Gempa dan Titik Balik Spiritualitas

Gempa dan Titik Balik SpiritualitasReviewed by adminon.This Is Article AboutGempa dan Titik Balik SpiritualitasMataram,- Gempa yang bertubi-tubi menimpa Pulau Lombok dan Sumbawa, menjadi tema diskusi KAiL ILMU, Rabu 5 September 2018 di Mataram. Forum diskusi KAiL ILMU digagas oleh sejumlah alumni muda Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang tergabung dalam Majelis Wilayah Korps Alumni HMI (MW KAHMI) Provinsi Nusa Tenggara Barat. Forum diskusi ini direncanakan akan digelar setiap bulan […]
Foto : Forum diskusi KAiL ILMU digagas oleh sejumlah alumni muda Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang tergabung dalam Majelis Wilayah Korps Alumni HMI (MW KAHMI) Provinsi Nusa Tenggara Barat

Mataram,- Gempa yang bertubi-tubi menimpa Pulau Lombok dan Sumbawa, menjadi tema diskusi KAiL ILMU, Rabu 5 September 2018 di Mataram. Forum diskusi KAiL ILMU digagas oleh sejumlah alumni muda Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang tergabung dalam Majelis Wilayah Korps Alumni HMI (MW KAHMI) Provinsi Nusa Tenggara Barat. Forum diskusi ini direncanakan akan digelar setiap bulan dengan mengambil tema yang sedang aktual di masyarakat.

Dalam diskusi perdana kali ini tema yang diangkat “Gempa dan Titik Balik Spiritualitas” dengan menghadirkan nara sumber antara lain, Dr. Lalu Sirojul Hadi, M.Pd., M. Syafril, S.Pd., M.Pd, Muhtar Sakra Mukti, SP., M.Sc., Suhardi Soud, SE., dan Ahmad Zuhairi, SH., MH.

Tumbuhkan Sikap Kritis

Dalam uraiannya, Sirojul Hadi, menekankan, gempa menjadi bukti bahwa tidak ada instrumen apapun dari manusia yang mampu membatasi dan menepis kehendak Alloh SWT. Sejauh yang bisa dilakukan manusia adalah memprediksi. Dan prediksi manusia, bisa benar. Bisa juga salah. Hal inilah yang menuntut kewajiban manusia untuk selalu beristigfar.

Di saat yang bersamaan, dia berpandangan, fenomena gempa di Lombok dan Sumbawa, telah menumbuhkan kreasi dan sikap kritis manusia. Berpikir kritis tentang apa yang terjadi. Sebab selama ini, menurut pengamatannya, seringkali manusia skeptis dengan kejadian atau peristiwa alam.

Dia berkeyakinan, gempa bukanlah sebuah azab bagi orang orang yang beriman. NTB mayoritas pemeluk agama Islam. “Tidak boleh kita mengatakan itu sebagai sebuah azab apalagi dikaitkan dengan politik. Atau menarik narik dalam konteks yang tidak relevan,” katanya.

Sirojul juga melihat, gempa telah menghadirkan empati dan simpati sesama manusia dari berbagainpenjuru. Karena itu dia berharap, semangat empati antar sesama yang lahir pasca gempa bisa terus berlangsung sebagai nilai nilai dasar kemanusiaan.

Kosongnya Ilmu dari Agama

Sementara itu, Muhtar Sakra Mukti, menyatakan, sekali manusia merusak mata rantai alam ini, berarti sudah memotong hukum Alloh. Menurut analisisnya, seringkali ada kekosongan agama dalam ilmu pengetahuan. Kekosongan inilah yang sering menyebabkan manusia sulit mengambil hikmah.

Dalam kesempatan ini Muhtar juga memgungkapkan, ada beberapa hal yang ia langsung saksikan selama menjadi relawan korban gempa, bahwa di salah satu lokasi terdampak gempa beberapa bukit yang dijadikan lokasi pariwisata banyak yang rusak/longsor. Bahkan sejumlah jalur pendakian ke Gunung Rinjani banyak yang tertutup karena longsor.

Bisa jadi, katanya, fenomena itulah yang menjadi sebab adanya keinginan agar pariwisata tidak boleh terlepas dari kearifan lokal. Namun pertanyaannya, jika gempa dikaitkan dengan hal itu, apakah musibah itu  hanya di alami Pulau Lombok?

Muhtar mencatat, dengan adanya gempa, tidak ada lagi batas yang kaya dan miskin. Karena saat kejadian, semuanya lari mencari keselamatan. “Semua berada dalam titik yang sama. Dalam kondisi yang demikian tidak ada lagi status sosial,” katanya.

Konsep Geologi Dalam Al Qur’an

Narasumber lainnya, M. Syafril, mengungkapkan, konsep tentang geologi sesungguhnya sudah dijelaskan dalam Al Qur’an. Jauh sebelum teori-teori geologi modern yang kita kenal sekarang ini. Saat bicara tentang bumi dan gunung-gunung Al Qur’an antara lain menguraikannya dalam surat An-Nabba dan At-Tur.

Dikedua ayat tersebut Alloh SWT menyinggung soal bukit-bukit atau gunung-gunung yang berjalan dan digerakkan. Menurut Syafril, sebagaimana kajian geologi modern tanah yang kita pijak saat ini sesungguhnya  berada dalam posisi terapung. Mengapa, karena dibawah tanah yang kita pijak ini sangat cair. Jadi sangat masuk akal jika bukit dan gunung-gunung ini sesungguhnya terus bergerak. Sebagaimana dijelaskan dalam teori apung benua mengatakan bahwa bumi ini bergerak.

“Jadi sebenarnya beberapa konsep geologi, sudah ada dalam Al Quran. Alloh yang punya rahasia atas segala yang terjadi di alam semesta ini. Disitulah terdapat tanda tanda bagi mereka yang berakal. Yaitu orang memadukan pikiran dan firman Tuhan,” kata Syafril menekankan.

Tidak Hidup Individual

Sementara itu, menurut Suhardi Soud,
Gempa bisa dilihat dari banyak sisi. Semua sisi memungkinkan. Ada banyak hal menarik. Dalam perspektif kita bertetangga. Tidak pada tempatnya lagi hidup individual (aspek sosial). Selain itu, titik sentral di Lombok Utara. Tapi simpati dan empati mengalir dari seluruh Indonesia. Merekatkan. Di penyelenggara Pemilu dari seluruh Indonesia terus mengalir solidaritas. Kesatuan kita sebagai bangsa begitu erat. Dan semua kembali ke sisi spiritualitas. Kembali pada spiritualitas masing-masing.

Sedangkan, Ahmad Zuhairi, mengingatkan, apa yang kita tonjolkan selama ini adalah apa yang kita miliki secara material. Kita lupa bahwa konflik sebenarnya adalah karena konflik kemanusiaan. Hanya karena persoalan tanah hubungan keluarga menjadi retak. Karena itu bagaimana saat ini kita makin memperkuat hubungan interpersonal.

Editor : IBA