20 TON Bibit Jagung Gempita Diduga Oplosan

20 TON Bibit Jagung Gempita Diduga Oplosan
Foto : Bibit Jagung yang dibagi Gempita

Dompu-Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita) mengembangkan program perluasan areal tanam jagung di beberapa daerah yang dianggap bisa menjadi lumbung untuk memenuhi kebutuhan jagung nasional.

Tidak ketinggalan pula Kabupaten Dompu, dianggap sebagai daerah yang berhasil mengembangkan program jagung. Kementan tidak ragu-ragu mengucurkan bantuan bibit dan pupuk dalam jumlah besar. Namun sayangnya, harapan itu seperti pepesan kosong. Realitas di lapangan justru terindikasi banyak terjadi penyimpangan.

Aroma tidak sedap pada penyaluran bantuan ini bermula dari temuan bibit jagung yang diduga bibit oplosan dalam jumlah besar. Selain itu, ada pula indikasi adanya oknum-oknum dari Gempita yang melakukan pungutan liar pada para petani.

Ditemui detikNTB di rumahnya, di Desa Wawonduru Kecamatan Woja belum lama ini, Koordinator Daerah (Korda) Gempita Kabupaten Dompu, Drs. H. Muhammad Amin tidak memungkiri adanya indikasi-indikasi itu. Ia, mengungkapkan pada pendistribusian bibit jagung tahap pertama sebesar 99,9 Ton untuk lahan seluas 6666 Hektar, 20 Ton diantaranya diduga bibit oplosan.

“Ada 5,7 ton yang dikembalikan oleh petani, karena tidak berkualitas. Tapi sudah kami ganti” terang M. Amin

Menurutnya, jenis bibit yang diberikan tidak sesuai kebutuhan petani di Kabupaten Dompu. Petani berharap bisa mendapatkan jenis bibit Bisi 18 dan DK, namun yang didapatkan bibit jagung bima uri 20 yang tidak berkualitas dan diduga bibit oplosan.

Ia menjelaskan, pihaknya hanya bertugas mendistribusikan bibit saja. Untuk tender pengadaan bibit itu kewenangan Dinas Pertanian Provinsi NTB. “Mungkin tergesa-gesa karena tender, jadi bibitnya rusak” katanya.

Terkait indikasi pungli yang dilakukan oknum koordinator Gempita di tingkat kecamatan, M. Amin tidak menampiknya. Ia mengaku sudah memecat oknum nakal tersebut. Dan sepengetahuannya, berdasarkan laporan para petani, itu hanya terjadi di Kecamatan Pekat saja.

Program Kementan yang dimulai sejak 5 November 2017 ini sudah terbentuk 537 kelompok tani yang tersebar di Kecamatan Dompu, Pajo, Kempo dan Pekat yang akan mengelola lahan seluas 28.635 Hektar. Sementara untuk kecematan Woja, Kilo dan Manggelewa akan diusulkan secara bertahap. (51)