Warga Lombok Tengah Bubarkan Paksa Massa Penolak Neno Warisman Cs

Warga Lombok Tengah Bubarkan Paksa Massa Penolak Neno Warisman Cs
Foto: Sejumlah massa aksi yang membubarkan massa aksi yang ingin menolak Neno Warisman di depan BIL.

Lombok Tengah,- Para demonstran yang menolak kedatangan ustazah kondang dan kontroversial, Neno Warisman dibubar paksa oleh warga Tanak Awu saat melakukan aksi penolakan di depan Lombok Internasional Airport, Rabu (6/3).

Salah satu warga yang ikut menolak aksi penolakan itu, Mamiq Danu kepada sejumlah awak media menegaskan, jika pengusiran warga kepada para demonstran tidak ada kaitannya dengan politik sama sekali.

“Kami hanya tidak mau nama Bandara, nama daerah dan nama Tanak Awu secara khusus tercemar dan tidak baik karena gara-gara orang lain yang demo di sini,” tegas pria yang juga menjadi anggota Badan Keamanan Desa (BKD) Tanak Awu ini.

Bersama puluhan masyarakat, Mamiq Danu meminta kepada para demonstran untuk menghentikan aksi mereka di depan bandara. Apalagi, potensi konflik bisa saja terjadi lantaran para demonstran mengatas namakan diri mereka sebagai masyarakat Sasak secara umum dengan nama organisasi Anak Republik.

Lebih jauh Mamiq Danu mengatakan, warga lingkar bandara khususnya Tanak Awu dan sekitarnya tidak pernah menolak kedatangan siapapun yang datang ke Lombok melalui LIA.

Kecuali jika tujuan kedatangan orang itu adalah untuk merusak persatuan dan kesatuan masyarakat Sasak serta ingin merusak citra pariwisata yang sedang dibangun oleh pemerintah daerah saat ini.

“Kalau orang mau datang, kenapa harus ditolak, apalagi sampai demo, itu nanti malah bisa jadi konflik dan kami tidak inginkan hal itu,” lanjut dia.

Sebagaimana diketahui, kedatangan Neno Warisman di Lombok, Rabu (06/3/19) menuai pro dan kontra dari masyarakat. Puluhan masyarakat yang mengatasnamakan Anak Republik menggelar aksi tolak neno di depan Bandara International Lombok (BIL).

Mereka datang dengan membawakan sepanduk bertuliskan ‘Kami warga NTB menolak keras kedatangan Neno Warisman yang mereka nilai sebagai penyebar kebencian dan provokasi’.

Mereka mendesak Pemprov NTB mempertimbangan kedatangan Neno Warisman karena khawatir akan terjadi konflik sosial di tengah masyarakat.

”Kami menolak keras orang penyebar kebencian dan provokasi dan kami minta pemerintah mempertimbangan kedatangan Neno,” tegas Selamet Riadi alias Rebe yang menjadi korlap aksi pada saat itu. (Iba)