Minggu Esok, Parade Rimpu Suku Mbojo Akan Dihelat di Kota Mataram

Minggu Esok, Parade Rimpu Suku Mbojo Akan Dihelat di Kota Mataram
Foto : Gambar spanduk dukungan dari Kecamatan Manggelewa Dompu untuk Festival Rimpu

Mataram,- Pagelaran parade rimpu dan festival seni dan budaya Mbojo akan helat, Minggu (29/07) pagi. Kegiatan yang bertajuk “Bima, Dompu dan Manggarai Dalam Bingkai Suku Mbojo” tersebut diinisiasi oleh Ikatan Mahasiswa Bima (IMBI) Mataram.

Menurut ketua panitia Parade Rimpu Sahrul Juliadin festival parade rimpu tersebut dalam rangka menghidupkan kembali budaya yang menjadi kebanggan suatu daerah termasuk suku Mbojo itu sendiri, sebab budaya adalah kekayaan yang tertinggi di sebuah daerah.

“Maka patut kami mengambil langkah strategis produktif untuk menunjukan kekayaan yang tersembunyi ini di ruang publik”, jelas ketua panitia Parade Rimpu Sahrul Juliadin pada detikntb.com, Minggu (28/07) pagi di Mataram.

Debu menjelaskan bahwa efek dari pagelaran tersebut sangat besar di antaranya mempererat hubungan silaturrahmi sesama suku maupun antar suku di tanah rantau.

Disisi lain jelasnya, di tengah gejolak bangsa yang begitu carut marut dengan propaganda dan provokatif maka benteng yang paling ampuh bagi kaum muda adalah menjiwai budaya dan sejarah titipan nenek moyang.

“Karena kami meyakini budaya satu identas dan martabat suatu daerah, kini kami bisa mengenali siapa diri kami dan sejauh mana pengaruh budaya akan persatuan Bima, Dompu dan Manggarai adalah satu kesatuan yang utuh yang tidak bisa dibantah oleh rekayasa sejarah kekinian”, tambah Debu yang juga putra asli Kecamatan Sanggar tersebut.

Sementara Ketua IMBI Mataram Muhammad Na’im menjelaskan kenapa Manggarai dimasukkan dalam tema kegiatan tersebut, menurutnya Mbojo masa itu berdiri menjulang tinggi di dataran Flores Bagian Barat dengan misi berdakwah. Keberadaan Mbojo di sana ditandai dengan adanya ASI Reo ASI Pota dan juga masyarakat di pesisir Manggarai dan sekitarnya memakai bahasa Mbojo dalam komunikasi sehari-hari.

“Ada banyak peninggalan nenek moyang kita sebagai bukti bahwa bima pernah menginjakkan kakinya di wilayah NTT”, jelas Na’im. Itulah yang mendasarinya untuk mengingat kembali bahwa keharusan untuk membangun dan perkuat nilai-nilai silaturrahmi.

“Saya secara pribadi menyampaikan kepada kepanitiaan yang dipelopori oleh saudara Sahrul Juliadin dengan gigih memperjuangkan agenda ini hingga selesai nantinya, karna ini bukan pekerjaan ringan bagi mahsiswa dan pemuda”, ucapnya.

Untuk diketahui bahwa kegiatan ini berlangsung selama empat hari dimulai hari Minggu, 29 Juli 2018 diawali dengan jalan kaki memakai rimpu (adat Mbojo) mulai dari halaman Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB menuju Taman Budaya NTB Kota Mataram pukul 08:00 wita dilanjutkan dengan beberapa mata lomba berakhir pada tanggal 02 Agustus 2018.

(IBA)