IDP Rising Star Dan Halusinasi Lawan Politik

IDP Rising Star Dan Halusinasi Lawan PolitikReviewed by adminon.This Is Article AboutIDP Rising Star Dan Halusinasi Lawan PolitikPolitisi cerdik dengan segudang strategi brilian, itu yang tergambar dalam wajah publik ketika IDP mengumpulkan 11 pimpinan parpol Kabupaten Bima. Semiotiknya, IDP telah menggenggam nadi politik Kabupaten Bima. Secara politik, manufer dengan beragam narasi yang terbangun selama ini hanyalah kelakar politik recehan. Tentu saja publik bertanya, bagaimana bisa dengan mudahnya IDP mengumpulkan 11 pimpinan partai […]
Foto : Muhammad Isnaini AR Direktur Eksekutif Independent Democracy Policy (INDeP)

Politisi cerdik dengan segudang strategi brilian, itu yang tergambar dalam wajah publik ketika IDP mengumpulkan 11 pimpinan parpol Kabupaten Bima. Semiotiknya, IDP telah menggenggam nadi politik Kabupaten Bima. Secara politik, manufer dengan beragam narasi yang terbangun selama ini hanyalah kelakar politik recehan.

Tentu saja publik bertanya, bagaimana bisa dengan mudahnya IDP mengumpulkan 11 pimpinan partai disaat bersamaan ruang publik sedang disesaki oleh memanasnya konstalasi politik pergantiaan kekuasaan di Kabupaten Bima. Apapun alasannya, ada gambaran jelas bahwa kekuatan politik masih tersentral dalam genggaman IDP.

Jika kita cek lebih dalam dengan nalar yang jernih, pertemuan tersebut tak lain hanyalah gambaran besar akan kedigdayaan politik IDP. Isu selama ini IDP Gagal, IDP akan menemui kendala yang berarti untuk kembali bertarung sangat mudah ditepis hanya dengan cara IDP memanggil para ketua Parpol untuk berbicara di Mataram. IDP membuat mereka para tetua partai bertekuk lutut.

Gambaran ini tentu memperkuat analis yang berkembang diruang publik, bahwa tidak ada yang cukup serius untuk melawan IDP. Semua manufer dan pernyataan diri sebagian ketua partai selama ini hanyalah cara untuk menaikan bergen politik dengan harapan diambil oleh IDP sebagai wakil dengan kata lain, Pilkada ini adalah bursa wakil bukan bursa Bupati.

Tidak bolehkah Bupati bertemu dengan pimpinan parpol.? Boleh saja, tidak ada yang melarang. Tapi ini akan menjadi aneh disaat suasana politik memanas dengan argumentasi semua ingin melawan IDP. Jika benar serius melawan, lalu kenapa harus mengikuti kemauan IDP untuk hadir dalam pertemuan tersebut. Itu pointnya.

Ada pula rumor yang berkembang, para Ketua partai tidak mengetahui bahwa semuanya dikumpulkan IDP alias mengira hanya pertemuan person by person. Tapi ternyata semua terkumpul dalam satu meja yang sama. Rumor inilah yang semakin memperkuat bahwa memang IDP cukup lihai dalam mengelola dan meracik cara untuk memuluskan keinginan politiknya jika tidak ingin mengatakan IDP berhasil mengelabui para Ketua partai.

Sekali lagi, pasca pertemuan tersebut publik telah cukup paham bahwa IDP punya cara membunuh lawan politik tanpa harus mereka merasa sakit. Ini tidak bisa dilakukan oleh politisi yang tidak memiliki kualifikasi mumpuni. Begitulah cara IDP memberi sinyal ke publik dalam menundukan lawan politik. IDP sudah hitung secara matang, ketika pertemuan ini pada nantinya bocor ke publik maka posisinya akan diuntung secara political opinion.

IDP Rising Star.

Bintang yang bersinar, dia memancarkan cahaya yang sungguh kemilau diantara redupan cahaya bintang lainnya. Kemilaunya memberi setitik cahaya sebagai penerang kegelapan.

Sekarang, saat ini politik Kabupaten Bima sedang gelap sehingga tidak mengherankan publik meraba raba akan seperti apa konstalasi pilkada 2020. Siapa lawan siapa. Siapa menantang siapa. IDP akan berhadapan dengan siapa dan IDP akan berpasangan dengan siapa.

Pertemuan IDP dengan 11 pimpinan parpol merupakan bagian dari cahaya bintang yang bersinar. Titik cahaya itu telah terpancang ke ruang publik lalu publik menangkap dan mengetahui dengan pasti ada bintang yang bersinar ada bintang redup cahayanya.

Pasca ini, halusinasi politik lawan politik IDP masih akan mengisi ruang publik.

Sinetronnya masih panjang dan DAHLAN pun masih menanti dicabang penantian.

Penulis : Muhammad Isnaini