Detik NTB

Berita Nusa Tenggara Barat

Breaking News Headline Politik Sosok

Arah baru disalah-kaprahkan neoliberalisme

Oleh: Nasrul Izza*

Akhir-akhir ini kita disuguhkan dengan metamorfosis dinamika politik yang tidak fundamentralistik seolah menjadi tontonan yang monoton, balada dagelan politik yang diperankan oleh dalang dan wayang, sehingga marwah politik kehilangan esensinya.

Partai gelora Indonesia adalah partai modern baru, pergerakan baru untuk untuk menyelesaikan krisis narasi dan krisis kepemimpinan. Dan ini akan menjadi akselerasi politik ke arah yang lebih produktif, kontributif dan komperhensif. kendati pun menjadi perkembangan arah baru dinamika politik yang lebih monolitik.

Kepemimpinan dalam gelora harus memiliki narasi yang kuat, lebih inspiratif dan solutif, eksis dalam polemik kemudian memiliki etika, karakter moral dan karakter kinerja yang lugas. Memiliki etika politik yang kuat untuk bisa menjelaskan atau mengimplementasikan-kan legitimasi politik serta budaya politik yang moderat.

Pemimpin DPW NTB dan DPD Gelora Lombok Timur sebenarnya bukan salah arah tapi gak ada arah, mondar mandir seakan mengalami dilirium gangguan kesadaran. Kultur politik kita harus dirubah supaya partai tidak mengalami arogansi dengan merevitalisasi narasi dan etika politik.

Dalam arah baru kita dicanangkan dengan konsepsi kolektif kolegial dengan mengedepankan musyawarah mufakat itu konsesionalnya. Arah baru bukan sekedar perkumpulan atau tempat kongko-kongko baru melainkan arah baru merupakan pemikiran baru tentang bagaimana menjadikan negara Indonesia menjadi bagian dari kepemimpinan dunia.

Kesalahpahaman pemimpin dalam menafsirkan konsepsi kolektif kolegial itu akan melahirkan arogansi kekuasaan, fasisme, feodalisme kemudian akan melahirkan tirani dengan mengatasnamakan hak prerogatif.

Kolektif kolegial merupakan permainan elite, relasi antara komparasi menimbulkan narasi yang kuat mengedepankan kolaborasi kemudian akan melahirkan aksi yang nyata, transparan dan jika ditelisik menjadi lebih elegan dan tentu tidak menjadi delik.

Kultur politik yang feodal, oligarki secara eksplisit akan ada masa di mana kita disuguhkan dengan tukar tambah ‘kolong meja’ terjadi. proses itu akan melahirkan tirani. diskriminasi dan marginalisasi menjadi hukum kausalitasnya.

Ketidak-terarahan ini membuat grafik politik internal menjadi dinamis, tidak searah, tidak ada kesepakan bersama menuju telos/yang di depan, dengan kata lain tidak terjadinya interaksi, tidak ada intelektual kolektif menurut Bordeu.

“Langit kita terlalu tinggi tapi kita terbang terlalu rendah. Perjalanan kita masih panjang”.

*Penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan Generasi  Muda Partai Gelora DPD Lombok Timur

Editor: Ibrahim Bram Abdollah

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *