Paradesa Villa, Sebuah ‘Kampung Klasik’ Dikemas Modern di Tengah Trawangan

Paradesa Villa, Sebuah ‘Kampung Klasik’ Dikemas Modern di Tengah Trawangan
Foto: Tampak Paradesa Villa yang bangunan menggunakan konsep lumbung seperti rumah masyarakat sasak zaman dulu

Lombok Utara (Detik NTB),- Gili Trawangan menjadi tujuan para wisatawan serta menjadi primadona bagi penikmat wisata dunia, yang tempatnya berada di tengah laut sebelah utara Kabupaten Lombok Utara menambah keunikan tempat ini. Tidak jarang para wisatawan seluruh dunia menghabiskan waktunya untuk berlibur di tempat ini.

Di tempat ini, terdapat banyak villa dan hotel yang berjejer yang disuguhkan untuk wisatawan menikmati liburan yang nyaman dengan pantai yang indah serta villa dan hotel dengan bangunan konsep yang berbeda-beda.

Detikntb.com berkesempatan berkunjung di sana menikmati suguhan atmosfir wisata yang keunikannya jarang ditemukan di tempat lain.

Baca juga: 

Namun dari semua bangunan di tiga Gili yang ada di utara Lombok tersebut, terdapat sebuah Villa unik dan menarik perhatian yakni bangunan Villa diberi nama Paradesa. Pasalnya, bangunan yang dikemas menarik terkesan unik dan klasik tersebut berada di sebuah perkampungan di tengah Gili Trawangan.

Villa ini tampak biasa jika dilihat dari depan seperti kebanyakan bangunan pada umumnya, namun ketika masuk ke dalam, wisatawan akan merasakan atmosfir yang khas disuguhkan dengan bentuk bangunan yang bulat dan unik dan tampak kita berada di zaman klasik Lombok.

Tamu atau wisatawan asing menyebutnya dengan ‘Little of gem in the middle of Trawangan’ (permata kecil di tengah Trawangan).

Konsep bangunan Paradesa sendiri menurut keterangan General Manager, Rizal Tanudharma, saat bincang dengan media ini, Minggu (24/03) siang, adalah dengan konsep rumah tradisional Lombok (traditional house Lombok) dengan tema Lumbung. Menurutnya, tempat tidur masyarakat Lombok dulu dari Lumbung sebuah rumah adat khas suku sasak.

“Jadi, Paradesa ini emang kita ngambil traditional house Lombok dengan tema ini lumbung. Dahulu kala orang-orang Lombok tidurnya di Lumbung, rumahnya seperti Lumbung tapi kita bikin semi modern,” terangnya.

Namun menurutnya, fasilitas kamar tidak semuanya mengunakan alat yang dipakai seperti isi rumah masyarakat sasak di zaman dulu, namun konsepnya dikemas modern dengan tidak menghilangkan nuansa klasiknya. “Untuk kelengkapan dalam kamar mungkin tidak seperti rumah zaman dahulu sudah kita kita modified lah mengikuti kebutuhan modernnya,” katanya.

Konsep Paradesa ini dibuat sesuai dengan namanya yakni ingin menciptakan suasana desa di Lombok dulu sesuai dengan bangunan dan kamarnya yang tradisional Lombok dengan konsep green (hijau) dipenuhi pohon. “Cuma kita bikin sedikit modern, karena ga mungkin kita bikin tema zaman terdahulu (100%) karena akan terlihat kotor ya,” cetusnya.

Untuk tamu sendiri tambahnya, 90 persen wisatawan dari mancanegara seperti dari negara-negara Eropa dan negara lainnya di dunia, sisanya adalah wisatawan lokal dengan harga terjangkau mulai dari 450 – 1,3 juta rupiah.

Dari sisi kuliner yang disediakan lebih kepada kuliner eropa. Namun untuk wisatawan lokal, untuk menu makanannya sesuai pesanan dan tidak terdapat dalam daftar menu. (Iba)