Bedah Buku Hikayat Si Induk Bumbu

Bedah Buku Hikayat Si Induk BumbuReviewed by adminon.This Is Article AboutBedah Buku Hikayat Si Induk BumbuJakarta-Pemerintah membuka 2018 dengan mengakui sejumlah industri berbasis kimia Indonesia kelimpungan dan nyaris gagal memenuhi pesanan konsumen luar negeri selama 2017. Sejumlah industri juga gagal tumbuh. Kata kunci kondisi itu adalah garam. Banyak pihak tidak mengerti mengapa Indonesia bermasalah dengan garam. Hampir setiap orang tidak menemukan alasan Indonesia bisa mengalami kelangkaan garam seperti terjadi pada […]
Foto : Dari kiri kanan, Prof Misri, Faisal Basri, Daniel, Ir M Abduh

Jakarta-Pemerintah membuka 2018 dengan mengakui sejumlah industri berbasis kimia Indonesia kelimpungan dan nyaris gagal memenuhi pesanan konsumen luar negeri selama 2017. Sejumlah industri juga gagal tumbuh. Kata kunci kondisi itu adalah garam.

Banyak pihak tidak mengerti mengapa Indonesia bermasalah dengan garam. Hampir setiap orang tidak menemukan alasan Indonesia bisa mengalami kelangkaan garam seperti terjadi pada 2017. Pembahasan soal garam berkembang ke mana-mana. Sering kali pendapat yang dikemukakan, termasuk oleh beberapa orang terkenal di Indonesia, tidak menunjukkan akar masalah apalagi solusinya.

Fakta dan kondisi itu terungkap dalam bedah buku “Hikayat Si Induk Bumbu, Jalan Panjang Swasembada Garam”. Buku yang diterbitkan Forum Diskusi Ekonomi Politik bersama Kepustakaan Populer Gramedia itu membahas seluk beluk garam di Indonesia dari pendekatan sejarah, kimia, hingga industri, dan kebijakan.

Buku ini antara lain mengungkap, luas laut bukan faktor utama produksi garam. Sejumlah negara yang masuk daftar 10 besar produsen garam juga sekaligus tercatat dalam daftar 10 besar importir garam. Bahkan, ada negara negara pantai pendek bisa tercatat sebagai pedagang garam terbesar di Bumi.

Buku ini juga membahas apa sebenarnya yang disebut garam. Bagi banyak orang, garam memang dianggap penyedap masakan belaka. Padahal, garam juga bahan baku utama aneka produk industri.

Sayangnya, evolusi penggunaan garam di Indonesia belum diikuti perubahan proses produksinya. Nyaris tidak ada perubahan fundamental dalam cara pembuatan garam di negeri ini. Petani garam mengalirkan air ke ladang lalu mengandalkan panas matahari untuk menguapkan air laut yang akan membentuk kristal garam. Cara yang sudah dipakai lebih dari 500 tahun.

Cara itu membuat garam Indonesia rendah secara kualitas dan kuantitas lalu kalah saing dari garam luar negeri. Selama ratusan tahun terakhir, memang metode produksi garam di banyak negara sudah berubah drastis. Kualitas garam dalam negeri sama sekali belum bisa memenuhi standard kebutuhan industri. Cara produksi yang nyaris tanpa teknologi menjadi penyebab utama.

Padahal, gabungan industri terkait garam menyumbangkan produk domestik bruto senilai Rp 740,3 triliun dan menyediakan lapangan kerja untuk lebih dari satu juta orang.

Sayang, isu garam lebih kerap dibahas sampai menjauhi inti masalahnya. Alih-alih menyelesaikan, pembahasan soal garam kerap malah membuat masalah tambah rumit.

Fakta yang diungkap pemerintah soal kegagalan pada 2017 seharusnya menjadi pelajaran banyak pihak soal garam ini. Kebutuhan garam untuk aneka hal menjadi salah satu bahasan dalam buku ini.

Buku ini juga membahas keinginan Indonesia berswasembada garam. Ambisi itu butuh kerja keras dan fokus agar terwujud. Penggunaan teknologi tidak bisa dihindari. Penggunaan teknologi pada skala produksi yang besar bukan hanya dapat menurunkan biaya produksi karena efisiensi. Penggunaan teknologi juga akan meningkatkan mutu garam yang diperoleh. Di sisi lain, penggunaan teknologi akan membuka peluang produksi samping atau turunan dari pengolahan garam. Dengan demikian nilai keekonomian akan meningkat.