Ikadin Kota Mataram Gelar Dialog Khilafah vs Nation State

Ikadin Kota Mataram Gelar Dialog Khilafah vs Nation StateReviewed by adminon.This Is Article AboutIkadin Kota Mataram Gelar Dialog Khilafah vs Nation StateMataram (DetikNTB.com),- Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Kota Mataram menggelar dialog terbuka bertema khilafah vs nation state di Mataram, Kamis, 25 Juli 2019. Hadir dalam dialog Cendikiawan Muslim Indonesia, Ulil Abshar Abdalla, pihak dari Ahmadiyah, Hizbut Tahrir Indonesia, Nahdlatul Ulama dan berbagai kalangan lintas agama. Ketua Ikadin Kota Mataram, Irpan Suriadiata, mengatakan […]

Mataram (DetikNTB.com),- Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Kota Mataram menggelar dialog terbuka bertema khilafah vs nation state di Mataram, Kamis, 25 Juli 2019.

Hadir dalam dialog Cendikiawan Muslim Indonesia, Ulil Abshar Abdalla, pihak dari Ahmadiyah, Hizbut Tahrir Indonesia, Nahdlatul Ulama dan berbagai kalangan lintas agama.

Ketua Ikadin Kota Mataram, Irpan Suriadiata, mengatakan dialog terbuka ini merupakan bentuk kontribusi Ikadin untuk memberikan keilmuan tentang paham-paham yang ada di Indonesia.

“Ikadin sebagai organisasi advokat ingin berikan kontribusi melalui kegiatan diskusi. Sampai saat ini di negara muslim dan non muslim berkembang dan tidak bergesekan,” ucapnya.

Dia mengatakan, diskusi ini bukan untuk mempertentangkan suatu paham atau ideologi, tapi untuk mengetahui lebih dekat terhadap paham atau ideologi tersebut.

Hal senada diungkap Ketua DPD Ikadin NTB, Suryahadi. Dalam sambutannya dia menjelaskan diskusi bukan membenturkan antar keyakinan.

“Diskusi bukan untuk membenturkan, tapi untuk ilmu pengetahuan,” tandasnya.

Mubaligh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), H. Saleh Ahmadi Mbsy, menjabarkan tentang Ahmadiyah. Dia menjelaskan apa yang selama ini ditakuti masyarakat adalah keliru, karena Ahmadiyah menurutnya, turut membela Islam.

“Semua fitrah manusia siapapun dia sejatinya memerlukan kasih sayang. Ini prinsipnya khilafah yang kita tawarkan lahir dari pohon rindang ini. Khilafah yang kita nikmati tidak menjadi momok,” tuturnya.

Dia menawarkan khilafah Ahmadiyah yang menurutnya tanpa batas.

“Khilafah yang kami Ahmadiyah yakini, pertama mampu menembus peradaban umat manusia. Janji Allah untuk orang beriman dan melakukan amal saleh,” terangnya.

Dia menjelaskan khilafah pertama Ahmadiyah pada 1889 di Qadian, India, dengan khilafah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. “Mirza konsen membela Islam saat Islam diserang dari berbagai penjuru. Aktif membela diri dari belenggu penjajah,” paparnya.

Cendikiawan Muslim Indonesia, Ulil Abshar Abdalla, dalam pemaparannya menjelaskan secara garis besar ada tiga jenis khilafah, ketiganya adalah khilafah politik, khilafah keagamaan dan khilafah rohani. Namun dalam Islam yang dominan katanya, adalah khilafah politik atau yang diistilahkan khilafah sia-sia.

“Dalam Islam yang dominan khilafah sia-sia atau khilafah politik. Khilafah sia-sia berlangsung lama dimulai wafatnya Rasulullah sampai hancurnya khilafah di Turki,” ucapnya.