8-9 Desember Kota Mataram Akan Dimanjakan Oleh Musik Jazz

8-9 Desember Kota Mataram Akan Dimanjakan Oleh Musik Jazz
Foto: Penyelenggara musik jazz melakukan konferensi pers di Hotel Santika

Mataram,- Music jazz akan hadir di tengah Kota Mataram. Lewat event Mataram Jazz & World Music Festival 2018, kolaborasi musisi jazz nasional dan lokal akan menghibur warga Kota Mataram, dan para pecinta musik jazz pada khususnya.

Kegiatan yang bertajuk “Sound of Humanity” ini akan digelar di Lapangan Sangkareang pada Sabtu-Minggu, 8-9 Desember 2018 mendatang. Pemilihan lokasi bertujuan agar memudahkan seluruh masyarakat hadir menyaksikan event yang dihajatkan sebagai bagian kampanye “MoveOn” setelah Lombok didera bencana gempa.

“Acara ini kami hajatkan untuk semua pihak serta masyarakat yang terlibat selama penanggulangan gempa,” kata Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana.

Gempa yang terjadi sejak 29 Juli hingga 19 Augustus lalu berdampak juga bagi Kota Mataram. Selain mengakibatkan kerusakan rumah, kantor, dan fasilitas lainnya, masyarakat juga mengalami trauma panjang. Sebulan setelah gempa warga Kota Mataram masih tidur di tenda pengungsian.

“Teman-teman sudah tahu dan merasakan sendiri bagaimana kondisi saat itu,” ungkap Wakilj Walikota Mataram, H Mohan Roliskan, Senin (3/12).

Oleh karenanya, Pemerintah Kota Mataram pun meluncurkan tagline “Mataram MoveOn”. Tujuannya, agar masyarakat yang masih trauma bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Kantor kembali normal, sekolah kembali aktif, dan perekonomian kembali pulih. Mohan sendiri langsung terjun ke lapangan untuk mengkampanyekan “Mataram MoveOn” itu.

Mataram Jazz& World Music Festival 2018 ini, kata Mohan, kelanjutan dari berbagai program untuk pemulihan pasca gempa itu. Festival ini juga menjadi ajang reuni bagi para relawan, pegiat kemanusiaan, dan semua pihak yang terlibat sejak awal gempa hingga pemulihan pasca gempa.

“Relawan, TNI, Polri, BNPB, BPBD, lembaga kemanusiaan, dan semua yang terlibat sejak awal gempa rasanya perlu kita kumpul bersama dalam suasana santai. Nah event inilah yang menjadi ajang kita kumpul bersama,” katanya.

Beberapa pertemuan semua relawan dan pihak yang terlibat dalam penanganan gempa sudah beberapa kali bertemu. Tapi pertemuan itu dalam suasana formal. Pertemuan itu banyak membahas langkah-langkah penanganan pasca gempa. Mohan menginginkan, pertemuan kali ini dalam suasana santai. Pertemuan ini lebih banyak mendengar cerita para relawan di lapangan. Pertemuan ini juga mempertemukan para korban gempa dan para relawan.

“Kita silaturahmi, ngobrol santai sambil menikmati hidangan musik jazz,” ujarnya.

Melalui kesempatan ini lanjut Mohan, mengundang seluruh relawan, lembaga kemanusiaan, aparat pemerintah yang sejak awal membantu korban gempa agar bisa hadir. Mohan juga mengundang para pecinta jazz dan seluruh warga Kota Mataram dan sekitarnya untuk datang menonton. Selain bisa menyaksikan penampilan para musisi jazz, penonton juga bisa melihat stand-stand bazar di sekitar lokasi.

Sementara itu, Ketua Panitia Mataram Jazz& World Music Festival 2018 Imam Sofian menambahkan, kegiatan ini dirancang oleh para seniman yang sekaligus relawan. Pada saat gempa terjadi, para seniman ini terlibat menjadi relawan. Mereka menyalurkan bantuan logistik, membangun rumah hunian sementara, memberikan trauma healing, dan kegiatan kemanusiaan lainnya. Hingga hari ini pun kegiatan mereka membantu para korban masih tetap dijalankan.

Dalam event ini, panitia yang tergabung dalam Bandini Production menghadirkan musisi dari dalam dan luar Kota Mataram. Musisi yang hadir adalah Tohpati Ethnomission (jakarta), Jason Ranti (Jakarta), Dua Drum (Jakarta)Astrid Sulaiman Quartet (Ubud), Jazz Muda Indonesia feat Agis Kania (Jakarta) Ary Juliant (Mataram), Sura Dipa (Mataram), Cerita Fatmawati (Jakarta), Jazz Double Quartet / Jadeq (Mataram), Sambava (Sumbawa), Neo Decker (Mataram), Pesawat Kertas (Mataram) One & Flower (Mataram), Don’t Tell Mom (Mataram), Pelita Harapan Jazz Project feat JKR (Mataram).

“Komitmen awal kami setiap menghelat acara selalu memberi panggung bagi musisi Nusa Tenggara Barat,” kata Imam. (Iba)