Pegiat Film Ikuti Workshop Perfilman di Universitas Hamzanwadi

Pegiat Film Ikuti Workshop Perfilman di Universitas HamzanwadiReviewed by adminon.This Is Article AboutPegiat Film Ikuti Workshop Perfilman di Universitas HamzanwadiLombok Timur (DetikNTB.com),- Workshop perfilman digelar di Auditorium Universitas Hamzanwadi, Pancor, Lombok Timur, Kamis, 25 Juli 2019. Kegiatan tersebut dihadiri ratusan peserta. Para peserta didominasi komunitas dan pegiat film lokal. Mereka antusias mengikuti pelatihan yang menarik dan kaya ilmu ini. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, dengan diisi lomba karya film dokumenter, serta nonton bareng […]

Lombok Timur (DetikNTB.com),- Workshop perfilman digelar di Auditorium Universitas Hamzanwadi, Pancor, Lombok Timur, Kamis, 25 Juli 2019. Kegiatan tersebut dihadiri ratusan peserta.

Para peserta didominasi komunitas dan pegiat film lokal. Mereka antusias mengikuti pelatihan yang menarik dan kaya ilmu ini.

Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, dengan diisi lomba karya film dokumenter, serta nonton bareng film dokumenter pahlawan nasional.

Workshop dihadiri pemateri Ming Muslimin dan beberapa mentor yang memiliki pengalaman di bidang perfilman.

“Kegiatan ini akan berlansgung selama tiga hari, hari pertama para mentor akan menyampaikan teori dasar produksi film dokumenter,” katanya.

Pada hari kedua nanti, para peserta akan mulai mempraktikan teori, dan langsung turun lapangan untuk belajar produksi film.

“Hari berikutnya editing dan pemutaran hasil produksi para peserta. Hasil produksi ini akan dilombakan juga,” jelasnya.

Salah seorang peserta, Irul dari Ma’had Darul Quran Wal Hadist, merasa senang dan bangga mengikuti workshop ini. Baginya pelatihan tersebut memiliki segudang khazanah keilmuan.

“Saya sangat senang mengikuti workshop ini, materinya sangat menarik dan tidak saya dapatkan di tempat lain, saya merasa beruntung bisa diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan ini,” ungkapnya.

Kepala Taman Budaya NTB, Baiq Rahmayati, yang dijumpai terpisah, menyampaikan penghargaannya pada para peserta yang antusias mengikuti kegiatan workshop tersebut.

“Pemerintah akan terus mendorong kegiatan semacam ini. Rangkaian kegiatan workshop dan pemutaran film dokumenter ini kami harap memiliki dampak positif bagi perkembangan kreativitas generasi muda serta menumbuhkan kesadaaran dan kecintaan terhadap jasa para pahlawan nasional,” kata Maya.Perubahan karakter khilafah zaman dahulu saat Muawiyah bin Abu Sofian mendeklarasikan khilafah menimbulkan protes, terutama di Madinah dan Makkah. “Kemudian muncul perang besar, korbanya tragis sekitar 700 penghapal Al-qur’an sahabat nabi tewas dibunuh,” jelasnya.

Ulil juga menjelaskan sejarah khilafah pasca Khulafaur Rasyidin yang dimulai dari Muawiyah bin Abu Sofian, kemudian diteruskan oleh anaknya Yazid bin Abu Sofian, hingga runtuhnya kekhilafan Utsmani.

“1923 khilafah politik berakhir. Kemudian ada dua gerakan khilafah di India dan di Arab, saat itu raja Saudi yang senang kejatuhan Turki Utsmani. Raja-raja Arab kepingin mengganti posisi khilafah. Kemudian di India, tapi pudar,” papar Ulil.

Setelah hancurnya khilafah muncul negara bangsa, dan bentuk lain khilafah yaitu khilafah berbasis persaudaraan agama, seperti Ahmadiyah. “Ini kekuasaan yang tidak mengenal batas bangsa negara,  seperti Katolik,” ucap Ulil.

Terakhir, khilafah rohani yaitu para pengikut tarekat. “Mereka mengenal pemimpin rohani yang menjadi pemandu rohani,” terangnya.

Khilafah politik, kata Ulil, bersebrangan karena bertabrakan dengan negara modern yang diakui bangsa-bangsa. Imbasnya, khilafah ditolak di semua negara modern. (Iba)