Detik NTB

Berita Nusa Tenggara Barat

Dialog

NTB Pasca TGB akan ke Mana?

MATARAM – DPD Satuan Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila Nusa Tenggara Barat (Sapma PP NTB) gelar Coffee Night : NTB Pasca TGB, Akan Kemana Rabu (25/10/2017) malam di Move On Cafe N Resto Jalan Pendidikan Mataram. Acara yang berakhir pukul 23.00 itu diselenggarakan atas inisiasi Muhammad Isnani sebagai sekretaris Sapma PP NTB.

Dalam kopi malam tersebut hadir lima pembicara diantaranya Ketua Sapma PP NTB Lalu Wirahman, Wakil Ketua DPRD Lombok Barat Sulhan Muhlis Ibrahim, dosen ekonomi syariah Dr. Ridwan Masud, Direktur Ekekutif Indonesia Visi Indonesia Rusdiansyah dan perwakilan DPD I KNPI NTB Ahmad Yani.

Pantauan detikntb.com dalam diskusi yang berlangsung malam itu pembicara pertama Dr. Ridwan Masud mengawali pembicaran setelah dibuka secara resmi oleh moderator Malik Abdurrahman, mengupas tentang capaian TGB dalam sektor perbankan, Dosen ekonomi UIN Mataram itu mengatakan bahwa perbankan di NTB khususnya Bank NTB selalu untung setiap tahunnya, dari tahun 2016 hingga 2017 meningkat.

“Alhamdulillah Bank NTB trendnya cukup bagus, sebelumnya aset bank NTB ditahun 2016 bisa dicek nanti ya, 8.3 triliun asetnya pertahun 2016, pada tahun 2017 asetnya 9.8 triliun naik sebesar sekitar 13.2% aset bank NTB dibanding dengan bank-bank lain pertumbuhannya tidak sampai 10% “, bebernya santai.

Sementara Rusdiansyah lebih kepada mengajak pemuda dan mahasiswa berpikir kritis dan tidak diam dalam melihat fenomena yang terjadi di NTB. Bahwa NTB, katanya mengalami banyak masalah diantaranya persoalan agraria, hutan gundul, pertambangan liar serta seringnya perang antar kampung dan yang terbaru penjualan Saham Newmont yang sulit di cerna oleh kita menjadi tolak ukur kegagalan TGB dalam memimpin NTB, “bahwa jangan sampai masyarakat menilai kehadiran Islamic Center dan pariwisata halal menjadi tolak ukur keberhasilan TGB dalam memimpin NTB”. Terangnya di hadapan forum.

Lebih lanjut, Magister Hukum Universitas Pancasila itu mengatakan bahwa keberhasilan sebuah program pemerintah harus menyentuh segala sektor baik pada tingkat keamanan maupun sektor pembangunan lainnya yang langsung dirasakan oleh masyarakat.

Sementara pembicara ketiga Lalu Wirahman menyampaikan banyak keberhasilan TGB dalam memimpin NTB 9 tahun terakhir, ia berharap calon yang pengganti TGB harus punya kepiawian, “Kepiawian harus menjadi calon pengganti TGB juga kepedulian harus menjadi yang utama”. Harapnya.

Ia juga berharap bahwa calon pengganti TGB harus mampu menyatukan semua elemen baik dari kalangan bawah maupun kalangan atas, “Gubernur yang akan datang bukan menjadi milik satu kelompom saja harus menjadi milik semua kelompok”. Harapnya lagi.

Pembicara keempat datang dari Wakil Ketua DPRD Lombok Barat Sulhan Muhlis Ibrahim, menyorot tentang mahalnya berdemokrasi di indonesia khusunya di NTB, ia menyampaikan bahwa berdemokrasi itu tidak harus mahal, “TGB dikatakan sukses harus menjamin demokrasi itu murah bukan menjadi mahal sehingga menjadi ruang bagi generasi untuk berekspresi”, katanya.

Lebih lanjut, politisi PKB Lombok Barat ini menyampaikan bahwa untuk mengukur keberhasilan pembangunan juga harus menggunakan varibel IPM, variabelnya, katanya majunya sebuah pendidikan. Ia berharap kepada calon Gubenur dan calon wakil Gubernur untuk mengedepankan intelektual question bukan emosional question, ” juga calon itu harus berjejaring”, bebernya.

Pembicara terakhir lebih kepada menyemangati para peserta coffe night dengan bahasa-bahasa bijak sehingga mengundang tepuk tangan dari peserta diskusi sesekali menyentil politisi PKB yang tidak lain Kak Sulhan (Sapaan akrab Sulhan Muhlis Ibrahim). Ia juga menantang para calon Gubernur untuk berani tampil dengan ide dan gagasannya bukan malah menyembunyikan masalah,

“Saya melihat semua calon yang ada tidak berani tampil dengan ide dan gagasan”.

Politisi Nasdem ini mengistilahkan demokrasi sekarang sebagai demokrasi criminal dan di dalam demokrasi kriminal ini katanya, tidak bisa berandai-andai tentang pemimpin yang ideal bahwa produk yang dihasilkan oleh demokrasi kriminal di NTB stagnan.

“Dalam konteks demokrasi kriminal, saya mau istilahkan demokrasi kriminal saat ini, kita tidak bisa membayang-bayangkan atau berandai-andai tentang pemimpin yang ideal, ga ada. Produk demokrasi yang dihasilkan di NTB kualitasnya ya hanya segitu-segitu saja”. Bebernya dengan suara lantang.

Diakhir diskusi, moderator menyimpulkan berbagai ide dan ide dan gagasan dari kelima pembicara. Juga selanjutnya akan diadakan oleh Sapma PP NTB pada 28 Oktober 2017 dengan tema yang menarik. (ibl)

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *