Prof Natsir Sarankan Farouk Muhammad, Evi dan Marwan Berdamai

Prof Natsir Sarankan Farouk Muhammad, Evi dan Marwan Berdamai

Mataram (DetikNTB.com),- Perseteruan calon Anggota DPD RI Dapil NTB no urut 27, Jenderal (purn) Farouk Muhammad dengan penghubung (Liasion Officer) peraih suara terbanyak calon anggota DPD RI Dapil NTB no urut 26, Evi Apita Maya yakni Marwan Galle (MG) di Polda NTB atas laporan dugaan penghinaan diduga dilakukan oleh MG yang diberitakan detikntb.com pada, 13 Juli 2019 lalu disarankan berdamai.

Atas laporan yang masuk di Polda dengan nomor RS3/172/VII/2019 tertanggal, 18 Juli 2019 dengan terlapor Evi Apita Maya dan Marwan Galle tersebut, tokoh Bima Dompu di Mataram yakni Prof. Dr. M. Natsir menyarankan mereka untuk berdamai.

“Saya melihat kalau konflik politik itu sebaiknya diselesaikan dengan jalur politik. Karena apa, di poltik itu hari ini beda dengan besok, siang ini beda dengan sore, sehingga dinamikanya cukup tinggi dan biasanya dinamika politik ini ada kepentingan tertentu. Nah saya selaku tokoh menyarankan  untuk melakukan komunikasi politik untuk menuju perdamaian,” saran Ketua Rukun Keluarga Bima (RKB) Pulau Lombok saat ditemui di Mataram, Selasa (23/07) siang.

 

BERITA TERKAIT: Farouk Muhammad Resmi Polisikan Evi dan Marwan ke Polda NTB

 

Karena katanya, delik politik seperti ini cukup dengan saling meminta maaf sehingga perlu dibangun politik yang arif dan bijaksana karena ini berkaitan dengan moralitas.

Tokoh Bima yang baru saja dikukuhkan menjadi guru besar Universitas Mataram (Unram) ini menerangkan, untuk menyelesaikan konflik yang sudah masuk ke ranah hukum tersebut ada dua cara, yakni penyelesaian dengan cara non-penal dan cara Penal.

“Non penal itu dengan menggunakan kearifan-kearifan lokal dan menggunakan jalur adat istiadat. Nah kalau penal ini kan menggunakan hukum pidana, dan biasanya menggunakan itu (jalur penal) menyita waktu, menyita biaya lalu tidak saling sapa tidak saling bersilaturrahim. Sedangkan politik inikan butuh silaturrahim butuh komunikasi. Kalau dia menggunakan poitik konflik itu akan menjauhkan tokoh dengan masyarakatnya atau tokoh dengan tokoh itu,” terangnya.

“Saran saya selaku ketua RKB Pulau Lombok menggunakan jalur mediasi lah, musyawarah mufakat saling memaafkan,” saran Wakil Rektor III Unram ini.

Tokoh Bima yang dikenal tegas ini memahami apa yang dilakukan oleh seorang anak muda seperti MG, sangat berapi-api karena darah mudanya. Tapi kalau didekati dengan cara kearifan dan kebijakan, Ia meyakini anak muda seperti MG akan jauh lebih paham.

“Tinggal bagaimana orang tua seperti kita ini dengan penuh hati dengan sungguh-sungguh la’allakum tattakuun lah pendekatan agama ini, ketakwaan kesabaran menjadi sebuah modal untuk kemenangan. Saya melihat (dengan cara) itu penting,” terangnya.

 

BACA JUGA: Evi Apita Maya Tuding Jenderal Farouk Penipu Kelas Berat

 

“Untuk Marwan, Jangan semata-mata karena kepentingan kliennya, tapi juga kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Karena ibu evi yang dibela ini juga kan menjadi wakil rakyat sehingga dia juga akan butuh rakyat gitu,” tambahnya.

Sementara,  Jenderal (purn) Farouk Muhammad menurutnya adalah tokoh nasional dan orang tua bagi masyarakat NTB. Sebagai tokoh nasional saran Prof Natsir, untuk membangun komunikasi dengan beberapa tokoh yang ia kenal dalam rangka memediasi penyelesaian kasus tersebut.

“Kalau Prof Farouk kan beliau adalah seorang tokoh dan orang tua kita semua, ya bisalah dipanggil lewat siapa, lewat saya juga bisa sehingga boleh lah bincang-bincang dari hati ke hati kan, itu akan jauh lebih indah dibandingkan penyelesaian lewat jalur hukum. Karena di situ ada waktu, ada biaya, putus hubungan silaturrahim gitu,” sarannya.

“Pak Farouk ini kan orang tua kita semua, saya juga sering bincang-bincang dengan beliau. Beliau harusnya menjadi teladan bagi kita sehingga beliau itu kita harapkan menjadi tokoh bangsa lah tidak lagi tokoh NTB. Oleh karena itu kita sama-sama harus hormati beliau karena beliau juga berjasa membangun NTB, saudara Marwan jangan lupa itu gitu,” tutupnya. (Iba)