Isnaini : IDP-ADI Akhir Dari Rivalitas GOLKAR-PAN

Isnaini : IDP-ADI Akhir Dari Rivalitas GOLKAR-PAN
Foto : Indah Damayanti Putri dan Ady Mahyudi

“Tak Ada Teman Abadi Dalam Politik, Tak Ada Lawan Abadi Dalam Politik” Adigium.

Dalam sejarah Pilkada Kabupaten Bima, Rivalitas GOLKAR-PAN bukan lagi sesuatu yang mengagetkan. Sejak rezim Pilkada langsung dihelat, GOLKAR-PAN tidak pernah berkoalisi dalam mengusung calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Bima. Hal ini dapat dimaklumi, karena 2 partai tersebut merupakan partai besar di Kabupaten Bima. Entah ini dipengaruhi oleh situasi politik atau memang karena ada elit yang memang berkasak kusuk sengaja untuk memisahkan 2 kekuatan politik besar ini. Tentu ini menjadi misteri politik.

Beberapa hari yang lalu, ada sesuatu begitu sungguh menarik. Pertemuan yang mencoba memutus rantai rivalitas GOLKAR-PAN. Tentu mereka yang bertemu bukan sembarang orang, melainkan memang orang-orang yang biasa menjahit koalisi dalam setiap momentum politik di Kabupaten Bima. Ini semacam terjadi kemajuan politik sekaligus menepis isu bahwa hal demikian tidak mungkin terjadi.

Atas pertemuan tersebut, penulis seperti di ingatkan oleh kata “politik merupakan seni mengelola kemungkinan”. Dan benar adanya, mereka yang bertemu adalah orang-orang yang sedang mengelola kemungkinan yang dimaksud. Kemungkinan IDP berpasangan dengan Ady Mahyudi.

Dari informasi yang penulis dapat akses, Ady Mahyudi dijadikan pilihan sebagai pasangan IDP, tentu dikarenakan oleh pertimbangan kans kemenangan yang besar. Secara politis, sebaran wilayah elektoral Ady Mahyudi mampu menutupi dan menambah kekurangan elektoral IDP. Katakanlah misal di Wera-Ambalawi, Kae, Bolo, serta Sape, Ady Mahyudi masih memiliki kekuataan politik. Di daerah tersebut bukan berarti IDP lemah secara politik, tidak. Ini sangat berkait erat dengan tingkat popularitas, kesukaan dan elektabilitas ketika IDP mengambil figur yang baru muncul.

Lalu kedua, jika Ady Mahyudi sebagai pilihan pasangan IDP maka ada kemungkinan terbesar PAN juga akan memberi dukungan terhadap Ady Mahyudi. Sebagai pengurus wilayah dengan jabatan struktural Ketua OKK, Ady Mahyudi tentu tidak sulit mendapatkan rekomendasi dari PAN. Walaupun Ketua PAN Kabupaten Bima telah mengambil ancang-ancang untuk maju sebagai kandidat Bupati Bima.

Ketiga, ada keyakinan mereka yang bertemu bahwa Ady Mahyudi merupakan petarung politik dengan nyali cukup besar. Pertimbangan ini dalam rangka menepis bahwa Ady Mahyudi tidak akan berani meninggalkan kursi DPRD Provinsi NTB yang baru saja diraih dalam arti secara finansial telah terkuras untuk kampanye pileg. Ady Mahyudi dianggap bukanlah fakir politik. Ini berdasarkan pertimbangan dalam setiap perhelatan agenda politik di Kabupaten Bima.

Walau alasan keempat dijadikan rahasia, tapi penulis ingin menerawang bahwa ternyata selama ini walau di 2015, IDP dan Ady Mahyudi merupakan rival politik tapi hubungan personal mereka cukup dekat. Ada komunikasi sangat cair tidak terputus yang memang secara politik tidak diketahui publik. Ini menandakan kedua belah pihak sesungguhnya ada chemystri.

Dari alasan yang penulis urai diatas, memang tidak cukup kuat untuk dijadikan sebagai rujukan analisis paket IDP-ADI Akan terjadi. Tapi bukankah politik itu penuh misteri.? Misteri itulah yang tidak akan pernah dibuka ke publik, kenapa paket IDP-ADI dijahit oleh mereka-mereka yang melakukan pertemuan. Jika melihat track recordnya, dapatlah dikatakan mereka yang melakukan pertemuan adalah pembisik dan memang memiliki andil dalam setiap langkah politik IDP maupun Ady Mahyudi.

Ada 2 kemungkinan pertemuan itu bisa terjadi, pertama karena keinginan mereka masing-masing dan kedua bisa jadi adalah atas restu dari IDP dan Ady Mahyudi dalam agenda mencoba membuka komunikasi penjajakan awal. Lagi lagi bukankah politik penuh misteri.?

Penulis : Muhammad Isnaini AR, Direktur Eksekutif Independent Democracy Policy “INDeP”