belt bekas, tertuang dalam kontrak nomor SA 1503/001 pada tanggal 1 Desember 2015. Terdapat klausul tambahan bahwa batas akhir kesepakatan itu tanggal 30 Juli 2017.

Menurutnya, meskipun PT. NNT diakuisisi PT. AMNT namun perjanjian tetap berlaku sehingga material barang bekas itu beralih tanggungjawab ke AMNT dan perjanjian berlaku. Setelah ada kesepakatan itu, Budi membeli barang bekas tadi dengan kuantitas 7000 ton tersebut seharga Rp 1100 per kilogram. Sehingga nilai total harga jual Rp 7.892.500.000.

“Setelah saya lunasi, saya melakukan pengangkutan bertahap. Pengangkutan pertama tahun 2016 untuk 4.553 ton dengan harga barang Rp 5.134.333.263. Sehingga kemudian tersisa barang bekas sebanyak 2.446 ton dengan nilai Rp 2.758.366.263 yang akan saya angkut berikutnya tahun 2017,” terangnya.

Namun saat akan mengangkut tambahnya, muncul lah surat dari PT. AMNT tanggal 14 Mei 2018 yang terkesan menghalangi upayanya mengangkut barang bekas sisa tahap kedua. Dalam surat itu pihak PT. AMNT berpegang pada perjanjian bahwa kontrak berakhir tanggal 30 Juli 2018.

Saat dirinya akan mengambil barang tahun yang sama melalui PT. STM, tiba tiba pihak perusahaan menyampaikan berbagai alasan. Melalui email yang diterima tanggal 14 Mei 2018 itu pihak PT. AMNT justru memberikan opsi berbeda. Pertama, PT. AMNT menawarkan uang Rp 2,7 miliar kembali dengan utuh plus bunga deposito per tahun. Opsi kedua, sisa barang bekas yang belum diangkut sebanyak 2,4 ton tetap bisa diambil dengan syarat, pihak PT. STM bisa menunjukkan dokumen yang diperlukan untuk pengangkutan seperti Izin Pemuatan Barang (IPB) bisa dilengkapi.

Pada penutup surat, PT. STM diberi batas waktu sampai 28 Mei untuk menyatakan sikap. Jika tidak ada respon, maka dianggap memilih opsi pertama, uang dikembalikan. Walaupun ada surat itu, dia tetap kirim kapal untuk angkut barang bekas itu dan nyandar di Pelabuhan Benete.

Namun sampai dengan tanggal 10 November 2018 setelah 12 hari parkir, upayanya mengangkut barang bekas yang jadi haknya itu dihalang halangi. Bahkan dicegat security PT. AMNT.

Dia tidak ingin ada opsi lain. Ia hanya ingin barang diangkut karena sudah anggap sebagai hak. Artinya, katanya tetap menjalankan opsi kedua bahkan sebelum diberi pilihan karena dokumennya sudah tidak ada masalah. Buktinya, pengangkutan pertama sudah selesai IPB dan dokumen lainnya dan sudah bayar pajak 2 persen ke negara.

“Toh, jika opsi pertama yang berlaku, sampai dengan Oktober uang tak kunjung direalisasikan. Malah PT. AMNT mengutus pengacara menemuinya,” keluhnya.

Sampai saat ini dua opsi itu tak dijalankan itu tak direalisasikan. Baik dalam bentuk penyerahan sisa barang bekas maupun dalam bentuk pengembalian uang. Akibat gagal mengangkut material itu, dirinya merasa dirugikan secara moril dan materiil. Dia harus menanggung rugi sewa kapal Rp 490 juta, belum harus membayar maintenance dan ABK. Belum lagi harus sewa sandar Rp 25 juta per hari.

“Kapal terpaksa saya kembalikan kosong,” imbuhnya.

Hingga berita ini dinaikkan, pihak PT AMNT belum memberikan jawaban atas persoalan tersebut.  (Iba)