Kader IMM NTB Taklukkan 3 Pulau, Hingga Raih S2 di Jakarta

Kader IMM NTB Taklukkan 3 Pulau, Hingga Raih S2 di JakartaReviewed by adminon.This Is Article AboutKader IMM NTB Taklukkan 3 Pulau, Hingga Raih S2 di JakartaJakarta,- Kisah inspirasi seorang  pemuda yang bertugas sebagai muadzin (marbot) di salah satu masjid di tanah  pulau Jawa. Seorang pemuda ini menceritakan kisah sejarah menarik tentang perjalanan siklus kehidupannya di balik tapak tilas rekam jejak perjuangannya untuk berjihad dalam menuntut ilmu demi masa depan yang jernih , menjanjikan untuk kemaslahatan umat dan bangsa yang lebih […]
Foto: Suriadi Ardiansyah,.S.Pd. M.Pd bersama keluarga yang menghadiri wisuda pascasarjananya, Sabtu (22/12) di Jakarta

Jakarta,- Kisah inspirasi seorang  pemuda yang bertugas sebagai muadzin (marbot) di salah satu masjid di tanah  pulau Jawa. Seorang pemuda ini menceritakan kisah sejarah menarik tentang perjalanan siklus kehidupannya di balik tapak tilas rekam jejak perjuangannya untuk berjihad dalam menuntut ilmu demi masa depan yang jernih , menjanjikan untuk kemaslahatan umat dan bangsa yang lebih berkemajuan.

Sejarah menarik di tiga  Pulau yang mampu ditaklukan oleh sang pemuda ini yakni pulau Sulawesi, Lombok dan Jawa. Perjalanan  hidup seorang diri yang latar belakang dari ekonomi sederhana dan dibesarkan dari keluarga petani hingga mampu  meraih gelar Magister Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (Pendidikan IPS) dengan Indeks Prestasi kumulatif (IPK) 3.68 predikat sangat memuaskan dan  telah diwisudakan pada, Sabtu 22 Desember 2018 di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Jakarta.

Adalah Suriadi Ardiansyah,.S.Pd. M.Pd nama lengkapnya, dia merupakan anak kampung yang berasal dari Desa Bolo – Madapangga Bima NTB, Putra ke-2 dari pasangan Bapak Abdullah Ahmad dan Ibu Fatimah Abdullah. Radit sapaannya, dikenal dengan sosok seorang pemuda pendiam , sabar tapi pemberani, kritis,dan rajin beribadah baik dalam  hal belajar dan menekuni dunia pendidikan.

“Maka  untuk itu  kita harus menjalankan misi kehidupan ini dengan renungan, berfikir tajam dan berjiwa besar untuk merubah diri ke arah yang lebih baik,” motivasinya seperti releas yang diterima media ini, Minggu (23/12) setelah mengutip isi kandungan Al-Qur’an surah Ar-Ra’d Ayat 11 tentang perubahan hidup.

Wisuda pascasarjana Uhamka Suriadi Ardiansyah bersama keluarga

Menurutnya, pendidikan merupakan senjata paling kuat untuk merubah kehidupan manusia yang lebih sejahtera. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin turun angka ketergantungan pada orang lain.

Dari kisahnya, Radit menceritakan tentang hidupnya di Makassar menjadi seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Kota Daeng itu, dengan tekad yang kuat dengan berapi-api selama sembilan tahun bermodal haqqul yaqin.

“Jadi, hidup sebagai marbot (muadzin) di masjid Al-Aqsa kota Makassar dan tukang pembersih halaman rumah orang dan pemelihara burung merupakan pilihan hidup  pada waktu itu yang penting halal,” kisahnya, namun kandas karena keterbatasan ekonomi.

Setelah beberapa tahun di Makassar, Diapun mendaftar di Kampus Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) tahun 2010 dengan menga,bil jurusan Pendidikan Kewarganegaraan.  Selama menjadi mahasiswa UMMAT, dia aktif berbagai organisasi baik interen maupun ekternal. “Alhamdulillah selama perjuangan kuliah untuk menuntut ilmu di kampus UMMat, bisa selesai dengan tepat waktu  dan sesuai dengan target,” terangnya.

Pasca study di Mataram, dia melanjutkan untuk hijrah di Jakarta dan mendaftar sebagai mahasiswa pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Jakarta. Selama study di Jakarta, Radit lebih memilih tinggal di masjid dan bertugas sebagai Muadzin (marbot) karena sudah berpengalaman tinggal di beberapa masjid di daerah rantaun sebelumnya, selain sebagai mahasiswa ia aktif menjadi guru pendidikan kewarganegaraan SMP dan SMK  Sumpah Pemuda di Jakarta.

“Hidup adalah perjuangan, maka taklukan dunia ini selama nyawa kita masih melekat pada jasad,” Pesan moral kandidat Dosen/Staf Pengajar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini. (Iba)